Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Pergi kemana?


__ADS_3

Chiko memutuskan untuk mengawasi barang-barangnya dan segera pulang setelah mendapatkan kabar bahwa Humaira tidak ada di rumah, meninggalkan kedua putrinya yang sedang menangis karena mencari keberadaan Humaira.


Sesampainya di rumah, Chiko segera turun dari mobil dan menghampiri mama yang sedang mencoba menenangkan kedua buah hatinya.


"Mama, ada apa?" tanya Chiko.


"Semalam, Humaira mengirimkan pesan kepada Mama agar pagi hari Mama harus datang untuk melihat keadaan Aisyah dan Almira. Saat Mama membalas pesan yang dikirimkan oleh istri kamu, Mama tidak bisa dan saat Mama mencoba untuk menghubungi ponselnya, rasanya juga tidak aktif."


"Mama dan Papa yang merasakan ada sesuatu yang tidak beres memutuskan untuk segera datang ke sini setelah salat subuh. Mama terkejut saat mendapati Aisyah dan Almira sedang tidur sendirian tanpa adanya Humaira."


"Tidak mungkin.."


Chiko segera naik ke lantai atas menuju kamarnya dan mencoba mencari keberadaan Humaira. Chiko membuka lemari pakaian dan dia melihat bahwa semua pakaian dan juga barang-barang Humaira masih ada di sana. Masih tertata rapi seperti tidak ada jejak yang mengatakan bahwa Humaira akan pergi.


Chiko menggeledah seluruh kamar itu dan dia yang tidak menemukan apapun memilih untuk kembali turun dan menemui sang mama.


"Chiko, apa kamu menemukan sesuatu yang berkaitan tentang kemana perginya Humaira?" tanya mama.


"Tidak." Chiko kemudian menghampiri Aisyah dan Almira kemudian membantu Mama untuk menenangkannya.


"Sayang, apa sebelumnya ibu pernah mengatakan sesuatu kepada kalian? Kenapa kalian menangis?"


"Ayah, kami menangis bukan karena kami merasa kehilangan Ibu. Kami menangis karena Ibu harus pergi dan tidak membiarkan kami untuk ikut bersama dengan ibu."


"Tunggu, Apa kalian tahu jika Ibu kalian akan pergi?" tanya mama yang dijawab anggukan kepala oleh Aisyah dan juga Almira.


"Kemana?" tanya Chiko.


"Tidak tahu, Ibu hanya mengatakan kepada kami bahwa kami harus menjadi anak yang baik dan tidak boleh menangis sampai Ibu kembali," ucap Aisyah.


"Apa lagi yang ibu katakan?" tanya Chiko.


Aisyah kemudian menceritakan apa yang dia bicarakan dengan Humaira.


Flashback on


"Jangan pernah khawatir dengan apa pun yang orang lain katakan. Kamu tidak bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada orang lain, kamu hanya akan bertanggung jawab untuk dirimu sendiri. Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan asalkan itu baik bagi dirimu dan orang di sekitarmu,"


"Ibu, Kenapa Ibu mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Aisyah?"


Humaira tersenyum kemudian memeluk Aisyah dengan erat.

__ADS_1


"Untuk saat ini, Kamu memang tidak akan mengerti dengan apa yang akan Ibu katakan. Ibu sudah menuliskan semuanya di dalam buku ini dan suatu saat nanti kamu bisa membukanya ketika Ibu tidak kembali,"


"Apa Ibu akan pergi?" tanya Aisyah yang dibalas anggukan kepala oleh Humaira.


"Pergi kemana?"


"Ke suatu tempat."


"Kenapa Ibu hanya pergi sendiri dan tidak mengajak kami?"


"Sayang, Jika kamu ingin tahu bahwa sebenarnya Ibu sangat ingin mengajak kalian berdua pergi, tapi Ibu sudah terlambat untuk menyiapkan segala keperluan kalian. Jadi, Ibu harap kalian akan berada di sini dan tidak bersama dengan nenek dan kakek."


"Bu..."


"Jadilah anak yang baik, jadilah anak yang kuat dan jangan menjadi anak cengeng."


Flashback off..


Chiko bangkit dari tempat duduknya karena dia melihat Dinda sedang menelpon. Chiko segera keluar dari kamar setelah melihat sang Mama membawa kedua putrinya untuk naik ke lantai atas dan beristirahat.


