
Chiko hanya bisa memandang kepergian Humaira dan kedua putrinya. Mama terlihat sangat bersedih sehingga saat Chiko ingin berbicara dengan Mama. Mama memilih untuk masuk ke dalam kamar dan tidak mempedulikan panggilan Chiko.
"Pa, sebenarnya apa yang terjadi dengan Mama? kenapa Mama begitu emosional sehingga dia mengabaikan panggilan dariku?"
"Chiko, Papa benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu. Jika memang kamu adalah anak manusia, pastilah kamu mengerti apa yang membuat Mama memilih untuk mengabaikan panggilan kamu."
"Pa, jangan salahkan Chiko atas apa yang terjadi pada rumah tangga Chiko dan Humaira."
"Papa dan mama tidak menyalahkan kamu atas berakhirnya rumah tangga kamu. Hanya saja kami menyesali keputusan kamu yang memilih untuk mengakhiri pernikahan ini hanya demi seorang wanita muda."
"Pa, Papa tidak bisa menyalahkan hati dan juga cinta. Perasaan ini tulus dan murni. Chiko jika tidak berharap akan jatuh cinta pada seorang wanita."
"Kalau begitu, Selamat menikmati keindahan cinta."
"Papa, tunggu." Chiko mencegah ayahnya yang ingin masuk ke dalam rumah.
"Ada apa? Bukankah kamu sendirian mengatakan agar Papa dan Mama tidak menyalahkan kamu atas apa yang sudah terjadi?"
"Pa, kedatangan Chiko ke sini untuk meminta Papa mengembalikan sebagian aset perusahaan yang aku dan Humaira dulu titipkan kepada papa."
Papa yang sudah menaiki beberapa anak tangga, memilih untuk kembali turun dan menghampiri Chiko.
"Chiko, aku rasa selain kamu sudah bersikap bodoh kamu juga sudah menjadi orang yang pelupa. Apa kamu tidak ingat jika dulu kamu memberikan sebagian perusahaan kamu untuk Aisyah dan juga Almira."
"Chiko tahu pa. Hanya saja..."
"Sudahlah, Bukankah dari awal kamu sudah membangga-banggakan istri kamu itu? Jadi sekarang buktikanlah jika memang wanita itu bisa menemani kamu hingga kamu kembali mencapai kesuksesan."
Chiko akhirnya pulang dengan kekecewaan karena sang Papa tidak mau memberikan sebagian aset perusahaan. Tapi yang lebih mengganggu pikiran Ciko adalah Humaira.
"Humaira, Aku tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan ayah kandungnya. Tunggu, Humaira tadi mengatakan Jika dia bertemu dengan ayah kandungnya saat di rumah sakit? apa yang sebenarnya terjadi pada Humaira?"
Kepoan itu membuat Ciko akhirnya membanting setir menuju rumah sakit dan bertemu dengan sahabat Humaira.
Di sana, Chiko mendapatkan segala informasi mengenai Humaira yang sebelumnya mengalami masalah pada ginjal.
Seketika perasaan bersalah menghampiri Chiko, Chiko keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai.
Saat menunju lift, pandangan Chiko tidak sengaja menangkap sosok wanita yang sangat mirip dengan Dinda.
__ADS_1
"Dinda?"
Chiko membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam lift dan memilih untuk mengikuti wanita yang dia kira adalah Dinda.
"Dinda..." teriak Chiko sambil berlari kemudian segera menarik tangan wanita itu.
Bener saja, wanita itu adalah Dinda yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan. Dinda bersama dengan...
"Arfan?" ucap Chiko yang terkejut karena tangan Dinda menggandeng tangan Arfan.
"Chiko?" Dinda tentu saja terkejut saat melihatku ada di rumah sakit.
"Dinda, Kenapa Tuan Arfan bisa ada bersama dengan kamu? dan kenapa kamu menggandeng tangannya seperti itu?" tanya Chiko yang membuat Dinda segera melepaskan tangannya dari lengan Arfan.
"Yaa, tadi aku merasa sedikit pusing jadi aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dan siapa yang sangka aku bertemu dengan Tuan Arfan. Bukankah kamu sudah mengetahui jika Tuan Arfan ini sudah seperti keluarga bagiku?"
"Kenapa aku tidak merasa seperti itu? kenapa aku merasa bahwa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Chiko.
