
"Apa maksud kamu dengan mengatakan ada seorang di dalam gudang yang ada di sebelah rumah ini?" tanya Humaira pura-pura tidak mengetahui walaupun sebenarnya dia sangat penasaran.
"Dua hari yang lalu saat aku membuang sampah-sampah ini, aku tidak sengaja melihat seorang pria tua yang duduk di kursi roda ada di dalam gudang itu."
"Tunggu, apa? kamu sudah ada di sini selama 2 hari yang lalu?"
"Loh, Kamu ini bagaimana sih? bukankah kita memang sudah ada di sini sejak 2 hari yang lalu dan tugas kita akan selesai besok?"
Humaira tersenyum kemudian segera mengalihkan pembicaraan agar wanita yang ada di hadapannya ini tidak curiga jika Humaira sebenarnya bukanlah bagian dari mereka.
"Hehe, maafkan Aku. Kamu tahu lah, segala kemewahan dan juga uang yang dihambur-hamburkan oleh pemilik rumah ini benar-benar sudah membuatku lupa."
"Haduh, ya sudah sana cepat kamu beri dia makanan. Tapi ingat jangan sampai kamu terlihat oleh pemilik dari rumah ini."
"Kenapa?" tanya Humaira.
"Mereka pasti akan melarangnya terutama saat kamu melihat majikan wanita. Wajahnya memang cantik tapi dia benar-benar sangat kejam. Aku bahkan sempat dimaki habis-habisan saat aku ketahuan memberi Pak Tua itu makanan."
Humaira kemudian memilih segera memasukkan beberapa jenis makanan dan juga minuman ke dalam kantong plastik agar nantinya jika ada yang memergoki dirinya tidak akan curiga.
"Kenapa kamu memasukkan semua makanan itu ke dalam plastik?" tanya pelayan tadi.
"Bukankah kamu mengatakan kepadaku agar aku harus hati-hati. Aku setengah jam melakukan ini, Jadi jika ada yang memergoki aku aku tinggal bilang bahwa aku akan membuang sampah."
Pelayan itu tersenyum dia segera memerintahkan Humaira untuk memberi makan seseorang yang terkurung di dalam gudang.
"Pergilah, aku akan memastikan bahwa tuan rumah ini tidak mengetahui bahwa kamu akan masuk ke dalam gudang itu."
"Terima kasih." ucap Humaira.
"Tidak perlu berterima kasih, aku hanya merasa kasihan kepada orang tua itu yang sepertinya sengaja dikurung di sana."
Humaira yang semakin penasaran dengan seseorang yang sengaja dikurung di gudang sebelah rumah, memilih untuk segera pergi dari sana.
"Terkunci." Lirih Humaira saat dirinya sudah berada di gedung itu namun gedung itu terlihat dikunci dari luar.
Humaira melihat ke sekeliling, kemudian dia melihat pelayan tadi seolah-olah memberikan kode agar Humaira pergi ke belakang gedung itu.
Humaira menuruti arahan yang diberikan oleh pelayan tadi dan memang benar di sana ada celah yang cukup untuk membuatnya bisa masuk ke dalam gudang.
"Astaghfirullah, Papa?"
Humaira benar-benar terkejut saat melihat bapak tua yang ada di dalam gudang itu dan sedang duduk di kursi roda adalah papa Chiko.
Humaira segera melepaskan alat yang memang sengaja dipasang di wajah papa, agar suara papa tidak bisa terdengar dari luar.
__ADS_1
"Astaghfirullah, papa. Apa yang terjadi dengan papa?" tanya Humaira sambil menangis dan memeluk papa.
Papa yang sangat lemah tidak bisa melakukan apapun selain membalas pelukan Humaira dan menangis.
Humaira kemudian menelpon Bowo agar dia ikut berbaur bersama dengan orang-orang yang lain agar dia bisa membawa Papa Chiko keluar dari sana.
"Papa, bertahanlah. Humaira akan membawa bapak keluar dari sini."
Tak lama kemudian, Bowo dan beberapa orang lainnya menghampiri Humaira setelah Humairah keluar untuk menjemput mereka.
Bowo menyamar sebagai tukang sampah dan demi bisa membawa Papa Chiko keluar dari sana dengan aman. Mereka terpaksa meletakkan Papa jika ke dalam bak tempat sampah yang baru.
"Nona Humaira, anda ikut bersama dengan kami kan?" tanya Bowo.
"Kalian duluan saja, aku masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan di sini. Tolong pastikan Papa segera mendapatkan perawatan setelah kalian sampai di rumah sakit."
