Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Semoga Baik


__ADS_3

"Humaira, apa kamu baik-baik saja?" tanya Pak Holik saat mereka sudah ada si dalam pesawat.


"Ya, ayah. Aku hanya sedikit tidak menyangka jika Hari ini aku akan benar-benar pergi meninggalkan negara ini. Negara yang sudah menjadi tanah kelahiranku sejak aku mengerti dunia."


"Kamu yakin bukan karena akhirnya kamu benar-benar akan terpisah jauh dari Chiko?" goda sang ayah.


"Ayah?" ketus Humaira.


"Baiklah, baik. Maafkan ayah."


Humaira tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Holik.


Pesawat lepas landas, Humaira menyempatkan doa saat pesawat sudah mengudara. Sementara Chiko segera pulang dari rumah orang tuanya setelah usahanya membujuk papa untuk mengembalikan kejayaan perusahaan ditolak.


"Argh, kenapa semua nya jadi begini?" ketus Chiko.


Sesampainya di rumah, tidak ada pilihan lain bagi Chiko selain menjual rumahnya.


"Sepertinya memang tidak ada pilihan lain," Lirih Chiko sambil melihat ke arah sertifikat


rumah.


Chiko menghabiskan hari itu dengan mengemasi barang-barang milik nya. Chiko juga mencari apartemen untuk dia tinggali sementara waktu.


Walaupun berat untuk menjual rumah yang sudah menjadi saksi 10 tahun perjalanan rumah tangga nya dengan Humaira, tapi Chiko tidak ada pilihan lain.


"Seperti nya memang dengan berakhirnya rumah tangga aku dengan Humaira, begitu juga dengan rumah ini yang harus berakhir menjadi milikku."


Beberapa bulan berlalu...


Hasil penjual rumah nyatanya tidak bisa menutupi kekurangan yang dialami oleh perusahaan Chiko, sehingga membuat Chiko harus melelang perusahaannya demi bisa bertahan hidup.


Semua barang-barang berharga yang dapat dijual, juga mobil milik Chiko sekarang tersisa satu, itupun mobil pertama yang dia beli saat dirinya mencapai kesuksesan yang pertama. Chiko juga membeli sebuah motor untuk membuatnya tetap bisa pergi kemanapun tanpa menggunakan taksi. Mobil pertama yang di beli Chiko sengaja tidak dia gunakan karena memang mobil itu hanya akan menjadi pajangan kesuksesan pertamanya.


"Pa, Apa tidak sebaiknya kita membantu Chiko?" tanya Mama yang mengetahui bahwa kondisi kehidupan siko sekarang benar-benar sangat miris.


"Biarkan saja, dia harus menanggung akibat dari perbuatan yang dia lakukan. Terutama pada Humaira. Chiko harus benar-benar merasakan penyesalan Karena dia sudah tergoda dengan kesenangan sesaat."


Mama terdiam, seburuk apapun perbuatan yang dilakukan oleh anak. Seorang Ibu pastilah tidak tega jika melihat kehidupan anaknya menjadi berbanding terbalik 10 kali lipat.


Papa yang berusaha menenangkan Mama bahwa Chiko pasti bisa melewati ini semua yang termasuk hukuman kehidupan yang harus dia terima, membuat Mama akhirnya bisa merelakan dan tidak lagi pernah membahas tentang Chiko.

__ADS_1


Chiko mendatangi satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, tidak ada satupun dari perusahaan itu mau menerima Chiko. Akhirnya mau tidak mau Chiko menggunakan mobil pertama yang dia beli untuk mencoba keberuntungannya sebagai sopir taksi online.


Berbekal ilmu dan juga pengalamannya dulu saat pertama kali merintis pekerjaan sebelum menikah dengan Humaira, membuat Chiko dengan mudah kembali menjadi sopir taksi online.


"Dinda?" Chiko mengerutkan dahinya saat dia melihat wanita yang mirip dengan Dinda baru saja masuk ke mobil seorang pria.


Chiko yang baru saja mengantarkan penumpang, memilih untuk tetap menghentikan mobilnya untuk melihat dan mengamati apakah wanita itu benar-benar Dinda atau bukan.


Setengah jam Chiko menunggu, hingga kemudian Chiko melihat Dinda keluar dari mobil dengan tersenyum.


"Hmmm, sepertinya memang Dinda sudah mendapatkan mangsa baru."


Chiko yang kemudian mendapatkan penumpang kembali memilih untuk segera pergi dari sana.