"Sebaiknya kita membicarakan hal ini di rumah," ucap Dinda.
"Dinda, Kenapa kamu tidak membicarakan hal ini saja? Apa kamu masih ingin berbohong mengenai kehamilan kamu?" tanya Arfan yang membuat Chiko terkejut.
"Apa maksud nya?"
"Arfan, Kenapa kamu berkata demikian?"
"Kenapa? apa kamu takut jika aku tahu bahwa sebenarnya bayi yang ada di dalam kandungan kamu bukanlah darah daging dari Chiko? melainkan darah daging ku?"
Brug !!
"Chiko..." Teriak Dinda.
Chiko yang sudah merasa sangat emosi memilih untuk memukul Arfan. Chiko semakin terkejut karena Dinda justru menolong Arfan dan memeriksa apakah hasil pukulan dari Chiko membuat Arfan terluka.
"Dinda, kamu apa apaan sih? Kenapa kamu justru membela?" tanya Chiko yang menarik tangan Dinda untuk menjauh dari Arfan.
"Jelas saja dia membela aku karena sekarang aku adalah orang yang akan menjadikannya ratu serta memberikannya barang-barang mewah. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu lakukan lagi untuknya."
"Dinda, katakan jika itu adalah bohong."
__ADS_1
"Chiko, Bukankah sudah seharusnya akan memberikan apa yang aku inginkan ketika kamu tidak bisa memberikannya sebagai seorang suami? Arfan adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Jadi Bukankah sudah seharusnya dia memenuhi apa yang aku inginkan ketika kamu tidak dapat memenuhinya?"
"Dinda, Bukankah sebelumnya kamu sudah mengatakan kepadaku bahwa kamu bersedia membantu aku untuk mendapatkan kembali perusahaan yang sekarang sudah di ujung kebangkrutan?"
"Ya, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa membayangkan Bagaimana kehidupanku ketika aku terus berada di sisi kamu."
"Apa maksud kamu?" tanya Chiko.
"Chiko, Bukankah aku pernah menawarkan perjanjian kepada kamu? relakan Dinda untuk aku dan aku akan membuat perusahaan kamu kembali berjaya," ucap Arfan sambil menarik Dinda dan mencium nya tepat di depan Chiko.
"Kamu tahu, bayi yang ada di dalam kandungan Dinda adalah bayi ku. Sayangnya Dinda yang merasa dia akan bahagia bersama dengan kamu, memilih untuk merahasiakan kehamilannya dan tetap melakukan pernikahan dengan kamu," imbuh Arfan
"Dinda?" ketus Chiko.
"Maaf Chiko, sebenarnya jika berbicara akan cinta. Aku jauh lebih mencintai kamu, tapi setelah aku mengetahui bahwa Arfan rupanya jauh lebih kaya daripada kamu. Aku merasa bahwa membangun rumah tangga dengan modal cinta saja tidak cukup," ucap Dinda.
"Kenapa kamu tetap melakukan pernikahan dengan aku, jika ternyata kamu sudah hamil dengan pria lain?" tanya Chiko dengan nada marah.
"Aku mencintaimu, tapi setelah mengetahui kamu bangkrut. Maaf, aku hanya ingin menyelamatkan diri dari kehidupan miskin."
Arfan tersenyum smirk sambil meninggikan jari tengah kepada Chiko sebelum Dinda mengajak Arfan untuk pergi.
"Argh.....!!" Chiko berteriak.
Kini dia menyadari betapa bodohnya dia yang begitu mudah tergoda dengan wanita yang ternyata hanya menginginkan harta.
Chiko memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Hari ini cukup membuat dirinya merasa kesal. Namun sepertinya kesialan yang terjadi pada Chiko di hari itu tidak berhenti sampai di sini saja.
Begitu Chiko sampai di rumah, dia melihat bahwa rumah yang dibelinya secara kredit di tarik.
"Hei, saya baru 1 bulan menempati rumah ini. Apa alasan anda untuk menarik kembali rumah ini?" tanya Chiko.
"Maaf, Pak. Saya baru mengetahui jika perusahaan bapak sudah di ujung kebangkrutan. Sementara angsuran rumah ini tiap bulannya adalah 75 juta. Daripada ke belakangnya ada tunggakan. Lebih baik sekarang saja saya menarik rumah ini dan dana yang sudah terlanjur masuk akan saya kembalikan 70%."
"Argh... Sial !!!'
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...