
Keesokan harinya, Chiko sudah berpakaian rapi dan siap untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Chiko tidak ingin kedua orang tuanya curiga sehingga mereka memilih untuk mencari tahu sebenarnya apa yang dilakukan oleh Chiko, sehingga setiap mereka ingin bertemu atau sekedar berbicara dengan Chiko. Chiko tidak pernah ada.
Dinda melambaikan tangan ke arah Chiko, dan menunggu hingga mobil Chiko hilang dari pandangan.
Dinda berjalan masuk kembali menuju apartemennya sambil terus teringat perkataan Humaira.
Tidak, Aku tidak akan membiarkan hubunganku berakhir hanya karena jika akan menghabiskan waktu selama 1 bulan bersama dengan istri dan kedua anaknya. Aku akan memastikan bahwa jika benar-benar memilihku dan akan melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan.
Chiko yang baru saja sampai di rumah kedua orang tuanya segera masuk dan mencari keberadaan sang Papa.
"Keluarga disebut sebagai sumber kebahagiaan bagi sebagian orang. Keluarga juga kerap dikatakan sebagai tempat kembali dari segala permasalahan. Segala tekanan yang kamu rasakan bisa seketika luntur dengan pelukan hangat keluarga. Tapi kenyataannya tidak semua orang merasakan kehangatan yang sama. Masing-masing keluarga akan memiliki situasi dan tantangan yang berbeda. Hal ini menjadi salah satu pembentuk kondisi keluarga."
Hah, Kenapa Papa tiba-tiba berbicara seperti ini? apa jangan-jangan Mama dan Papa sudah tahu bahwa selama ini aku dan Dinda mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar hubungan Bos dan sekretaris?
"Orangtua tidak akan lelah dalam memberikan nasihat kepada anak agar terhindar dari hal yang buruk. Meskipun ada juga cara orangtua yang satu ini dianggap menjadi gangguan untuk para anak. Tapi kamu harus menyadari, nasihat adalah bentuk kasih sayang tak terhingga yang diberikan ayah dan ibu. Mungkin kamu akan menyepelekan beberapa nasihat orangtua. Tapi kelak kamu akan sadar bahwa pesan dari orangtua inilah yang akan menuntunmu menuju kesuksesan."
"Tunggu, tunggu. Sebenarnya apa yang ingin Papa sampaikan sehingga Papa sangat ingin untuk bertemu dengan aku? kenapa aku merasa bahwa percakapan ini seolah-olah seperti Papa sedang mencoba untuk menyampaikan wasiat terhadap aku?" tanya Chiko.
"Setiap orang tua tentunya mengharapkan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya. Sehingga wajar jika dalam mendampingi sang anak turut diberikan nasihat yang sarat akan makna." Ucap Mama yang baru saja datang dari arah dapur sambil membawa nampan berisi 2 minuman dan beberapa cemilan.
Mama meletakkan itu di meja yang ada di antara kursi tempat di mana Chiko dan suaminya duduk.
"Bagi seorang anak, keluarga yang berupa ayah, ibu, kakak, maupun adik adalah tempatnya pertama kali saat terlahir ke dunia. Keluargalah yang menjadi sekolah pertama yang mengajarkan dasar-dasar kepada sang anak. Seperti berjalan, berbicara, hingga nantinya siap untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar," ucap Mama.
__ADS_1
"Oleh karena itu, wajar saja jika orang tua sangat menyayangi dan menjaga anak-anaknya dengan sebaik mungkin. Agar nantinya sang anak bisa memiliki budi pekerti yang baik dan mampu bersikap baik di lingkungan sekitar."
"Mama, Aku bukan anak kecil yang harus dinasehati seperti itu. Apa Mama lupa jika aku sudah dewasa bahkan aku bisa mengerti mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk aku dan kehidupan aku."
Kedua orang tua Chiko saling berpandangan karena begitu terkejut Chiko akan mengatakan hal demikian terhadap orang tuanya.
Mereka semakin yakin bahwa memang telah terjadi sesuatu antara rumah tangga Ciko dan Humaira.
