Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Selamat Menikmati


__ADS_3

"Ayah, aku ingin pergi ke rumah sakit untuk bertemu dan berpamitan kepada semua teman-teman ku. Apa boleh?" tanya Humaira.


"Tentu saja boleh, Humaira."


"Kalau begitu, apa ayah tidak keberatan menunggu di rumah nenek Aisyah dan Almira?"


"Tentu saja."


Humaira tersenyum kemudian berpamitan kepada kedua orang tua Chiko dan pak Holik. Humaira diantar supir ke rumah sakit, untuk berterima kasih kepada temannya yang sudah membantu mencarikan rumah sakit terbaik untuk kesembuhan nya.


Di rumah sakit, setelah puas mengobrol dan berpamitan. Humaira memutuskan untuk segera pulang. Namun, langkah kaki Humaira terhenti saat dirinya di hadang Dinda.


"Humaira, bisa kita bicara?"


"Tentu."


Humaira dan Dinda kemudian memilih untuk duduk di kursi yang ada tidak jauh dari sana.


"Kamu ingin berbicara apa?" tanya Humaira.


"Sebelum aku berbicara, apa kamu tidak melihat pakaian yang akan kenakan?"


"Aku tahu,itu pakaian rumah sakit."


"Apa kamu tidak ingin bertanya kenapa aku memakai pakaian ini, dan kenapa aku berada di rumah sakit?" tanya Dinda.


"Tidak penting juga kan untuk ku."


Sial, memangnya siapa Humaira sekarang. Kenapa dia terlihat begitu sombong.


"Maaf, Dinda. Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku sehingga kamu memperhatikan langkah kaki aku yang ingin meninggalkan rumah sakit? Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berbicara dengan kamu karena aku harus menjemput kedua putriku."


"Apa kamu yang membuat perusahaan jika menjadi bangkrut?"


"Tidak."


"Mengaku saja, kamu pasti tidak relakan hasil kerja keras antara kamu dan Chiko dinikmati oleh aku?" ketus Dinda.


"Tidak, Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan kepada kamu. Jika seorang pria meninggalkan wanita yang menemaninya dari nol hanya demi wanita yang datang saat dirinya menuju kesuksesan. Maka mereka hanya akan menikmati kehancuran."


"Humaira, Aku yakin bahwa kamulah dibalik kehancuran yang sedang dialami oleh aku dan Chiko."


"Tidak."


"Mengaku saja."

__ADS_1


"Dinda, Kenapa kamu merasa bahwa kehancuran yang sedang dihadapi oleh Chiko karena perbuatan aku? tidakkah kamu sadari jika kamu lah yang memulai kehancuran ini?"


"Dengar, Humaira. Jika kamu saat itu tidak meminta permintaan terakhir sebelum kamu bercerai dengan Chiko. Mungkin saat ini aku dan Chiko sudah hidup bahagia."


"Bukan urusanmu, kan?"


"Itu menjadi urusanku sekarang karena dampak dari apa yang sudah terjadi, aku harus kehilangan bayiku."


"Wah, jadi kamu sempat hamil? selamat yaa.."


"Humaira, sekarang aku mau minta kepada kamu agar kamu mengembalikan apa yang sudah menjadi Chiko."


"Dinda, kenapa kamu masih merasa bahwa akulah penyebab dari kehancuran perusahaan Chiko?"


"Memang benar kan? siapa lagi yang memiliki akses untuk bisa dengan leluasa melakukan sesuatu pada perusahaan Chiko selain kamu?"


"Dinda, Dinda. Sudah di uji seharusnya kamu sadar apa yang terjadi ini adalah karena kamu sudah merusak kebahagiaan dari rumah tangga seseorang."


"Humaira.."


"Maaf, ya. Aku sudah terlambat untuk menjemput kedua putriku."


"Humaira, kamu harus mengembalikan perusahaan itu seperti sedia kala."


Dinda tediam, Bagaimana bisa dia membantu perusahaan Chiko, sementara sekarang hubungannya dengan Chiko juga diambang kehancuran.


"Aku harus pergi, selamat menikmati buah yang sudah kamu petik."


Humaira kemudian pergi meninggalkan Dinda yang menatap kepergiannya dengan perasaan tidak menentu.


