
Suara tembakan bergema di ruang persidangan yang sudah usai. Hakim ketua yang lebih dulu meninggalkan ruangan, kini berbalik badan saat mendengar suara tembakan.
Semua mata tertuju pada wanita yang kini tergeletak bersimbah darah.
"Dinda?" Chiko terkejut saat melihat Dinda yang terjatuh dengan tangan memegang pistol.
Bukan hanya Chiko yang terkejut saat melihat Dinda, Tapi semua orang yang ada di sana terkejut terutama Humaira.
"Bowo?" lirih Humaira.
"Dia sedang mencoba untuk mengarahkan senjata kepada anda, nona Humaira. Jadi saya mendahului nya," ucap Bowo
"Ya sepertinya hukuman mati yang akan di dapat Dinda lebih cepat datang dari perkiraanku," gumam Papa Chiko.
"Ayo, lebih baik kita sekarang pulang. Toh dia sudah tidak bernyawa," imbuh Papa.
"Bagaimana dengan aku, papa? apa papa tidak akan mengajak aku untuk pulang?" tanya Chiko.
"Ya, Papa rasa akan mempertimbangkan kamu nanti setelah papa menikmati waktu bersama dengan putri bungsu papa."
Papa dan putri bungsunya kini pergi meninggalkan ruang persidangan. Meninggalkan Chiko yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap kepergian ayahnya.
"Kasihan sekali, padahal aku ingin melihatnya menderita seperti apa yang dirasakan oleh Mama sebelum pergi dari dunia ini," ucap Humaira sambil melihat Dinda yang dibawa pergi oleh petugas ambulans.
"Ya, sepertinya memang tapi tidak lagi berpihak kepada pengkhianat. Dinda sudah mendapatkan karma atas perbuatannya, dia meninggalkan dunia dengan cara instan. Seperti cara yang selalu dia tempuh untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia," ucap Bowo.
"Humaira, aku yakin hanya kamu yang bisa membujuk Papa agar Papa mencabut laporannya atas diriku." Chiko kini berada di hadapan Humaira yang akan bersiap meninggalkan ruang persidangan.
"Chiko, aku memang bisa saja menarik laporan yang dilayangkan oleh papa. Tapi jika aku melakukannya, itu sama saja dengan kamu tidak akan pernah belajar dari kesalahan yang sudah kamu perbuat."
"Tidak Humaira, aku sudah belajar sesuatu hari ini dan kamulah yang membuatku menyadari semua kesalahan."
"Tidak, kamu belum menyadari apapun karena apa yang baru saja kamu katakan adalah salah satu bentuk agar kamu terbebas dari hukuman yang sudah menantimu."
"Humaira, setidaknya pikirkan aku yang masih menjadi ayah dari anak-anak. Tidakkah kamu merasa kasihan kepada aku jika aku harus berada di saat tahanan dan tidak akan bertemu dengan kedua putriku?"
"Sekalipun kamu tidak berada di dalam sel tahanan, Aku tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan kedua putriku."
"Humaira, kamu tidak bisa melakukan itu kepadaku karena aku juga masih ayah kandung dari mereka."
__ADS_1
"Ohya? Aku tidak yakin jika ceritanya tidak seperti ini maka kamu akan tetap menganggap bahwa kamu adalah ayah kandung dari Aisyah dan juga Almira."
Chiko terdiam, sejujurnya dia juga mengetahui bahwa jika saja jalan ceritanya tidak seperti ini. Mungkin Chiko sudah bersenang-senang dan melupakan tentang mereka.
Humaira tersenyum kecut melihat perubahan ekspresi dari Chiko.
"Aku harus kembali pulang, selamat menikmati indahnya sel tahanan."
"Humaira..." panggil Chiko saat Humaira sudah melangkah pergi.
"Maafkan aku, aku tahu mungkin kata maaf yang terucap dari mulutku sudah terlambat dan tidak ada artinya lagi. Tapi, Aku bersungguh-sungguh ingin meminta maaf kepada kamu sebagai bentuk awal dari aku yang akan melakukan penebusan dosa."
"Termaafkan," ucap Humaira tanpa menoleh ke arah Chiko dan segera pergi dari ruangan itu.
"Sayang sekali kamu membuang permata yang di dalamnya menyimpan berlian, hanya demi sebuah perhiasan imitasi. Semoga kebahagiaan masih akan menghampiri kamu." Bowo mana pun aku bahu jika sebelum Chiko dibawa polisi.
...----------------...
"Papa, Humaira harus kembali pulang," ucap Humaira sesaat setelah dirinya ikut berziarah ke makam Mama bersama dengan papa dan juga Laila.