Chiko yang mengetahui perubahan ekspresi dari kedua orang tuanya, segera memejamkan mata dan mencoba untuk mencari kata-kata demi bisa mencairkan suasana.
"Maaf, aku tidak bermaksud berkata demikian. Aku hanya tidak mengerti dengan arah pembicaraan Papa yang ingin sekali berbicara denganku."
"Wajar saja jika seorang ayah ingin bertemu dan berbicara empat mata bersama dengan anak laki-lakinya. Bukankah kamu sudah jarang menghabiskan waktu bersama dengan kami selama beberapa bulan terakhir? bahkan Papa tidak ingat kamu mengajak istri dan juga kedua anakmu untuk menginap di sini setiap akhir pekan."
"Maafkan aku Papa, mungkin aku terlalu fokus pada pekerjaan sehingga melupakan kebiasaan aku yang membawa istri dan anakku untuk datang ke sini. Aku berjanji setelah ini aku akan sering membawa mereka datang."
"Chiko, umur orang tua tidak akan ada yang tahu sampai kapan. Jadi jangan pernah lelah untuk mendengarkan nasehat yang akan mereka berikan," ucap mama sebelum memilih untuk pergi karena mama harus mengunjungi adik Chiko yang baru saja kembali dari luar kota karena ikut suaminya.
Setelah kepergian Mama.
"Tak lelah bagi para orang tua selalu memberikan nasehat untuk anak. Melalui nasihat tersebut diharapkan anak bisa menyerapnya dengan baik dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Karena kita tentunya tidak tahu seberapa lama orang tua bisa terus berada di samping anak-anaknya. Sehingga dengan memberikan nasihat, orang tua telah meninggalkan hal-hal baik untuk sang anak."
"Ya Papa, Chiko akan selalu menerima nasehat papa dan tidak akan pernah bosan untuk mendengarkannya. Bahkan sampai sekarang Chiko masih mengingat nasehat papa saat Ciko akan menikah."
Papa tersenyum sambil menyeruput minuman hangat yang sebelumnya sudah disediakan oleh sang istri.
__ADS_1
Chiko sekarang dalam perjalanan pulang dari rumah kedua orang tuanya, jika sebelumnya jika berencana untuk langsung pulang ke rumah Dinda karena ini adalah hari terakhir untuk bersamanya. Setelah mendengarkan beberapa pesan yang disampaikan oleh ayahnya, membuat Chiko memilih untuk pulang ke rumah.
Anakku, ingatlah jika kamu sudah menikah maka kamu bukan lagi lajang yang sendirian. Jika kamu bertingkah laku seakan-akan masih lajang maka kamu memang akan kembali menjadi lajang di hari kemudian.
Janganlah kamu menyakiti hati perempuan sang pujaan. Baik dengan ucapan maupun terlebih tindakan. Ingatlah luka hati akibat ucapan sama dalamnya dengan luka fisik akibat tindakan kekerasan. Dan jika terjadi luka-luka itu maka kamu sepanjang hidupmu tak akan termaafkan olehnya.
Jika kamu mulai bosan dan hendak meninggalkannya, ingatlah bagaimana dulu susahnya perjuanganmu untuk mendapatkannya.
Jangan banding-bandingkan dia dengan wanita lainnya karena belum tentu jika dihitung kebaikan wanita lainnya itu lebih banyak dari yang isterimu punya.
Ingatlah juga bahwa pernikahan itu tidak ada sekolahnya. Yang perlu dilakukan adalah menjalaninya. Ingatlah selalu janji pernikahan. Masa depan tak bisa diperkirakan. Mintalah Tuhan untuk selalu mendampingi kalian berdua sehingga selamat mengarungi bahtera sampai berdua pergi ke alam baka.
Chiko segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah saat dirinya sudah sampai dan memarkirkan mobilnya di parkiran mobil yang ada di depan rumahnya.
"Mas?" Humaira yang terkejut karena Chiko datang dan langsung memeluknya.
"Humaira, maafkan aku."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1