Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Kenapa Jadi Begini?


__ADS_3

Perdebatan yang tidak mempunyai akhir, membuat Chiko memilih untuk pergi.


"Argh, kenapa jadi begini..."


Chiko kemudian memutuskan kembali ke rumah lama nya, masuk ke dalam rumah itu membuat Chiko merasakan sesak di dalam dada nya.


Berulang kali Chiko menghela nafas panjang, setiap kaki melangkah, dia terus teringat dengan memori kebersamaan nya dengan Humaira dan anak anak.


"Humaira..." lirihnya.


"Ini benar-benar kacau, seharusnya kehidupanku tidak begini. Seharusnya aku bisa memperkirakan jika memang akan ada hal buruk yang terjadi padaku sehingga aku tidak akan sebangkrut ini dalam waktu sekejap."


Sementara itu, Humaira merasa sangat bahagia karena dia sudah kembali bersama dengan kedua buah hatinya.


"Terima kasih, Ayah. Ayah telah membawa kedua putri ku."


"Humaira, ayah sudah berusaha mencari kamu selama ini. Jadi ayah harap kamu akan mendapatkan kebahagiaan sebagai pengganti derita yang sudah kamu lalui. Kamu adalah wanita hebat sama seperti ibu kamu."


"Ibu?"


"Besok kita akan ke makam ibu."


Humaira tersenyum dan menganggukkan kepala sebelum dia mengajak kedua putrinya untuk melihat kamar baru mereka.


Setelah memastikan kedua putrinya tertidur, Humaira membawa album foto ke belakang rumah.


Di buka nya satu persatu album foto kenangan nya bersama dengan Chiko.


"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Holik yang membuat Humaira terkejut.


"Ayah?" refleks Humaira menoleh ke arah Holik yang tersenyum dan duduk di samping Humaira.


Holik mengambil album itu dan membukanya, ada perasaan sedih karena Holik tidak bisa hadir untuk menjadi saksi atas pernikahan Humaira.


"Jadi, apa kamu berencana untuk kembali pada mantan suami kamu itu?"


"Tidak."


"Kenapa? 10 tahun bersama pastilah banyak kenangan yang sudah kalian lalui bersama."


"Awalnya memang Aku menyesali atas apa yang terjadi, namun kemudian aku menyadari untuk apa aku berjuang sendiri sementara dia sudah terang-terangan menyakiti hati. Lagipula aku sudah mendapatkan separuh hatiku yang sudah hilang. Aku menemukan ayah. Juga sekarang aku bisa berkumpul kembali bersama dengan kedua putriku setelah Tuhan memberikan aku kesempatan kedua untuk tetap hidup di dunia ini."


"Bagus. Lebih baik kamu mulai menata diri dan menyiapkan untuk kebahagiaan yang akan datang setelah ini."

__ADS_1


Holik mengembalikan album itu kepada Humaira, Humaira kemudian meletakkan album itu ke dalam tong sampah yang memang sudah ada di hadapan Humaira.


Humaira membakar album kenangan yang sebenarnya dia buat untuk Ciko.


Bersama dengan terbakarnya semua album foto dan juga kenangan yang pernah kita lalui bersama, segala cinta dan perasaan yang pernah ada di hati ini untuk kita berdua juga ikut hilang.


Holik memegang bahu Humaira, seakan-akan ingin menyalurkan kekuatan kepada Humaira.


"Tidak ada yang bisa menyalahkan hati, jika memang takdir pernikahan hanya sampai pada usia 10 tahun."


"Ayah, Terima kasih untuk semuanya."


"Tidak, Humaira. Ayah lah yang harus berterima kasih kepada kamu karena kamu memilih untuk tidak kembali bersama dengan pria itu."


...----------------...


"Arfan, kenapa kamu membawa aku ke apartemen lamaku? Bukankah kamu berjanji akan membawa aku ke rumah orang tuamu dan kita akan segera melangsungkan pernikahan setelah aku bersedia memilih kamu daripada Chiko?" tanya Dinda yang heran saat mengetahui bahwa mobil yang mereka kendarai justru berhenti di apartemen milik Dinda yang lama.


"Setelah aku pikir-pikir rasanya aku tidak jadi untuk memperkenalkan kamu kepada kedua orang tuaku."


"Apa? tapi kenapa?"


"Arfan! kamu jangan macam-macam ya denganku. Ingat, kamu sudah berjanji akan bertanggung jawab."