Untung saja, Chiko sempat mengaktifkan mode senyap pada ponselnya, jadi ketika ada panggilan masuk ponselnya tidak akan berdering dan tidak akan membuat sang Mama curiga.


"Chiko, Kenapa kamu pergi meninggalkan apartemenku secara tiba-tiba dan membawa semua barang-barang milik kamu? Kenapa juga kamu tidak menelponku dan memberitahu bahwa kamu akan pergi?"


"Maaf, telah terjadi sesuatu di rumah yang membuat aku harus segera kembali pulang."


"Apa itu sangat penting sehingga kamu tidak bisa menunggu aku kembali?"


"Tidak, lagi pula ke mana kamu pergi? video biasanya kamu pergi sepagi itu terutama saat aku berada di apartemen milik kamu?"


"Kamu tahu, Aku sedang keluar untuk membelikan kue, Hari ini aku ingin menandai sebagai hari di mana berakhirnya masa pacaran aku dan kamu, sebelum kita melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius."


"Maafkan aku Dinda, tapi memang aku benar-benar tidak bisa menunggu kamu pulang karena..."


"Karena apa?" tanya Dinda.


"Aku menerima kabar dari mama bahwa Humaira pergi meninggalkan kedua buah hatiku."


"Bagus dong, apakah kamu sudah memeriksa surat perceraian nya? pastikan bahwa Humaira sudah meletakkan tanda tangannya di sana sebelum dia pergi. Kamu harus memastikan bahwa tanda tangan Humaira ada di kertas itu. Aku tidak mau sampai pesta pernikahan yang sudah aku inginkan harus batal."


"Baiklah."

__ADS_1


Chiko kembali masuk ke dalam rumah setelah Dinda mematikan ponselnya, Chiko menyempatkan diri untuk melihat ke kamar Aisyah dan juga Almira.


Sepertinya memang Humaira sudah memberikan pengertian kepada dua gadis kecil itu sehingga mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih. Mereka menangis karena mereka tidak bisa melihat kepergian Humaira.


Chiko yang ternyata kan surat perceraian yang sempat dia berikan kepada Humaira. Segera memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar dan mencari berkas yang biasanya diletakkan di laci meja yang ada di dekat tempat tidur.


Dengan hati-hati dan perasaan berdebar-debar, Chiko mengambil dokumen itu dan membukanya. Chiko terlihat mengelola nafas panjang saat melihat tanda tangan Humaira di atas materai itu.


Perasaan bahagia tiba-tiba datang begitu saja saat melihat tanda tangan Humaira diatas berkas perceraian.


"Kenapa Humaira pergi setelah menandatangani surat ini?" lirih Chiko.


"Sebenarnya tidak masalah bagiku apakah Humaira akan pergi atau tidak, yang menjadi masalah adalah bagaimana jika mama dan papa mengetahui jika kepergian Humaira karena kami sudah bercerai."


"Ya Tuhan, sepertinya aku harus memulai bersandiwara sampai Papa menyerahkan perusahaan kepada ku."


Humaira, kemana kamu pergi?


Sebuah kertas terjatuh saat Chiko berdiri untuk menyimpan berkas perceraian yang sudah ditandatangani oleh Humaira.


Mas, aku sudah memberikan tanda tanganku pada berkas perceraian kita. Maaf, karena aku harus pergi sebelum kamu kembali.


Maaf, Mas. Aku pergi karena aku tidak bisa jika harus berbohong kepada Mama dan Papa. Mereka sudah seperti orang tua ku sendiri. Rasanya tidak bisa jika aku harus membalas kasih sayang yang mereka berikan kepada aku dengan kebohongan, hanya karena kamu takut kehilangan harta dunia.


Aku titip Aisyah dan Almira, tolong jaga dia dan beri dia kasih sayang dan perhatian yang selalu kamu berikan selama satu bulan terakhir ini. Jika Allah masih mengijinkan aku untuk bertemu dengan mereka. Aku akan kembali untuk membawa mereka pergi.


"Apa maksud Humaira berkata seperti itu?" lirih Chiko.


Chiko kemudian segera bangkit dan menuju lemari pakaian Humaira, Chiko sering melihat Humaira menyimpan sesuatu di dalam lemari itu.


Chiko segera membongkar dan mencari sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak tahu akan menemukan apa, hingga sebuah berkas terjatuh dari tumpukan buku yang biasa di baca Humaira.


"Apa ini?"


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2