
Chiko benar-benar menjalankan perannya dengan baik. Walaupun sebenarnya Chiko melakukan itu hanya menuruti permintaan terakhir dari Humaira. Namun Humaira merasa senang karena Chiko melakukannya dengan penuh kasih sayang dan tanpa tekanan sedikitpun.
Sikapnya yang lembut sama seperti saat pertama kali Humaira dan Chiko mengarungi bahtera rumah tangga dan menyambut kelahiran buah hati mereka yang pertama.
Hari ini, Chiko mengajak kedua putrinya untuk bermain ke rumah nenek dan kakek.
Humaira sengaja tidak ikut untuk meninggalkan beberapa catatan yang mungkin akan berguna bagi Chiko dan kedua buah hatinya di masa depan.
Humaira sudah menyelesaikan beberapa catatan yang dia tinggalkan untuk Aisyah dan Almira.
Humaira masuk ke dalam kamar dan mengambil sebuah album foto yang mana di dalamnya terdapat foto-foto dirinya dan Chiko, mulai dari awal berkenalan hingga memiliki dua orang putri.
Humaira. Membuka satu persatu foto itu dan memori kenangan indah berputar di dalam pikirannya seperti sebuah film.
Humaira kemudian mengambil secarik kertas dan menata ulang foto-foto tersebut.
Satu foto dia letakkan bersama dengan satu catatan.
"Tidak tahu sampai kapan umur seseorang, Aku harap walaupun takdir pernikahan ini akan berpisah dalam waktu yang sudah ditentukan, Cinta Dan kenangan ini akan tetap hidup dan diingat ketika membuka foto dan catatan yang akan aku tuliskan," lirih Humaira.
Humaira mulai fokus mengambil foto yang cocok dengan kata-kata yang akan dia tulis.
Rumah tangga bisa disebut sebagai media untuk sepasang kekasih dalam menjalankan misi untuk meraih cita-cita. Jika tak ada kecocokan, tak mungkin dua orang manusia bisa bersatu dalam rumah.
Itu adalah kata pertama yang dituliskan Humaira pada sebuah album foto yang baru saja dia beli beberapa hari yang lalu.
Humaira rupanya sudah memikirkan akan melakukan ini. Dia ingin menata ulang foto-foto kenangan dirinya bersama dengan Chiko, dan memberinya sedikit kata-kata untuk mengingatkan setiap momen yang pernah mereka lalui.
Humaira menuliskan kata-kata bijak istri untuk suami bisa berisi pujian atau ungkapan cinta sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan yang telah dilakukan.
Dengan begitu, Humaira berharap hubungan akan semakin terasa nyaman karena diliputi rasa bahagia. Media perjuangan yang dinamakan rumah tangga itu pun akan semakin potensial untuk dijadikan ruang diskusi untuk menyusun rencana masa depan. Walaupun rumah tangga mereka akhirnya akan berpisah.
...Bisakah aku pergi...
...ke mana pun kamu pergi?...
...Bisakah kita selalu...
...sedekat ini selamanya?...
Ini adalah kata yang dijejerkan pada sebuah foto Humaira dengan Chiko yang memegang tangannya.
...*Aku sangat mencintaimu...
...hingga aku bisa gemetaran...
__ADS_1
...ketakutan setiap kali aku...
...membayangkan menjalani...
...sisa hidupku tanpa berada di sisimu*....
Kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan foto saat Humaira bersandar di bahu Chiko.
...Kita telah melalui begitu banyak hal dan aku tidak akan ingin melewatinya dengan orang lain selain kamu....
"Aku melihat kamu sempurna, jadi aku mencintaimu. Lalu aku melihat bahwa kamu tidak sempurna dan aku bahkan lebih mencintaimu," lirih Humaira saat dia teringat tentang kata-kata yang diucapkan Chiko ketika mereka baru saja resmi menjadi pasangan suami istri.
Flashback...
Chiko dan Humaira baru saja selesai melakukan ijab kabul dan juga resepsi.
Mereka sedang berada di balkon villa, dah saling bertukar kata-kata romantis untuk menunjukkan betapa mereka sangat bahagia karena sekarang sudah menjadi milik satu sama lain.
"Aku mencintaimu bukan hanya karena dirimu apa adanya, tetapi juga diriku apa adanya ketika aku bersamamu," ucap Chiko
"Kamu adalah kedamaian yang kuinginkan di dunia yang kacau ini," imbuhnya yang membuat Humaira bahagia.
"Cintamu adalah hal spesial yang membuatku bangun di pagi hari. Aku tidak bisa hidup tanpanya."
"Terima kasih, sayangku, karena selalu membuatku merasa seperti wanita paling cantik di dunia," ucap Humaira sambil memegang pipi Chiko.
