Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Rumah Sakit


__ADS_3

Sesaat setelah kepergian Humaira, Dinda merasakan sakit yang amat dalam hingga harus di tolong paramedis.


Chiko yang mendapatkan kabar bahwa Dinda harus di rawat, segera datang ke rumah sakit.


"Humaira, kamu masih di sini?" tanya Chiko yang tidak sengaja bertemu dengan Humaira saat mencoba mencari ruangan tempat di mana Dinda dirawat.


"Memangnya kenapa? apa aku tidak boleh berada di sini?"


"Bukan seperti itu, hanya saja kenapa ini serba kebetulan kamu ada di rumah sakit saat aku menerima kabar bahwa Dinda juga ada di rumah sakit ini."


"Jadi, apa kamu merasa bahwa penyebab dari Dinda harus berada di rumah sakit ini dan mendapatkan perawatan karena ulah dari aku?"


"Bisa saja, karena Dinda mengatakan jika kedatangan kamu kesini tidak lain dan tidak bukan untuk mendapatkan harta kekayaan dari keluarga."


Humaira tersenyum kecut saat mendengar perkataan yang baru saja diucapkan oleh Chiko.


"Dengar, untuk apa aku menginginkan harta kekayaan keluarga kamu jika sekarang aku menemukan keluargaku sendiri yang nyatanya jauh lebih kaya berkali-kali lipat dari kekayaan yang dimiliki oleh kedua orang tua kamu."


Chiko memejamkan mata, Bagaimana bisa dia lupa jika ayah dari Humaira adalah seorang yang terkenal akan kekayaan harta dunia.


"Aku tahu, kedatangan kamu ke sini Jika memang bukan menginginkan harta kekayaan dari keluargaku. Berarti kamu menginginkan kehancuran rumah tanggaku dan juga Dinda."


"Chiko, Aku tidak tahu apa yang sudah Dinda gunakan sehingga kamu sekarang tidak bisa berpikiran jernih. Dengar, Aku sebenarnya sangat malas untuk bertemu dengan kamu lagi diambil urusan dengan kamu apalagi dengan Dinda." Tegas Humaira.


"Sayang nya, apa yang terjadi kepada mama dan juga Papa membuatku mengharuskan kembali berurusan dengan kalian."


"Apa maksud kamu?"


"Apa pernah terbesi dalam pikiran kamu untuk mencari tahu kebenaran yang terjadi di balik kematian mama?"


"Humaira, Mama sudah tenang di alam sana Jadi jangan pernah lagi kamu mencoba untuk mengungkit penyebab kematiannya. Dokter sendiri sudah mengatakan bahwa penyakit jantung yang diderita oleh Mama dan juga serangan jantung yang tiba-tiba itu menjadi penyebab kematian mama."


"Oh ya? dan apa kamu akan percaya begitu saja dengan diagnosa dokter?"


"Tentu saja," jawap Chiko.


"Ah ya, tentu saja kamu akan percaya karena jika kamu tidak mempercayainya tentu sekarang kamu tidak akan memimpin perusahaan dari keluarga kamu."


"Apa maksud kamu dengan berbicara seperti itu kepada aku? kenapa Kamu seolah menuduh bahwa aku bahagia karena mama meninggal dunia?"

__ADS_1


"Jika aku jadi kamu maka aku akan mencari penyebab dari mama terkena serangan. Aku mungkin tidak akan menerima tawaran orang yang sekarang menjadi pasangan hidup kamu."


"Humaira, Apa kamu ingin mengatakan bahwa Dindalah dibalik kematian mama?"


"Aku tidak mengatakan itu karena jika aku mengatakan itu sama saja aku memporak-porandakan rumah tangga kamu. Walaupun sebenarnya aku ingin melakukannya tapi aku merasa malas untuk melakukannya."


"Terserah kamu saja.."


"Baiklah, aku hanya mencoba mengingatkanmu akan sesuatu yang seharusnya kamu cari tahu kebenarannya sebelum kamu menyesal." Ucap Humaira saat dia melihat Chiko akan pergi meninggalkannya untuk menemui Dinda.


Chiko yang baru saja melangkah beberapa langkah dari hadapan Humaira, berhenti tanpa berbalik menatap Humaira.


