Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Demi Aisyah dan Almira


__ADS_3

Dinda tersenyum melihat uang yang sempat dia tarik dari rekening yang diberikan Chiko dan juga uang pemberian Arfan.


"Setidaknya, walaupun tidak ada dari mereka yang menerimaku kembali aku masih memiliki cukup uang untuk hidupku."


Dinda kembali ke apartemen nya setelah menarik sejumlah uang dengan jumlah besar itu dari bank.


Sesampainya di apartemen, Dinda terkejut karena melihat Chiko ada disana.


"Chiko, ini benar-benar sebuah kejutan yang menyenangkan. Aku yakin kedatangan kamu ke sini untuk kembali padaku," ucap Dinda sambil tersenyum.


"Tidak, aku datang karena kamu melakukan sejumlah penarikan pada rekening bank yang sudah aku berikan kepada kamu."


"Lo, memangnya kenapa jika aku melakukan penarikan terhadap rekening bank yang sudah kamu berikan kepada aku? Bukankah itu sudah menjadi hak milikku karena kamu yang memberikannya?"


Chiko menghela nafas kemudian mengingatkan kembali kepada Dinda bahwa uang itu merupakan uang yang sengaja dititipkan untuk membayar setiap tagihan.


"Jadi kamu datang ke sini dengan maksud ingin mengambil sejumlah uang yang sudah aku tarik dari rekening itu?" tanya Dinda yang dibalas anggukan kepala oleh Chiko.


Tidak bisa begitu. Itu adalah uangku."


"Dinda, Aku sudah memberikan uang sebagai nafkah kepadamu tapi Bukankah kamu sudah menggunakannya dengan membeli barang-barang mewah yang ternyata sekarang tidak akan berguna lagi?"


"Chiko..."


"Aku memerlukan uang itu untuk memperbaiki perusahaan."


"Tidak, uang itu akan aku gunakan untuk menunjang kehidupan ku dan bayi ini."


"Bayi itu bukan bayiku, aku tidak mempunyai tanggung jawab atas dirinya dan juga dirimu yang sudah memilih untuk pergi meninggalkan aku."


"Chiko..."


Chiko bangkit dari tempat duduknya dan merampas tas Dinda. Setelah mendapatkan sejumlah uang sesuai nominal saldo di rekening miliknya. Chiko segera pergi dari apartemen Dinda.


"Chiko, kamu tidak bisa melakukan ini padaku." Dinda berteriak dan berusaha untuk mengejar Chiko. Sayang nya high heels yang dia gunakan menbuat Dinda tidak bisa berlari dengan cepat.


Brak !!


Dinda terjatuh bersamaan dengan Chiko yang sudah masuk ke dalam lift dengan keadaan pintu lift tertutup.


"Argh..." Dinda berteriak merasakan sakit di bagian perutnya.

__ADS_1


Dinda terus merasakan kesakitan hingga lama-kelamaan pandangan nya mulai kabur.


Dinda membuka dan melihat ke sekeliling. Rumah sakit. Dinda sudah berada di rumah sakit dengan selang infus di tangan nya.


Dinda berusaha bangkit, namun dia merasakan nyeri di bagian perutnya. Akhirnya Dinda memilih untuk diam sambil menghela nafas panjang dan mencoba mengingat kejadian sebelumnya.


Tak lama berselang, pintu terbuka. Dinda melihat Chiko masuk dan berjalan ke arah nya.


"Sudah sadar kamu," suara Chiko terdengar seperti sedang menahan kekesalan dan amarah.


"Chiko, kenapa aku ada di sini?" tanya Dinda.


Chiko kemudian menceritakan jika dia melupakan kunci mobil yang di atas meja ruang tamu apartemen Dinda.


Chiko yang sudah berada di lobi, akhirnya kembali ke atas dengan maksud mengambil kembali kunci mobilnya yang tertinggal. Namun siapa yang menduga jika Chiko justru menemukan Dinda tergeletak dengan cairan merah yang mengalir membasahi kakinya.


"Tunggu, jangan bilang jika aku keguguran."


"Baiklah, aku tidak akan mengatakan bahwa kamu keguguran."


