Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Kejutan Dari Papa


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


"Chiko, aku hamil."


"Hamil? Kenapa bisa begitu cepat, kita baru menikah 1 bulan dan kamu sudah menyatakan bahwa diri kamu?" tanya Chiko sambil bangkit dari tempat duduknya karena memang hari itu masih menunjukkan pukul 07.00 waktu setempat.


"Bukankah kita selalu melakukannya dengan sangat bersemangat dan bergairah?" Dinda tersenyum sambil berjalan ke arah Chiko dengan membawa hasil tes kehamilan yang menunjukkan garis 2.


Chiko tersenyum kemudian memeluk Dinda, rasanya ini menjadi momen yang paling bahagia kan setelah semalam tadi Chiko menerima pesan dari sang ayah yang mengatakan bahwa sang ayah menunggunya di perusahaan keluarga.


"Terima kasih, Dinda. Sepertinya kehamilan kamu ini membawa kebahagiaan yang berlimpah. Apa kamu tahu, semalam ayahku mengatakan jika dia ingin aku datang ke kantor ayahku?"


"Apa? Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar sekarang. Itu artinya kamu akan segera memiliki perusahaan keluarga kamu dan perusahaan yang sekarang sedang kamu bangun akan sepenuhnya menjadi hak kamu?" tanya Dinda penuh semangat.


"Benar sayang."


Dinda yang merasa sangat bahagia, kemudian menghujani Chiko dengan ciuman dan pagi itu berakhir dengan pergelutan panas mereka di atas ranjang.


...----------------...


Chiko terlihat bersemangat untuk menuju kantor ayahnya.


"Chiko, kenapa aku merasa bahwa wajahmu begitu bersinar dan dipenuhi dengan kebahagiaan?" tanya Dinda yang membantu merapikan dasi Chiko.


"Dinda, bagaimana bisa aku tidak merasa bahagia dan wajahku bersinar sangat terang beneran karena hari ini aku akan mendapatkan dua kebahagiaan di hari yang sama."


"Pertama, aku mendapat kabar bahwa Ayahku ingin berbicara sesuatu kepada aku. Aku yakin jika itu berkaitan dengan pengalihan perusahaan. Lalu, pagi hari saat aku membuka mata kamu memberikan aku kebahagiaan Dengan mengatakan bahwa kamu sudah hamil. Itu benar-benar membuat aku bahagia."


Dinda tersenyum kemudian memeluk Chiko.


"Sudah, hentikan. Jika kamu terus memelukku seperti ini aku tidak akan bisa pergi meninggalkan kamu karena rasa bahagia ini, aku jadi ingin berlama-lama dengan kamu di atas tempat tidur."


Dinda melepas pelukannya kemudian mencium sekilas bibir Chiko sebelum akhirnya dia mengantar kepergian Chiko sampai ke depan rumah.


Chiko memutuskan untuk memilih jalan pintas agar dia bisa segera sampai di kantor sang ayah. Sepertinya Chiko sudah tidak sabar untuk menyambut kebahagiaan yang akan menjadi pelengkap karena sebentar lagi dia bisa mengumumkan pernikahannya dengan Dinda kepada kedua orang tua nya.


"Papa?" ucap Chiko setelah sebelumnya Dia mengetuk pintu ruangan tempat di mana papanya berada dan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Chiko, sungguh benar-benar kejutan yang sangat menyenangkan karena kamu tiba lebih awal dari waktu yang sudah Papa tentukan."


Chiko tersenyum kemudian berjalan mendekati sang ayah dan duduk di kursi yang ada di meja kerja sang Ayah.


"Ya, kebetulan Chiko akan memantau beberapa perkembangan bisnis yang ada di sekitar sini, Jadi jika memutuskan untuk berangkat lebih awal agar jika tidak terlambat untuk pekerjaan selanjutnya."


"Hmm, Papa percaya memang kamu adalah orang yang sangat bekerja keras. Sayangnya hal itu membuat kamu terlena akan kehidupan dunia."


Chiko yang tadinya sangat bersemangat mendengar sang ayah memuji dirinya sebagai orang yang bekerja keras, langsung mengkerutkan dahinya ketika sang ayah mengatakan bahwa dia terlena pada kehidupan dunia.


"Apa maksud papa?" tanya Chiko.


"Chiko, setelah Papa pikir-pikir sepertinya kamu memang tidak layak untuk memimpin perusahaan keluarga."


"Tunggu, Apa maksud Papa dengan mengatakan seperti itu? Bukankah Papa mengundang aku untuk menyerahkan seluruh perusahaan keluarga agar berada di bawah kepemimpinanku?"


"Apa Kamu berpikir pertemuan kita ini akan membahas tentang pengalihan perusahaan sepenuhnya kepada kamu?" tanya Papa.