"Argh, Kenapa jadi seperti ini. Bukankah seharusnya aku janji kok sekarang hidup bahagia dan menikmati segala kemewahan yang sudah aku impikan sejak dulu," keluh Dinda.


"Jika seperti ini, sama saja aku harus kembali bekerja keras dan mencari seseorang yang mudah dirayu untuk aku jadikan pasangan sehingga aku tidak perlu lagi bekerja untuk menikmati segala kemewahan."


Dinda yang merasa kesal kemudian memilih untuk kembali ke kamarnya karena memang ia merasa harusnya tiba-tiba mengalami sakit.


Tanpa sengaja, Dinda melihat seorang wanita baru saja keluar dari gudang dengan tersenyum sambil memasukkan uang ke dalam tasnya.


Dinda memilih untuk bersembunyi di belakang tembok yang ada di sana agar perempuan yang baru saja keluar dari bidang itu tidak melihatnya.


Tak lama berselang, seorang pria juga ikut keluar dari sana. Dinda mengetahui jika pria itu adalah suami dari pasien yang juga mengalami keguguran sama sepertinya.


"Apa wanita tadi menjadi simpanan om om perut buncit ya?" lirih Dinda.


...--------------...

__ADS_1


Humaira tidak terkejut saat dirinya sampai di rumah orang tua Chiko, Humaira melihat Chiko yang sedang bermain dengan kedua putrinya.


"Humaira?" Chiko tersenyum saat melihat kedatangannya Humaira, namun sebaliknya, Humaira langsung menghampiri kedua orang tua dan juga ayahnya.


Terlihat raut wajah kekecewaan Chiko, tapi Humaira memilih untuk tidak menghiraukannya karena dia sudah benar-benar Ingin menutup lembaran hidup yang lama dan membuka lembaran yang baru bersama dengan kedua putrinya dan juga sang ayah.


Chiko terus saja Humaira, hingga kemudian Holik mengajak Humaira untuk pergi.


"Nak, jangan lupakan kami ya. Jika suatu saat kamu merindukan kami kamu boleh datang kapan pun kamu inginkan, walaupun kamu sudah bukan lagi menantu kami. Tapi kamu tetap menjadi putri mama," ucap mama sambil menangis memeluk Humaira.


"Ma, Kenapa mama berkata seolah-olah Humaira akan membawa Aisyah dan juga Almira pergi dari negara ini?" tanya Chiko.


"Aku memang akan membawa putri dan juga kedua cucuku pergi dari negara yang sudah memberikan luka. Aku akan membawanya ke negara, dimana dia akan mendapatkan ganti atas kesedihan yang sudah kamu berikan kepadanya," ucap pak Holik.


"Aku pamit ya, mama, papa." Humaira mencium tangan kedua orang tua Chiko sebelum Humaira lebih dulu keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam mobil bersama dengan kedua putrinya.


Chiko tentu saja merasa terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.


Tidak, aku tidak boleh membiarkan Humaira pergi bersama dengan kedua buah hatiku.


Chiko kemudian segera berlari dan menahan tangan Humaira.


"Lepaskan." ucap Humaira.


"Humaira, Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Aku tahu aku melakukan kesalahan dan kamu pasti mempunyai kebesaran hati untuk memberikan aku kesempatan kedua." Ucap Chiko sambil berlutut di Humaira.


Chiko sepertinya sudah tidak peduli dengan orang-orang sekitar yang menatap ke arahnya, Karena sekarang yang ada di dalam pikirannya adalah menyelamatkan perusahaan yang sudah diambang kehancuran. Dan satu-satunya cara untuk mengembalikan kejayaan perusahaannya adalah, memperbaiki hubungan rumah tangga yang sempat kandas karena kesenangan sesaat.


"Apa kamu tidak malu berlutut di hadapanku seperti ini?" tanya Humaira.


"Tidak,"


"Kenapa kamu tidak malu saat semuanya sudah berakhir? Kenapa kamu tidak malu saat kamu memutuskan untuk bercerai dari aku demi bisa menikahi Dinda?"


Deg !!


Chiko merasa tersentil dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Humaira.


"Maaf, Chiko. Aku sudah bahagia karena ternyata Tuhan menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Sekarang, Selamat menikmati hubungan baru yang selalu kamu impi-impikan."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2