"Dinda, Bukankah sudah dari awal aku mengatakan kepadamu, agar kamu memilih aku dan tidak lagi berhubungan dengan Chiko. Tapi kenyataannya justru kamu mengatakan bahwa aku tidak perlu bertanggung jawab atas kehamilan yang terjadi kepada kamu. Karena kamu lebih memilih untuk hidup bersama dengan Chiko daripada aku."


"Sebenernya kamu berwajah berapa?" tanya Arfan.


Dinda terdiam, dia sendiri sebenarnya mana tahu hal ini akan terjadi kepada hidupnya. Jika saja Chiko tidak jatuh miskin, mungkin Dinda tidak akan mengatakan bahwa sebenarnya dia lebih mencintai Arfan daripada Chiko.


Ya, Dinda berpura-pura dia mencintai Arfan agar dirinya bisa tetap hidup dalam kemewahan tanpa harus kembali bekerja.


"Turun," ucap Arfan.


"Arfan. Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan dengan mengatakan bahwa aku lebih mencintai Chiko daripada kamu. Kamu harus tahu jika sebenarnya aku sudah jatuh hati kepada kamu, hanya saja Aku masih menghargai Chiko yang menceraikan istrinya demi aku."


"Dinda, kamu mau turun sendiri atau aku yang akan menurunkan kamu?"


"Arfan, kamu tidak bisa menelantarkan aku dan juga bayi di dalam kandunganku. Ini adalah bayi kita."


"Dinda, kamu tahu bahwa sebenarnya aku menyukai kamu dan berniat untuk mengajak kamu kejenjang yang lebih serius dan membangun bahtera rumah tangga. Sayang nya aku takut jika ternyata aku diuji soal ekonomi dan, kamu akan meninggalkan aku seperti saat kamu dengan mudahnya meninggalkan siku saat dia sudah diambang kehancuran,"


Arfan kemudian turun dari mobilnya dan menarik paksa Dinda untuk keluar dari mobil juga.

__ADS_1


"Arfan, kamu tidak bisa melakukan ini. Arfan.."


Dinda berusaha menghentikan Arfan yang ingin meninggalkannya pergi, sayangnya seberapa keras pun Dinda berusaha Arfan tidak lagi merasa iba. Arfan justru memilih untuk pergi meninggalkan Dinda.


"Argh.. sial."


Karena hari sudah mulai gelap akhirnya Dinda memutuskan untuk masuk kembali ke dalam apartemennya.


"Kenapa hidup ku jadi siap seperti ini sih."


Keesokan harinya...


Dinda menuju rumah baru yang di berikan Chiko setelah pernikahan. Dinda terkejut saat melihat kedatangan orang lain.


"Maaf, anda siapa? kenapa anda ada dirumah saya?" tanya Dinda.


"Rumah anda? oh maaf. Saya adalah pemilik baru dari rumah ini dan saya sudah membelinya dengan harga cash."


"Apa? tapi ini rumah saya."


Orang yang mengaku sebagai pembeli dari rumah itu kemudian masuk ke dalam dan memperlihatkan tanda bahwa dialah pemilik dari rumah itu dan sudah membelinya dengan harga kontan.


Dinda yang merasa bingung memilih untuk pergi ke kantor Chiko, sayangnya Chiko tidak datang ke kantor. Hal itu membuat Dinda merasa kesal kemudian dia kembali memesan taksi dan pergi ke rumah Chiko dan Humaira.


Dinda merasa lega saat melihat mobil Ciko terparkir di sana, Dinda sedikit heran karena pintu rumah itu tidak terkunci.


"Chiko?"


Dinda berjalan masuk dan mencoba mencari keberadaan Chiko. Dinda terkejut karena barang-barang yang sebelumnya ada di rumah yang sudah beralih pemiliknya itu ada di sana.


Dinda memutuskan mengamankan barang-barang mewah miliknya dan rencana untuk membawanya pulang sebelum dia mencari keberadaan Chiko.


Setelah selesai memasukkan barang miliknya ke sebuah kardus terpisah. Dinda segera naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan Chiko.


"Tunggu. Tidak. Sebaiknya aku mengirimkan barang-barang ini ke apartemenku sebelum Chiko akan bersikap sama seperti Arfan."


Dinda kemudian meminta sopir taksi yang memang sengaja di mintanya untuk menunggu, mengantarkan barang miliknya dan memintanya untuk menitipkan barang itu pada satpam apartemen.


"Chiko?" Dinda terkejut karena saat Dinda berbalik badan dengan maksud ingin kembali masuk ke dalam rumah, Chiko sudah ada di hadapannya.


"Mau apa kamu datang ke sini?"


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2