"Ketika kita berdua bersama, tidak ada hal lain di dunia ini yang penting bagiku. Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah bersamamu dan mengetahui bahwa aku milikmu selamanya." Ucap Chiko setelah dia mencium kening Humaira.
"Kamu adalah sahabat dan kekasihku, dan aku tidak tahu sisi mana darimu yang paling aku nikmati. Aku menghargai setiap sisi, sama seperti aku telah menghargai hidup kita bersama."
"Ketika aku mengatakan aku mencintaimu, aku tidak mengatakannya dengan santai. Aku mengatakannya untuk mengingatkanmu bahwa kamu adalah segalanya bagiku, dan hal terbaik yang pernah terjadi padaku dalam hidup."
1"Suatu kebanggaan bisa memelukmu seperti ini dan dengan senang hati menyebutmu milikku," lirih Humaira.
Mereka kemudian menghabiskan malam seperti yang biasa dilakukan oleh pasangan yang baru saja menikah.
Kata kata di bawah ini seolah-olah batin mereka yang sedang berbicara untuk menggambarkan ragam mereka yang bersatu.
Aku selalu dipenuhi dengan rasa suka cita dan kedamaian yang mendalam setiap kali memikirkan fakta bahwa kita akan menghabiskan sisa hidup kita dalam pelukan satu sama lain.
Kamu adalah tempat favoritku untuk pergi ketika pikiranku mencari kedamaian.
Kamu bagian dari diriku yang selalu aku butuhkan.
Jika aku harus memilih antara bernapas dan mencintaimu, aku akan menggunakan napas terakhir untuk memberitahumu aku mencintaimu.
__ADS_1
Satu-satunya hal sempurna yang dapat dibanggakan oleh alam semesta ini adalah cinta manis yang luar biasa yang kamu dan aku bagikan.
Hatiku adalah yang paling beruntung dan paling bahagia di alam semesta karena kamu hidup di dalamnya. Tidak ada kata yang dapat menjelaskan betapa aku bersyukur menjadi penerima cinta dan dukunganmu.
Beberapa orang akan mencintaimu apa adanya, sementara yang lain memakai topeng yang kamu kenakan. Terima kasih karena masih mencintaiku bahkan ketika aku melepas topengku
...Flashback off......
...----------------...
Dalam setiap rumah, perlu ada rasa cinta untuk menjaga keutuhannya. Rasa cinta itu bisa kalian wujudkan dalam sikap, perhatian, atau hal sederhana seperti mengingat kembali kata-kata yang pernah terucap.
Sayangnya Chiko dan Humaira tidak mempunyai waktu untuk mengingat kembali tentang kata-kata yang dulu sempat membuat keduanya merasa sangat bahagia.
"Terima kasih sudah jadi pemimpin. Memimpin kami, keluarga kecil kita. Terima kasih kamu selalu memberikan yang terbaik untuk membahagiakanku dan anak-anakmu."
Humaira memejamkan mata saat dia mengingat kata-kata tentang ucapan terima kasih yang dia ucapkan kemarin.
Humaira tersenyum kemudian melanjutkan aktivitasnya yang menata foto dan juga menempatkan beberapa kalimat di sampingnya.
...Kita semua agak aneh,...
...hidup ini sedikit aneh....
...Ketika kita menemukan seseorang...
...yang keanehannya cocok dengan kita,...
...kita bersatu dengan mereka dan jatuh ke dalam keanehan yang saling memuaskan, menyebutnya cinta, cinta sejati...
Sementara itu di sisi lain, Dinda tidak bisa menghabiskan malam dengan tenang karena dia sudah terbiasa melewati malam berada di dalam pelukan Chiko.
"Walaupun malam ini kamu tak bersamaku, tapi hatiku selalu dekat denganmu." Ucap Dinda sambil melihat foto Chiko yang terpajang di dalam kamarnya.
"Setiap hari aku menemukan bahwa aku semakin mencintaimu, dan di alam semesta tanpa batas ini aku akan mencintaimu sampai akhir."
"Aku suka bagaimana kita kacau tapi romantis, berapa banyak masalah yang datang dan pergi tetapi kita tetap stabil."
"Sebesar apapun uang yang kamu miliki dari bekerja. Tetap saja harta terbesar yang kau jaga adalah keluarga. Aku sudah tidak sabar untuk menantikan hari di mana status kita akan berubah menjadi keluarga." Dinda tersenyum kemudian menarik selimut dan mematikan lampu untuk mencoba tidur di malam kedua tanpa kehadiran Chiko.
Ketika aku beranjak ke peraduan tidur, aku memikirkanmu, kurang tidur karena memikirkanmu, dan bangun tidur juga memikirkanmu. Aku akan terus memikirkanmu selagi kau tak ada lagi di sisiku. Aku sudah tidak sabar menantikan 28 hari lagi menuju hari bahagia aku dan kamu.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...