"Ini hidupku dan aku harap kamu tidak akan pernah mencampuri urusan hidupku. Aku tahu kamu menyayangi almarhum mama, tapi kamu bukan siapa-siapa lagi dan kamu bukan lagi bagian dari keluargaku."


Humaira benar-benar merasa kesal dengan jawaban Chiko.


"Bukankah sudah kukatakan jika ini tidak menyangkut tentang hidup dan mati papa, aku tidak sedih untuk berusaha lagi dengan kamu. Asal kamu tahu saja jika kamu tidak mencoba mencari tahu kebenarannya maka kamu tidak akan pernah menemukan keberadaan papa untuk selamanya."


Chiko berbalik badan dan dia melihat Humaira sudah pergi meninggalkan nya.


"Sebenarnya apa yang coba Humaira katakan kepada ku?" lirih Chiko.


Saat Chiko sedang berpikir tentang pesan tersirat yang Humaira coba katakan, seorang dokter yang dulu menangani kematian Mama datang menghampiri Chiko.


"Tidak aku ke sini untuk menjenguk Dinda. Tunggu, apa dokter baru saja mengatakan bahwa Papa juga dirawat di sini?"


"Loh, Kamu ini bagaimana sih bukannya papa kamu sudah dibawa ke sini dalam keadaan kritis beberapa hari yang lalu? Untung saja mantan istri kamu itu segera membawa papa kamu ke rumah sakit. Jika tidak..."


"Tunggu, Apa maksud dengan mengatakan Humaira yang membawa bapak ke rumah sakit?" tanya Chiko.


Dokter kemudian menceritakan bahwa papa chiko memang datang ke rumah sakit itu dengan Humaira dan bersama beberapa orang lainnya. Dokter membantah perkataan Chiko yang mengatakan bahwa dindalah yang bertugas dan bertanggung jawab atas papa.


Chiko gejala menuju ruangan Dinda sambil terus berpikir dan mengawetkan tentang perkataan Humaira dan juga fakta yang baru saja dia temukan tentang papanya.


Chiko terus berpikir hingga tanpa sadar dia sudah berada tepat di depan ruangan Dinda.


"Aku tidak mau tahu, Aku ingin kamu segera menemukan pria tua itu atau semua yang sudah kita raih akan hilang dalam sekejap mata. Jika Chiko tahu bahwa aku sudah kehilangan papanya maka dia tidak akan suka-sudut untuk menceraikan Aku bahkan akan mengusir aku dari istana yang juga kemewahan yang sekarang kita nikmati."


Chiko yang sudah membuka pintu tiba-tiba menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara Dinda berbicara dengan seseorang.

__ADS_1


"Dinda..."


Deg !!


Dinda yang terkejut dengan kedatangan Chiko segera melempar ponselnya, hingga ponselnya jatuh ke bawah.


"Chiko, kamu mengejutkan aku saja. Lihat kamu membuat ponselku terjatuh."


Chiko menghela nafas kemudian berjalan mendekati Dinda dan mengambil ponselnya yang terjatuh.


"Maaf karena aku sudah merusak ponselmu, aku akan memperbaiki ponsel ini."


"Jangan."


Chiko mengerutkan dahinya sambil melihat Dinda yang berusaha meraih ponsel yang kini ada di tangannya.


"Maksudnya, tidak usah karena memang ponsel itu suka sekali mati tiba-tiba jadi aku akan segera menggantinya."


"Kalau begitu ponsel ini aku bawa saja untuk aku buang."


"Jangan, kemarikan ponsel itu biarkan aku yang menyimpannya."


"Kenapa kamu sangat menginginkan ponsel ini Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa ponsel ini sering mati dan kamu ingin menggantinya?"


"Aku..." Dinda terlihat kebingungan untuk mencari alasan agar ponsel yang berada di tangan Chiko bisa kembali padanya.


"Apa kamu takut jika aku membawa ponsel ini kepada Danu dan Danu memperbaikinya sehingga aku mengetahui rahasia yang ada di dalam ponsel ini?" Ucap Chiko segera setelah dia melihat perubahan ekspresi dari wajah Dinda.


"A-apa? ti-dak.," ucap Dinda terbata bata.


"Dinda, apa kamu yang membuat Papa kritis sehingga harus dibawa ke rumah sakit oleh orang lain?"


Deg !!


Mati aku...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2