Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Ada Yang Aneh


__ADS_3

Dua Minggu berlalu...


Chiko dan Humaira menjalani kehidupan seperti layaknya pasangan suami istri yang baru saja menikah.


Tidak ada pertengkaran yang mereka lakukan, hanya ada momen romantis bersama pasangan dan menghabiskan waktu libur dengan anak anak.


Rasa bahagia itu, Humaira tuan ke dalam catatan yang sudah selesai dia buat.


Karena masih banyak lembar kosong, jadi Humaira mengisinya dengan puisi kebersamaan.


Ketika kita seiring sejalan, sekata sehaluan


Egoisme pun padam dalam arogan


Bersama saling memahami satu dengan yang lain


Eratkan kasih sayang dengan persahabatan


Rasa suka dan rasa cinta menyatu dalam ikatan


Setiap cerita dan kisah mencerminkan bahagia


Akan tetapi waktu dan jarak dapat memisahkan kita


Media sosial menjadi solusi untuk bersama


Ada banyak canda dan tawa dalam group media sosial kita


Abadilah kebersamaan ini selamanya, bak pribahasa


Nan berseluk urat, nan berjumbai akar, nan berlambai pucuk


Telah kujalani


kutemukan


sedikit demi sedikit kumamahmi


dan bahkan dapat menjadi inpirasi


seolah jiwa dapat menemukaan kemerdekaan


di sela sela sudut perbedaan


dalam kebersamaan


Senandung kata


goresan pena


irama syair tegur sapa


cerita puisi dalam keluh kesah rasa


ritme irama saling medukung, dan bahkan kadang bertanya


indahnya kebesamaan, dalam persahabatan


Satu persatu saling memahami


yang lain saling mengasihi


dan bahkan saling mencintai


irama cerita rasa dari hati


aneka ragam imginasi terpatari dari suara hati


dengan indahnya kebersamaan


Kugoreskan pena dalam cerita


kurangkai indah cerita cinta


kupatri kata dalam irama


kulalui masa perbedaan jiwa

__ADS_1


kurasakan indahnya cerita bersama


kunikmati indahnya berbagi cerita


dari ragam insan ceria


dalam indahnya kebersamaan.


Dalam hangatnya kebersamaan


Ada pahit manis kecemburuan


Mengaduk rindu dengan lembut


Terasa penuh kasih dan sayang


Ku hirup kopi candu soreku


Yang mengajariku berpikir sehat


Jika benar benar cinta dan sayang


Tak akan lupa dimana harus pulang


Seperti Cinta di segelas racikan kopiku


Hitam manis dan terlihat pahit,


Tapi.. Selalu kembali menyesap nikmatnya


Dan Indahnya kebersamaan.


Sejatinya rasa yang tulus abadi


Ialah sekumpulan perbedaan


Kendati tak saling menuntut persamaan


Merengguk manisnya kebersamaan


Namun cukup begitu berkesan


Hingga akhirnya melahirkan kenyamanan


Yang tak mudah tergantikan


Awal dan akhir cerita menua usai


Melekat dalam peraduan


Mengikat erat namun tak bertali


Tak pula ku pungkiri rasa tulus suci di hati


Menyemai masa dan waktu


Menuai sampai menggulung zaman


Berhenti di satu titik panggilan-Nya


...----------------...


"Humaira, aku harus melakukan kunjungan bisnis ke luar kota selama beberapa hari. Bagaimana dengan kamu dan anak-anak?" tanya Humaira.


"Tidak apa, aku mengijinkan kamu untuk pergi."


"Apa kamu yakin?"


"Tentu saja, Bukankah kamu bekerja juga untuk masa depan kedua Putri kita?"


Chiko tersenyum dan memeluk Humaira, serta mencivm keningnya.


"Aku berjanji akan segera kembali dan mengganti waktu yang sudah terbuang karena aku harus mengurus pekerjaan."


Humaira hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


Malam harinya, Humaira membantu menyiapkan barang-barang milik Chiko yang akan di butuhkan selama beberapa hari.

__ADS_1


Di sisi lain, Dinda sangat bersemangat karena dia akan memiliki waktu untuk menghabiskan malam bersama dengan Chiko.


Malam indah yang selalu dia impikan dan rinduka.


Dinda sudah menunggu di bandara, saat Chiko dan beberapa orang yang juga ikut serta datang. Dinda segera berlari memeluk Chiko.