Beberapa hari kemudian Chiko yang terus sering melihat Dinda bersama dengan pria yang berbeda, membuat jika akhirnya penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Dinda.


Hingga kemudian Chiko mengetahui bahwa Dinda menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang.


Dinda cukup terkejut karena saat dia memesan sebuah taksi online, yang datang adalah Chiko. Chiko juga terkejut karena ternyata orang yang memesan jasanya adalah Dinda.


"Wah, rupanya setelah menjadi pengusaha sukses sekarang menjadi sopir?" sindir Dinda.


"Masih mending aku menjadi shopee daripada kamu yang mencari uang dengan cara menjual tubuh kamu."


"Tidak."


"Begitu ya, status kita masih suami istri karena memang tidak ada kata talak ataupun perceraian di antara kita." Ucap Dinda sambil meraba ke arah sensitif Chiko.


"Hentikan, Dinda."


"Ups, maaf. Kalau begitu antarkan aku ke apartemen Green Palace. Ada seseorang yang sudah menungguku di sana, Jangan khawatir aku akan memberikanmu tarif dua kali lipat dari yang biasa kamu terima," ucap Dinda sambil mengambil kaca dan memulai sedikit wajahnya.


Chiko tidak ada pilihan lain selain mengantarkan Dinda ke tempat tujuan, dan saat mereka sudah sampai di tempat tujuan Chiko tidak menerima uang yang diberikan oleh Dinda.


"Aku tidak akan menerima uang yang didapat dari hasil menjual tubuh kamu."


"Haduh Chiko, kamu itu sombong sekali sih jadi orang. Sekalipun aku mendapatkan uang ini dari hasil menjual tubuh aku, tapi namanya uang ya tetap uang."


"Bawa saja, Aku tidak menginginkan uang itu."


"Baiklah, Jika kamu tidak ingin menerima uangku. Tapi jika kamu membutuhkan kehangatan, kamu tahu di mana aku." Dinda tersenyum sambil mengedipkan mata sebelum turun dari mobil Chiko.

__ADS_1


Hari ini tidak masalah jika kamu menolak uang pemberian dari aku, tapi aku yakin setelah ini kamu pasti akan berterima kasih kepada aku karena aku akan mengembalikan perusahaan kamu yang sudah kamu jual.


Chiko menghela nafas panjang karena dia tidak menyangka Dinda akan memilih jalan pintas seperti ini untuk mendapatkan uang dengan cepat.


Saat Chiko akan kembali setelah mengantarkan Dinda, sebuah telepon masuk yang membuat Chiko segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Chiko segera menuju rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa sang mama terkena serangan jantung


Sesampainya di rumah sakit, Chiko segera menuju ruangan tempat di mana mama berada.


"Chiko?" lirih mama.


Chiko melihat ke arah papa yang mengganggukan kepala tanda bahwa Chiko diperbolehkan untuk mendekati sang mama.


"Chiko di sini, ma. Apa yang terjadi? kenapa mama tiba tiba jadi begini?"


"Chiko.., mama..." (Tiiiiiiiiiiiiittttttttttt)


"Mama...?"


...----------------...


Humaira yang akan mencuci piring tiba-tiba terkejut saat piring yang ada di tangannya terjatuh dan saat dia akan mengambil pecahan piring itu, jarinya tertusuk dan mengeluarkan cairan merah.


"Astaghfirullah, semoga keadaan Mama dan Papa baik-baik saja." Ucap Humaira karena saat itu dia tengah memikirkan tentang kedua orang tua Chiko.


"Humaira, ada apa?" tanya Holik yang langsung datang begitu mendengar suara pecahan piring.


"Tidak apa-apa, Ayah. Humaira hanya tidak sengaja memecahkan piring saat akan mencucinya."


"Hah, kamu itu. Bukankah Ayah sudah mengatakan agar kita memakai jasa pembantu saja, jadi kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah yang akibatnya membuat kamu terluka seperti ini."


"Ayah, Ini hanya luka kecil lagi pula yang tadi adalah kecelakaan."


"Ya sudah, biarkan tukang kebun yang akan membersihkan pecahan piring ini, kamu sebaiknya segera pergi dan obati luka kamu itu."


Humaira tidak punya pilihan lain selain membiarkan pecahan piring itu tetap di lantai, Humaira berjalan menuju lantai atas untuk mengambil obat.


Ya Allah, kenapa aku tiba-tiba jadi terpikir keluarga yang ada di seberang negara ini? semoga mereka baik-baik saja.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2