
Humaira memilih pulang karena merasa dirinya tidak akan pernah dihargai ataupun dibela saat berada di dekat Dinda.
Humaira tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan agar rumah tangganya tetap bertahan.
Bicara kehidupan rumah tangga memang tak melulu soal cerita bahagia. Setiap pasangan suami istri pasti akan menghadapi berbagai liku kehidupan rumah tangga.
Permasalahan yang terjadi bisa menyebabkan suami dan istri terlibat dalam konflik. Pada titik tertentu, ada kalanya istri merasa kecewa pada suaminya.
Rasa kecewa yang dirasakan Humaira, sepertinya berada dalam level tinggi. Dengan jelas Chiko meminta cerai dan memberikan alasan kenapa dia memilih bercerai daripada mempertahankan rumah tangganya yang sudah memiliki dua orang malaikat.
Aku hanya ingin menjadi istri yang terbaik untuk suami, namun sepertinya perjuanganku kini tidak berarti sejak kehadiran wanita lain yang singgah di hidup nya.
Humaira segera memberitahu kepada sopir taksi untuk pergi ke rumah sakit setelah Humaira mendapat telepon dari temannya. Hasanah.
Humaira berjalan menelusuri koridor rumah sakit untuk langsung menuju ruangan Hasanah.
Humaira masuk setelah mengetuk pintu.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Bagaimana apa kamu sudah memberi tahu Chiko?"
Humaira duduk dengan menghela nafas berat.
"Ada apa?" tanya Hasanah saat melihat wajah yang tidak biasa dari Humaira.
"Aku tidak bisa memberitahu Chiko dan tidak akan pernah memberitahunya."
"Kenapa?"
Humaira kemudian menceritakan perihal Jigo yang ingin bercerai dengannya karena ingin menjalani kehidupan yang baru bersama dengan selingkuhannya.
"Humaira, kamu harus bisa mendapatkan kembali kepercayaan Chiko untuk tetap melanjutkan rumah tangga kalian dan meninggalkan wanita gila itu."
"Aku sedang berusaha melakukannya dengan meminta jika melakukan syarat sebelum kita resmi bercerai."
"Apa syarat nya?"
__ADS_1
"Aku meminta dia selama satu bulan penuh menghabiskan waktu bersama dengan aku dan anak-anak. Aku bahkan mengatakan jika aku ikhlas pergi tanpa membawa anak-anak."
"Humaira, Kenapa kamu mengatakan itu? Bagaimana jika ternyata Chiko benar-benar membawa anak-anak pergi setelah kamu gagal untuk memperbaiki keadaan selama kalian melakukan syarat itu?"
"Hasanah, apa kamu lupa jika manusia hanya bisa berdoa dan berusaha. Kita berencana ada jalan takdir kita seperti ini, tapi jika semesta tidak mengharapkannya. Kita bisa apa?"
Hasanah memegang tangan Humaira, seolah-olah tahu apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Aku akan membantu kamu memberikan pengertian kepada Chiko."
"Tidak perlu, jika dia tidak mau mendengarkan perkataan aku sebagai istri dan juga orang yang mengetahui akan sifat baik dan buruknya. Tidak mungkin dia akan mendengarkan perkataan dan nasehat dari orang lain."
Hasanah menghela nafas panjang, sejauh yang Husna tahu sifat Chiko adalah dia yang tidak pernah menerima nasehat dari siapapun kecuali orang-orang terdekatnya.
"Lalu, apa yang akan kamu rencanakan?"
"Tidak ada, Aku hanya ingin memberikan kesan yang baik kepada anak-anak sebelum kami benar-benar bercerai jika memang aku tidak berhasil untuk membuat Chiko kembali ke jalan yang benar."
"Apa kamu akan merelakan jika bersama dengan wanita itu?"
"Aku rasa tidak ada satupun wanita di dunia ini yang ingin pernikahannya berakhir, terutama hanya karena orang ketiga. Tapi kembali lagi seperti yang sebelumnya aku ucapkan. Jika manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya semua keputusan ada di tangan Yang Maha Kuasa."
...----------------...