"Aku merindukanmu,"


Deg !!


Chiko merasa ada sesuatu yang janggal ketika Dinda memeluknya, Chiko segera melepaskan pelukannya dan menatap Dinda.


"Ada apa?"


"Sebaiknya boleh sekarang kamu jaga sikap Jangan pernah memeluk aku sembarangan di tempat umum."


Dinda yang menggantikan perkata hajiku agar nama baiknya tetap terjaga sebelum perpisahan yang sudah di depan mata, membuat Dinda mengetik kemudian melepaskan pelukannya dan meminta maaf.


"Maafkan aku, aku hanya terlalu senang karena sebentar lagi aku akan bisa menikmati waktu bersama dengan kamu walaupun hanya beberapa hari saja."


Chiko tersenyum kemudian berjalan mendahului Dinda dan segera masuk ke dalam pesawat.


Sesampainya di hotel, Chiko pemilik untuk tinggal di kamar yang berbeda dengan Dinda. Hal itu tentu saja menimbulkan rasa curiga di hati Dinda.


Malam harinya mereka melakukan urusan bisnis pekerjaan yang bernama, Dinda mendatangi kamar Chiko.


Karena Dinda memasuki kamar dengan hati-hati. Tentu saja dia terkejut saat melihat Chiko sedang melakukan panggilan video bersama dengan Humaira dan terlihat sangat mesra.


Setelah selesai melakukan panggilan video, Chiko berbalik badannya dia terkejut saat melihat Dinda sudah ada di dalam kamarnya.


"Dinda, sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Chiko.


"Dalam sebuah hubungan, pria sejati tidak akan membuat pasangannya cemburu kepada orang lain, pria sejati akan membuat orang lain cemburu kepada pasangannya."


"Apa maksud perkataan kamu?"


"Chiko, Aku tahu kamu sedang dalam masa menjalani permintaan terakhir dari istri kamu. Tapi tidak seharusnya kamu berkata-kata mesra saat aku berada di dekat kamu."


"Dinda, Kamu ini kenapa sih bukankan wajar, ketika aku berbicara dengan Istriku yang sedang jauh di sana, Aku menggunakan kata-kata lembut yang romantis. Tidak mungkin kan aku akan melakukan panggilan bersama dengan istri dan juga kedua anakku dengan adanya kasar seolah-olah Aku sedang marah kepada mereka."


Dinda terdiam.


"Aku tahu cemburu adalah salah satu bentuk cinta. Tapi cemburu terus menerus bukanlah cinta. Karena cinta butuh rasa percaya. Cinta itu kebebasan, bukan untuk saling mengekang. Cinta itu kepercayaan, bukan cemburu tanpa alasan."


"Maafkan aku, hanya karena seseorang cemburu, bukan berarti dia tak mempercayaimu. Dia hanya takut kehilangan dirimu."


"Rasa cemburu kamu sangat tidak mendasar, Dinda."


Dinda yang merasa berguna dan bicara jika sudah berubah dalam mode kekesalan, segera berjalan dan memeluk Chiko.


"Maafkan aku, beberapa hari tidak menghabiskan waktu bersama kamu membuat aku selalu berpikiran sesuatu yang tidak seharusnya aku pikirkan."


"Kecemburuan adalah perasaan cinta dan benci pada saat yang bersamaan. Seharusnya kamu tahu, bahwa kecemburuan akan selalu ada dalam ikatan. Karena itu,jangan buat aku cemburu, buatlah orang lain cemburu saat melihatku."


Chiko terdiam, katanya masih tetap dalam posisi yang sama dan tidak membalas pelukan dari Dinda.


"Chiko. Ayo peluk aku jika kamu memaafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya kesalahannya seperti tadi."


Dinda akhirnya menarik tangan Chiko untuk memeluknya, walaupun sebenarnya Chiko tidak mau melakukan itu.


Dinda semakin mempererat pelukannya seolah-olah dia ingin menunjukkan bahwa dia sudah sangat merindukan kekasihnya.


"Dinda, ini kenapa?" Chiko yang saat itu hendak menyandarkan kepalanya di leher tidak sengaja melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


Chiko menyibak rambut Dinda dan terlihatlah sebuah tanda merah di belakang leher Dinda dan jumlahnya juga ada beberapa.


"Ada apa?" tanya Dinda.


"Kenapa ada beberapa tanda bekas kecupan di sini?"


Deg !!


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2