"Kakak Humaira, Terima kasih karena sudah menyelamatkan papa dan membuat Papa kembali sehat serta mempertemukan aku kembali dengan papa."
"Humaira, Papa tidak tahu lagi harus berterima kasih dengan cara apa kepada kamu. Walaupun kamu sudah bukan lagi bagian dari anggota keluarga papa, tapi kamu masih peduli kepada papa."
"Papa akan tetap menjadi orang tua Humaira. Suatu saat, jika anak anak sudah terbiasa dengan kehidupan kami tanpa adanya seorang ayah. Aku akan membawa mereka mengunjungi papa. Jika Papa ingin berterima kasih kepadaku, Papa cukup membuat hidup apa bahagia dan jangan lagi ada kesedihan."
Papa tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, Humaira yang tahu langsung memeluk papa untuk terakhir kalinya.
Bowo kemudian datang menjemput Humaira. Humaira berpamitan kepada Laila dan berpesan agar menjaga Papa dengan sepenuh hati dan memberinya kasih sayang setiap hari.
"Kakak, sebagai bentuk rasa terima kasihku kepada kakak. Aku akan menjaga papa dan memastikan bahwa hari itu apa-apa akan selalu bahagia,"
"Terima kasih, Laila. Aku tahu, aku bisa mengandalkan kamu."
Mama, aku sudah mewujudkan apa yang menjadi keinginan mama. Aku harap setelah ini Mama kan tentang berada di alam Mama yang sudah berbeda dengan ini. Aku menyayangimu, mama. Al Fatihah untuk mu.
Laila melambaikan tangan ke arah Humaira yang mulai pergi meninggalkan pemakaman.
"Ayo, Pa. Sebaiknya kita pulang," ucap Laila pada papa.
__ADS_1
Papa tersenyum dan menganggukkan kepala. Papa dibantu menantunya berjalan menuju mobil dan mereka pulang untuk memulai lembar kehidupan yang baru.
...----------------...
Humaira mulai menjalani kehidupan seperti biasa bersama dengan kedua buah hatinya. Sang ayah barulang kali menggoda Humaira agar dia mencari pasangan hidup.
"Ayah, untuk apa aku mencari pasangan hidup jika aku sudah bahagia bersama dengan ayah dan juga kedua putriku. Tidak masalah jika aku harus sendiri di ujung usiaku, selama kebahagiaan kedua putriku tetap terjaga."
"Ayah tahu kamu sempat trauma dengan pernikahan yang nyatanya harus kandas karena orang ketiga. Tapi Papa juga tidak akan bisa selamanya menjaga kamu."
"Jika sendiri bisa membuat kehidupan jauh dari rasa kecewa dan sakit hati. Kenapa kita harus terburu-buru untuk memulai kembali hubungan yang sempat gagal?"
"Baiklah, Ayah tidak akan pernah lagi memaksa kamu untuk mencari pasangan asal kamu berjanji untuk mengizinkan Bowo tetap berada di dekat kamu. Itu akan membuat Papa merasa lega, setidaknya akan ada orang yang selalu melindungi kamu dan kedua Putri kamu,"
"Apapun keinginan Ayah selama itu bisa membuat Ayah merasa tenang dan bahagia."
"Terima kasih, Humaira. Kamu memang tahu bagaimana cara membuat ayah merasa beruntung memiliki putri seperti kamu."
Humaira memeluk sang ayah, Bowo tersenyum melihat itu sambil mengabadikan momen ayah dan anak yang sedang berpelukan.
Jika ada yang ingin tahu kehidupan Chiko di sel tahanan..
Chiko tidak diperlakukan dengan baik oleh orang-orang yang lebih dulu menempati sel tahanan. Chiko menjadi budak mereka dan harus melakukan semua yang mereka perintahkan. Seperti memijat, dan membagi makanan yang menjadi jatah harian Chiko.
Chiko benar benar tidak bisa menerima itu, hingga berulang kali dia mencoba melarikan diri. Akhirnya Chiko di tempatkan di sel tahanan sendiri.
Kesunyian dan kesendirian membuat Chiko menyesalkan keputusan bercerai dengan Humaira dan menikahi Dinda.
"Seandainya saja dulu aku tidak tergoda oleh Dinda, mungkin sekarang aku akan berada dalam pelukan Humaira," ucap Chiko sambil memeluk lututnya dan menahan dinginnya lantai penjara.
Selamat menikmati hukuman Chiko, dan selamat berbahagia untukmu, Humaira.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1