Chiko kemudian meletakkan obat di atas meja yang ada di sana.


"Chiko, kamu mau pergi ke mana?" tanya Dinda saat melihat Chiko berbalik badan hendak pergi.


"Kuret? tidak."


Chiko yang melihat Dinda menangis memilih untuk segera pergi meninggalkan Dinda. Chiko harus segera pergi sebelum Humaira di bawa pergi dari negara ini oleh pak Holik.


Chiko yang sudah mendapatkan alamat tempat tinggal Humaira selama ada di sini, segera tancap gas untuk menemui Humaira.


Apartemen Royal Mediterania Palace.


Chiko melihat Humaira baru saja keluar dari lift.


"Humaira.."


Humaira tetap tenang untuk menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat kedatangan Chiko.


"Humaira, kita harus bicara."


Humaira menghela nafas panjang, kemudian berjalan menuju salah satu tempat duduk yang ada di sebelah apartemen itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Humaira datar.


"Humaira, Aku ingin kembali rujuk dengan kamu."


"Oh ya? demi apa?"


"Demi Aisyah dan Almira."


"Kenapa baru sekarang? Apa itu alasan kamu setelah kamu kehilangan semuanya dalam sekejap?" tanya Humaira.


"Tidak, aku benar-benar tulus mengatakan ini kepada kamu. Aku tahu, aku sudah berdosa terhadap kalian. Ijinkan aku untuk memperbaiki hubungan kita."


"Aku jadi penasaran, Jika saja kamu tidak kehilangan semuanya dan masih kerja apakah kamu akan tetap duduk disini dan berbicara kepadaku untuk memperbaiki hubungan demi Aisyah dan Almira."


Deg !!


Chiko terdiam, sebenarnya juga dia tidak ada pilihan lain selain kembali kepada Humaira. Hanya itulah setidaknya yang dipikirkan Chiko untuk mengembalikan perusahaan dan juga kejayaannya seperti dulu.


"Humaira, 1 bulan menjalani kehidupan bersama seperti saat kita baru saja menikah. Membuat aku sadar bahwa memang tidak ada wanita yang seperti kamu. Aku salah, maafkan aku."


"Sudah aku maafkan, jadi karena sudah tidak ada lagi pembahasan yang akan kita lakukan. Aku pamit undur diri."


"Humaira," Chiko memegang tangan Humaira. Humaira menatap tangan Chiko yang memegang tangannya.


"Maaf." Chiko kemudian melepaskan tangannya.


"Apa sekarang Chiko yang dulu bekerja keras dan tidak pantang memohon bantuan dari orang lain sudah hilang?"


"Humaira, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini. Aku mohon, demi Aisyah dan Almira."


"Maaf, Chiko. Tapi aku rasa semuanya sudah terlambat dan sudah jelas bahwa hubungan kita sudah berakhir. Kamu sendiri yang menginginkan hubungan ini berakhir, sama seperti aku dulu yang berharap bahwa kamu akan tetap mempertahankan keluarga kita daripada bercerai. Namun kamu tetap bersih ku ingin menikahi wanita. Seperti itulah aku sekarang, tidak peduli seberapa kuat dan besarnya kami berusaha untuk membujuk aku agar kita bisa membina kembali rumah tangga yang sempat berantakan. Aku tidak akan pernah bisa lagi. Cukup sekali dan jangan pernah lagi."


Humaira kemudian segera pergi dari hadapan Chiko, Chiko sendiri tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan kepergian Humaira.


Chiko kembali pulang dengan perasaan kacau, rumah yang dulu terasa berwarna kini terlihat suram. Bahkan walaupun cahaya mentari masuk melalui pintu dan jendela, tidak membuat rumah itu menjadi ceria.


Chiko menyesali keputusan nya dulu, bercerai demi kesenangan yang justru membuatnya kehilangan segalanya dalam waktu sekejap.


Humaira membawa Aisyah dan Almira ke rumah ibu mertua nya untuk berpamitan. Holik akan membawa Humaira dan kedua putrinya pergi dari negara itu, dan menetap di negara tetangga.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2