
Beberapa hari menjalani bisnis di luar kota, membuat Chiko merasakan kerinduan yang sangat mendalam kepada Humaira.
Jika biasanya dia akan menikmati waktu bersama dengan Dinda. Kali ini Chiko benar-benar merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya.
"Perasaan apa ini? tidak biasanya aku merasa tidak bersemangat untuk bercinta dengan Dinda?"
Chiko berulang kali menolak saat Dinda mengajaknya untuk bergulat mesra. Entah apa yang terjadi. Chiko sendiri tidak mengetahuinya.
Seperti malam ini, Chiko memilih untuk menghabiskan malam terakhir di kota itu dengan duduk dan minum bersama dengan teman-temannya.
"Ada apa? apa kamu sedang ada masalah dengan Dinda?" tanya Joni, teman bisnis Chiko yang juga tergabung dalam kelompok bisnisnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin menikmati malam dengan kalian."
"Gelisah adalah perasaan yang menghinggapi saat berada dalam keadaan yang penuh ketidakpastian. Misalnya, saat menanti seseorang atau baru saja mengalami bencana, pasti akan cenderung lebih sering mengucapkan kata-kata gelisah. Mungkin, mengucapkannya secara tidak sadar, tapi raut wajah biasanya tak bisa bohong soal perasaan cemas," timpal Ahmad.
Chiko terdiam, dia benar benar tidak tahu apa yang membuat perasaan nya benar-benar gelisah.
Di dalam kamar hotel, Dinda juga terlihat gelisah karena Chiko lagi-lagi menolak untuk memberikan kehangatan seperti biasa.
"Meskipun aku diam tenang bagai ikan, tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan."
"Kamu sudah menjadi bagian dari rencana masa depanku, kamu pergi, aku takut masa depanku tak lagi sempurna tanpamu." lirih Dinda.
"Aku tak peduli dengan cahaya yang perlahan pergi, namun aku hanya takut jika esok menjadi sepi."
"Tidak, aku harus menanyakan perihal keseriusan Chiko terhadap ku. Aku tidak ingin gagal menjalani kehidupan yang sudah aku impikan. Aku harus berbicara dengan Chiko setelah ini."
Dinda memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Chiko, dan menunggu kepulangan nya.
Namun, hingga larut malam. Dinda tidak menemukan Chiko akan kembali ke kamarnya. Itu membuat kekecewaan di hati Dinda. Mengingat besok mereka harus kembali pulang.
Pagi harinya..
Dinda mendatangi kamar Chiko dan menemukan Chiko sudah siap untuk pergi.
"Chiko, semalam aku menunggumu tapi kenapa kamu tidak tidur di dalam kamar ini. Kemana kamu tidur semalam?" tanya Dinda.
"Itu, maaf. Tadi malam aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku yang kebetulan juga melakukan bisnis di kota ini. Jadi aku lupa waktu dan tertidur di sana."
"Chiko, kenapa aku merasa bahwa kamu mulai berubah."
"Berubah bagaimana maksud kamu?" tanya Chiko.
__ADS_1
"Kau bilang padaku, kau akan mencintaiku sampai mati. Padahal, kau belum mati tapi kenapa sudah berhenti mencintaiku?"
"Hahaha, Dinda. Sebenarnya kamu ini kenapa?" tanya Chiko.
"Hati ini kadang terasa sakit dan sesak. Bukan karena patah hati, tetapi karena memendam perasaan ini terlalu lama. Chiko, kamu tahu kita sudah lama tidak berbagi kehangatan dan Kenapa di saat kita memiliki kesempatan untuk melakukannya, kamu justru menghindari aku?" tanya Dinda.
"Dinda, Bukankah sudah aku katangat kepadamu bahwa selama satu bulan ini aku akan menjadi suami dia juga ayah yang benar-benar baik untuk keluargaku. Jadi, Aku harap kamu mengerti jika aku menolak untuk berhubungan dengan kamu."
"Chiko, kamu tidak sedang jatuh cinta dengan istri kamu kan?" tanya Dinda.
Chiko terdiam, dia berbalik badan dan membelakangi Dinda.
"Tentu saja tidak," ucap Chiko kemudian.
"Tapi kenapa aku merasa bahwa ada sesuatu yang kamu sembunyikan? kenapa aku merasa bahwa kamu tidak lagi mencintai aku seperti dulu."
