
Brak !!
"Jawap pertanyaan ku."
Dinda terkejut sekaligus takut saat Chiko menggebrak meja sambil menatapnya tajam.
"Aku..."
Chiko memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Ditariknya kursi dan duduk kemudian menatap Dinda.
"Jelaskan, aku akan mendengarkan."
Dinda kemudian mengatakan jika sebenarnya dia ingin membawa Papa ke rumah sakit. Hanya saja, Humaira lebih dulu menemukan papa Chiko yang ada di gudang.
"Tunggu. Apa? gudang? apa kamu menempatkan papa di gudang?" tanya Chiko.
"It-tu..."
Chiko merasa geram, dia segera keluar dari ruangan Dinda untuk mencari keberadaan dokter guna menemukan keberadaan sang ayah.
"Maafkan aku, Chiko. Humaira sudah membawa papa kamu pergi siang tadi."
Gubrak !!
Tanpa pikir panjang lagi, Chiko segera berlari menuju area parkir berharap dia bisa menemukan keberadaan Humaira dan papanya.
Chiko mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Humaira saat dia tidak menemukan keberadaan Humaira, sayangnya nomor lama Humaira sudah tidak aktif lagi.
Chiko kembali ke ruangan Dinda, dan meminta Dinda menemukan keberadaan sang ayah.
"Aku tidak bisa pergi dari rumah sakit karena aku harus melakukan serangkaian pemeriksaan," lirih Dinda.
"Apa maksud kamu?" tanya Chiko.
Belum tempat Dinda menjawab, beberapa perawat memasuki ruangan Dinda dan mengajak Dinda untuk segera melakukan tes laboratorium.
"Tunggu suster, kenapa dia harus melakukan tes laboratorium?" tanya Chiko.
"Untuk memastikan apakah pasien menderita kista atau kanker yang menyerang alat vitalnya."
"Apa?" Chiko benar benar terkejut, Chiko menatap Dinda yang tertunduk sambil di dorong keluar oleh suster.
Keesokan harinya, saat Chiko sedang memimpin rapat. Dia di kejutan dengan kedatangan orang yang memegang kuasa atas surat wasiat dari papa nya.
"Ada apa ini?" tanya Chiko karena beberapa orang itu menerobos masuk menuju ruang tempat dimana Chiko melakukan meeting.
"Maaf Chiko, menurut Surat waqi'ah dari ini kamu tidak pantas berada di sini dan tidak pantas memimpin perusahaan."
__ADS_1
"Tunggu, apa maksud anda? Bukankah sudah jelas di sana tertulis bahwa akulah yang menjadi pewaris sah dari perusahaan keluargaku."
"Tidak, surat wasiat yang mengatakan bahwa anda adalah pewaris dari perusahaan keluarga adalah sebuah kebohongan. Kami sudah menemukan keaslian dari surat yang dibuat oleh papa anda."
Chiko gemetar, terutama saat semua mata tertuju padanya. Suara panas membakar telinga memenuhi pendengaran Chiko.
Chiko segera meninggalkan ruangan meeting tanpa mengatakan apapun. Itu semakin membuat orang yang ada di sana gibah berjamaah.
"Kenapa kalian mengikuti aku?" ketus Chiko saat tiga orang itu mengikutinya masuk ke dalam ruangan nya.
"Tentu saja untuk memastikan bahwa anda akan segera meninggalkan perusahaan ini."
"TIDAK!. INI ADALAH PERUSAHAAN KU, AKU BERHAK ADA DI SINI." ketua Chiko dengan nada tinggi.
Seorang memberikan kode agar membawa Chiko keluar paksa dari ruangan nya.
Chiko memberontak, tapi dua orang bertubuh besar dan tinggi itu berhasil membuat Chiko keluar dari ruangan.
Pemandangan itu tentu saja membuat semua karyawan yang ada disana fokus pada Chiko.
"Lepaskan."
"Chiko, jika kamu tidak pergi dengan cara halus, maka aku akan memaksa kamu keluar dengan cara kasar."
"Atas dasar apa kamu akan mengusir ku?"
"Po-li-si?"
Tak lama berselang, seorang polisi datang dan memberikan surat panggilan untuk Chiko atas kasur memanipulasi surat wasiat.
...----------------...