"Tidak bisa seperti itu, Dinda. Aku sudah berjanji kepadanya untuk memenuhi syarat terakhir yang dia berikan sebelum dia menandatangani berkas perceraian."
"Bagaimana jika ternyata saat kamu menjalani syarat itu dan menghabiskan waktu selama 1 bulan penuh bersama Humaira dan anak anak, kamu justru memilih untuk mempertahankan mereka dan melepaskan aku?" tanya Dinda yang sepertinya diam-diam merasa takut jika apa yang dikatakan oleh Humaira benar terjadi.
Ya, Bagaimana Dinda tidak takut dengan ancaman yang diberikan oleh Humaira. Mengingat sekarang antara Chiko dan Dinda tidak ada ikatan apapun selain ikatan per-ranjang-an.
"Tidak, Aku janji tidak akan sampai membuang kamu hanya untuk mempertahankan rumah tanggaku. Bukankah aku sudah berjanji untuk membangun biduk rumah tangga yang baru dan menebar cinta kita kepada dunia?
Dinda tersenyum dan langsung memeluk Chiko dan mengucapkan terima kasih.
"Aku tidak sabar untuk menunggu berakhirnya bulan depan agar aku dan kamu bisa meresmikan hubungan kita. Aku lelah terus menyembunyikan hubungan ini, Aku juga ingin seperti wanita lainnya yang memamerkan pasangannya di sosial media ataupun di muka publik."
"Sabar ya, hanya satu bulan."
__ADS_1
"Ya, dan itu artinya waktuku untuk bersama denganmu hanya tinggal 24 jam saja. Karena sebentar lagi aku tidak akan pernah bisa untuk bertemu denganmu dan berbagi kehangatan."
"Simpan rindu dan rasa sedihmu itu untuk nanti setelah kita bertemu dan bisa kembali berbagi kehangatan. Bukankah kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih nikmat karena sebelumnya kita sudah libur selama satu bulan penuh." Chiko mencubit pipi Dinda dan mengecup sekilas bibirnya.
"Chiko, Aku mencintaimu dan kamu tahu kenapa Aku begitu sangat mencintai kamu."
"Ya, aku juga mencintaimu kamu."
Dinda menarik Chiko untuk masuk ke dalam kamarnya, dan melakukan salam perpisahan sebelum mereka tidak akan pernah bisa melakukan apa yang selalu mereka lakukan.
Dinda tertidur setelah pergulatan panas mereka, Chiko menyandarkan tubuhnya pada dipan tempat tidur sambil mengelus lembut rambut Dinda.
Chiko tiba-tiba kembali teringat dengan ucapan yang diucapkan Humaira.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, Chiko sebenarnya masih mencintai Humaira. Hanya saja, ambisi dan hasratnya terhadap Dinda menutupi cinta sucinya kepada Humaira.
Chiko bangkit dari tempat tidur dan memakai celananya setelah melihat bahwa ponselnya menyala, tanda bahwa ada panggilan masuk dalam mode diam.
Chiko perlahan-lahan keluar dari kamar dan menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang membuat Dinda terbangun.
"Ya pa?"
"----"
"Maaf pa, Chiko sedang berada di luar kota dan akan kembali besok. Chiko janji akan segera datang ke rumah begitu Chiko pulang dari luar kota dan menyelesaikan pekerjaan Chiko."
Chiko menghela nafas panjang dan meletakkan ponselnya, jika mulai berpikir tentang apa yang ingin dibicarakan oleh sang Papa sehingga memintanya untuk segera datang begitu pekerjaannya selesai.
Chiko terus berbohong kepada kedua orang tuanya saat mereka menanyakan di mana posisi Chiko.
Chiko mengambil kembali ponselnya dan menggeser foto untuk melihat kemesraannya bersama dengan Dinda, hingga pada slide terakhir Chiko menemukan foto kedua putrinya. Seketika jika teringat dengan perkataan terakhir Humaira sebelum pergi meninggalkan kantor.
Silakan pergi jika kau sudah tidak sanggup bersama, namun lihatlah mata anak yang selalu menantimu di rumah untuk bisa bersama.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...