"Percayalah. Aku tetap bersama kamu bukan karena tak ada yang menginginkan aku.. Tapi aku hanya ingin bersama kamu," ucap Chiko
Chiko berjalan mendekati Dinda kemudian menabrakkan bibirnya, cukup lama Chiko melakukan itu sebelum akhirnya Chiko menjauh.
"Ayo, kita harus pergi karena sebentar lagi penerbangan kita."
Dinda tersenyum dan hanya bisa menghela nafas panjang walaupun sebenarnya dia ingin lebih lama melakukannya dengan Chiko.
Dinda hanya kembali tersenyum sebelum akhirnya dia jalan pergi meninggalkan kamar Chiko, menuju kamarnya untuk mengambil koper dan beberapa barang lainnya.
Chiko mengambil koper yang berisi berbagai macam jenis hadiah yang akan dia berikan kepada istri dan juga kedua anaknya.
Chiko tersenyum, dalam hatinya seperti tidak sabar ingin melihat bagaimana ekspresi dari keduanya saat Ciko pulang dan memberikan hadiah untuk mereka.
Chiko langsung menuju mobil yang sudah menunggu nya di bandara, meninggalkan Dinda yang masih berusaha mencari keberadaan Chiko.
"Dio, apa kamu melihat bos kita?" tanya Dinda pada Dio. Manajemen keuangan yang juga ikut dalam urusan bisnis.
"Bukankah bos sudah pergi lebih dulu?"
"Apa?"
Dinda kembali harus merasakan kecewa saat Chiko langsung pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal dan tidak ada lagi pelukan dan ciuman perpisahan.
Sesampainya di rumah..
Chiko membuka pintu dengan hati-hati karena memang dia tidak memberitahukan kepada Humaira juga kedua putrinya bahwa dirinya akan pulang hari itu.
__ADS_1
Chiko melihat Humaira sedang melakukan salat bersama dengan kedua putrinya. Entah kenapa, tiba-tiba hati Chiko kembali merasakan kegelisahan seperti yang dia rasakan semalam sebelum kembali pulang.
Apa yang sebenarnya aku rasakan, Kenapa aku begitu merasa berdosa kepada mereka. Tidak, aku tidak boleh terlalu larut dalam perasaan. Aku tidak boleh mengikuti ilusi yang mungkin saja menjadi cobaanku untuk membangun bahtera rumah tangga bersama dengan Dinda.
"Ayah?" Aisyah yang melihat kedatangan sang ayah tentu saja merasa sangat bahagia dan langsung berlari untuk memeluk ayahnya.
Almira juga melakukan hal yang sama begitu dia berbalik badan dan melihat bahwa yang datang benar-benar ayahnya.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Humaira.
"Ya, kebetulan urusannya lebih cepat selesai dari dugaan ku. Jadi aku memutuskan untuk pulang agar aku memiliki lebih banyak waktu untuk bersama dengan kalian."
Humaira tersenyum kemudian mencium punggung tangan dari suaminya itu. Refleks, Chiko mendekatkan diri dan mencium kepala Humaira.
Deg !!
Perlakuan itu tentu saja membuat Humaira merasa bahagia. Sebuah senyuman terukir di bibir Humaira, namun tiba-tiba senyuman itu hilang begitu mengingat bahwa hubungan mereka hanya tinggal beberapa minggu saja.
Humaira memilih untuk diam dan tidak bertanya apapun karena takut jawaban Chiko akan mengingatkannya bahwa sebentar lagi mereka akan berpisah.
Chiko kemudian menunjukkan beberapa hadiah yang memang sengaja dia beli untuk Humaira dan kedua putrinya.
Chiko merasa lebih bahagia saat melihat kebahagiaan terpancar dari wajah kedua putrinya.
Malam harinya..
Humaira memberanikan diri untuk berbicara dengan Chiko, bagaimanapun juga tidak ada seorang wanita yang ingin rumah tangganya berakhir.
"Aku bisa mengabaikan banyak lelaki untukmu. Tapi kenapa kamu tak bisa mengabaikan satu wanita untukku."
Chiko yang sedang termenung memikirkan pesan yang dikirimkan oleh Dinda, terkejut saat mendengar suara dari Humaira.
"Humaira."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
💙 Maaf ya agak ganteng soalnya lagi ada acara malam tahun baru nih, hehe...
Selamat tahun baru 2023 ya buat semuanya...
__ADS_1