Chiko terkejut saat dirinya melihat sang papa dan juga Dinda di kantor polisi.
"Papa?" Chiko segera berlari menghampiri ayahnya dan berlutut di hadapan nya.
"Papa, maafkan Chiko. Chiko tidak bermaksud untuk..." ucapan Chiko terhenti saat Papa memberikan isyarat cukup untuk diam dan tidak berbicara.
"Aku menerima permintaan maaf kamu Jika kamu mengikuti prosedur hukum yang ada di negara ini."
"Papa, aku yakin Papa tidak akan tega untuk memenjarakan aku."
"Kenapa aku harus tidak tega untuk memenjarakan seorang anak yang hampir saja membuat orang tuanya sendiri mati?"
"Papa, Aku tidak pernah maksud melakukan itu. Itu salah Dinda. aku memintanya untuk perawat Papa bukan meletakkan Papa di gudang tidak terawat dan tanpa pengawasan dari siapapun."
"Dinda istri kamu, Apa yang dia lakukan menjadi tanggung jawab kamu sebagai seorang suami."
__ADS_1
"Tidak, Papa tidak bisa melakukan ini kepadaku karena akulah satu-satunya keluarga yang Papa miliki."
"Kata siapa? papa masih memiliki satu anggota keluarga yang lain."
Humaira kemudian masuk ke dalam kantor polisi bersama dengan seseorang yang sangat dikenal oleh Chiko.
"Laila?"
Laila, adik bungsu Chiko yang sempat pergi dari rumah karena sebuah kesalahpahaman.
"Terlepas dari dirimu yang terlena oleh kenikmatan dunia, aku masih memiliki seorang anak lagi yang akan merawatku dengan baik dan tidak akan terlena oleh harta dunia."
..
"Pa, Papa Papa yakin akan memenjarakan Kakak Chiko? Bukankah seharusnya yang dipenjarakan hanya wanitanya karena wanita itulah yang membuat Kakak Chiko menjadi seperti ini?" tanya Laila setelah menemani sang ayah memberikan keterangan terkait dugaan pemalsuan surat wasiat yang dilakukan oleh Chiko.
"Tidak, paparasah hal ini perlu dilakukan agar Ciko memiliki rasa jera dan menyadari bahwa tidak semuanya bisa diraih dengan cara instan."
Humaira tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Laila.
"Humaira, sekali lagi Papa harus berterima kasih kepada kamu karena selain kamu menyelamatkan nyawa papa. Kamu sudah mempertemukan kembali Papa dengan putri bungsu papa."
"Pa, Humaira tidak melakukan apa-apa selain membalas kebaikan yang selalu Papa dan Mama lakukan kepada Humaira."
Humaira melihat kesedihan di wajah Papa saat Humaira mengatakan tentang mama. Humaira dan Laila saling berpandangan.
"Papa ingin orang yang dengan sengaja melakukan sesuatu sehingga membuat Mama meninggal dunia dihukum seberat-beratnya."
"Insyallah, pa." Humaira mengelus lembut bahu ayah nya.
Beberapa minggu kemudian, Dinda yang dinyatakan bersalah karena bukti mengarah kepada dirinya yang dengan sengaja menukar obat dari Papa Chiko dan juga membuat mamaku meninggal dunia. Dijatuhi hukuman mati. Sementara Chiko di hukum 8 tahun penjara.
Chiko menangis di hadapan sang ayah, meminta pengampunan atas kesalahan yang sudah dia lakukan dan berharap bahwa dirinya tidak akan berakhir di penjara.
Sementara Dinda, menatap Humaira dengan penuh kebencian karena menganggap bahwa apa yang terjadi padanya, kesialan yang terjadi pada hidupnya karena kesalahan dari Humaira.
Humaira, aku sungguh membencimu. Jika aku divonis hukuman mati dan tidak akan ada lagi di dunia ini. Maka, aku pun akan membawa kamu bersama denganku pergi ke neraka.
Dinda melihat pistol yang dibawa oleh polisi yang berjaga, dengan gerakan cepat Dinda dengan tangan terborgol mengambil pistol itu dan segera mengarahkannya kepada Humaira yang sedang berdiri di samping papa Chiko.
Dor !!
"Mati kau, Humaira!!" teriak Humaira.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...