"Tentu saja, bintangnya apalagi yang akan kita bahas jika bukan karena Papa ingin memberikan seluruh perusahaan untuk aku kelola?"


"Apa? tapi kenapa?" tanya Chiko.


"Bagaimana bisa Papa mempercayakan pisahkan kepada seorang pria yang rela meninggalkan istri yang sudah menemaninya dari nol hingga ke tingkat kesuksesan teratas demi seorang wanita, hanya karena wanita itu terlihat lebih muda dan lebih menggoda,"


Deg !!


Chiko terasa mati kutu ketika mendengarkan Ayah berbicara perihal pernikahannya.


Tidak, tidak mungkin papa mengetahui jika aku Humaira sudah bercerai dan aku telah menikahi Dinda.


"Chiko, sampai kapan kamu akan bersandiwara? kamu pikir kami ini adalah orang tua bodoh sehingga kami tidak mengetahui tentang permainan yang sedang kamu lakukan?" tanya Papa.


"Tidak, Chiko justru tidak mengerti kenapa Papa mengatakan bahwa Chiko sedang melakukan sebuah permainan?"


"Chiko, seandainya saja kamu lebih bisa teliti saat kamu dan wanitamu menjalani resepsi di negara itu. Kamu akan mengetahui jika gedung tempat kamu melakukan resepsi adalah gedung milik sahabat papa, Tuan Roy."


Chiko memejamkan mata dan teringat tentang dirinya yang merasa janggal tentang nama yang tertera di gedung saat dia dan Dinda melakukan survei untuk melihat sejauh mana persiapan pernikahan mereka.

__ADS_1


"Papa benar-benar kecewa terhadap kamu Chiko, Jadi selama ini kamu hanya bersandiwara sebelum kamu berpisah dengan Humaira."


"Papa, aku dan Humaira berpisah secara baik-baik karena memang diantara kami sudah tidak ada kecocokan. Chiko tidak bisa menjalani bahtera rumah tangga jika memang diantara kami sudah tidak ada kecocokan."


"Oh benarkah? papa jadi penasaran Apa yang terjadi jika kamu tidak jatuh cinta denganmu wanita yang sekarang menjadi istri kamu. Apa kamu masih akan tetap bercerai Humaira?"


Deg !!


Pertanyaan Papa benar-benar menjadi boomerang bagi Chiko. Chiko terlihat gelagapan untuk menjawab pertanyaan dari Papa.


"Kamu pikir mama dan papa akan diam saja saat kami mengetahui gelagat yang tidak biasa, yang selalu kamu tunjukkan kepada kamu? kami sudah tahu bahkan sebelum kamu dan Humaira resmi berpisah. Kami hanya diam untuk menemukan motif di balik kamu melakukan itu semua."


"Papa dek Mama sudah memutuskan bahwa perusahaan tidak akan menjadi hak milik kamu. Mulai sekarang, papa akan mencabut semua investasi papa yang berada di perusahaan kamu dan menarik semua investor yang memang apa undang untuk melakukan investasi kepada perusahaan kamu."


"Loh, tidak bisa begitu dong Pa. Itu artinya Papa mematikan perusahaan Chiko secara terang-terangan."


"Bukankah itu bagus? biarkan Papa melihat apakah wanita yang sangat kamu cintai itu sama seperti Humaira. Jika memang wanita itu mampu menemani kamu dari nol hingga mencapai kesuksesan yang sama seperti yang kamu dapatkan sekarang. Papa akan memberikan perusahaan keluarga kepada kamu."


"Papa, Papa tidak bisa menyamakan Dinda dengan Humaira."


"Ah, jadi namanya Dinda,"


"Papa, aku dan Humaira memulai kehidupan rumah tangga saat usia kami benar-benar pas untuk memulai karir hingga kesuksesan dapat kita. Aku dan Dinda berbeda. Dinda tidak mungkin bisa seperti Humaira."


"Tidak, keputusan Papa sudah bulat. Jika memang kamu menginginkan seluruh perusahaan Papa menjadi milik kamu. Kamu harus membuktikan bahwa kamu dan Dinda benar-benar menjalani kehidupan kamu dari nol dan kembali meraih kesuksesan."


"Papa rasa tidak akan lama bagi seseorang yang berpengalaman di bidangnya, seperti kamu. Untuk kembali meraih kesuksesan dalam sekejap mata."


"Papa?"


"Papa rasa percakapannya antara kita sudah berakhir, kamu bisa kembali ke perusahaan kamu menangani masalah yang mungkin sudah dimulai sejak detik ini. Papa harus kembali pulang untuk menyenangkan dua malaikat kecil yang ditinggal oleh sang ayah karena mengejar kebahagiaannya sendiri."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2