Humaira yang sudah merasa murka memilih untuk segera masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Chiko.
"Tunggu, tidak. Aku tidak boleh langsung melabrak mereka sebelum aku mempunyai bukti-bukti dan juga apa yang membuat mereka tega mengurung papa didalam gudang. Tapi sebelum itu di mana mama?"
"Hei, Apa yang kamu lakukan di sini? aku tidak membayar kamu untuk diam dan melamun."
Deg !!
Humaira kemudian menundukkan kepala dan mengucapkan maaf sebelum dia segera berlari untuk masuk ke dalam rumah.
Humaira sangat bersyukur karena hatiku tidak mengenalinya yang memang sudah berdandan sangat mirip dengan pelayan.
Humaira berbaur bersama dengan pelayan dan juga para tamu undangan yang lainnya, begitu ada kesempatan Humaira naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan mama. Sayangnya Humaira tidak menemukan keberadaan mama.
Humaira kemudian memutuskan untuk pergi dari sana dan menemui sang Papa untuk bertanya di mana sebenarnya keberadaan mama.
Di rumah sakit, Humaira merasa sangat bersyukur karena sekarang kondisi Papa jauh lebih baik dari sebelumnya.
Papa yang tidak bisa untuk diajak berbicara membuat Humaira akhirnya menemui sahabatnya yang kebetulan menangani papa. Dari sanalah Humaira mengetahui Jika ternyata sang Mama sudah meninggal beberapa bulan yang lalu karena serangan jantung.
Humaira syok, dia tidak tahu apa yang membuat mamanya tiba-tiba terkena serangan jantung.
Keesokan harinya...
Humaira mendapat pengakuan dari papa, Humaira kemudian mengerti jika memang itu semua ulah dari Dinda dan juga Chiko yang sudah gelap mata akibat harta dunia.
Humaira sudah tidak dapat lagi menahan kemarahannya, Humaira memerintahkan kepada Bowo agar membawa Papa saat kembali ke negara mereka.
"Nona mau kemana?" tanya Bowo.
__ADS_1
"Aku akan mengucapkan selamat perpisahan kepada mereka yang sudah dengan tega mengurung papa."
"Lalu Apa yang harus saya lakukan jika Tuan Holik bertanya Kenapa anda tidak ikut pulang bersama dengan kami?"
"Ya sudah begini saja, buatlah seolah-olah kita kan memperpanjang urusan di sini sampai 1 minggu ke depan. Kamu harus membantu aku untuk mencari tahu apa yang terjadi."
"Baiklah."
...----------------...
Satu Minggu berlalu. Kerjasama yang baik antara Humaira dan papa, membuat Humaira akhirnya menemukan bahwa penyebab dari kematian sang Mama karena Dinda.
Dinda sengaja datang ke rumah dan langsung bertela-njang di hadapan papa, itu membuat Mama terkejut sehingga tiba-tiba terkena serangan jantung.
Setelah memastikan bahwa sang Papa sudah kembali teman setelah menceritakan semuanya, Humaira memilih untuk pergi menemui jika terlebih dahulu sebelum bertemu Dinda.
Humaira memilih untuk mendatangi perusahaan dan menunggu Chiko di ruang kerjanya.
"Humaira?" Chiko tentu saja terkejut saat melihat Humaira ada di dalam ruangan nya.
"Bagaimana rasanya menikmati harta dunia yang bukan menjadi hak milik kamu?" tanya Humaira.
"Apa maksud kamu?" tanya Chiko pura pura tidak tahu.
"Sudah bermain licik, tidak mau mengaku."
"Oh, apa kedatangan kamu ke sini juga ingin menikmati harta kekayaan dari keluargaku?" ucap Chiko yang kini bersuara tinggi.
"Chiko, Aku tidak tahu apa yang sudah meracuni pikiranku sehingga kamu merampas semua harta yang bukan lagi menjadi milik kamu."
"Bukan urusanmu, lebih baik kamu pergi dari hadapanku karena aku tidak ingin melihat kamu mencampuri urusanku."
"Sayangnya aku harus berurusan dengan kamu karena kamu sudah tega mengurung papa kamu sendiri di dalam gudang."
"Kau, jangan macam macam dengan ku." ancam Chiko.
"Tidak, Aku tidak akan macam-macam karena aku hanya akan menggunakan satu macam saja. Ingat jika kamu pasti tetap bersikap seperti ini. Bersiaplah menerima karma mu."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1