Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Tidak jadi Tamat


__ADS_3

"Chiko, kamu kenapa?" tanya Dinda saat dia datang untuk membawakan makan siang.


"Humaira datang ke sini."


"Ha? untuk apa dia datang? oh aku pasti tahu dia datang karena ingin meminta harta gono gini?"


"Tidak."


"Lalu apa?"


"Dinda, Bukankah kamu bilang bahwa kamu sudah mencarikan perawat pribadi untuk papa?" tanya Chiko.


"Iya, kenapa? bukankah kita sudah sepakat untuk membiarkan papa kamu tinggal di lantai bawah dan di belakang rumah?"


"Apa kamu yakin jika Papa diurus dengan baik oleh perawat itu?"


"Chiko, Kamu ini kenapa sih tiba-tiba membahas tentang papa kamu yang sudah tidak berdaya itu?" Dinda kini bertanya balik karena merasa ada sesuatu yang janggal dari pertanyaan Chiko.


Chiko terdiam, kemudian dia teringat dengan kata-kata Humaira sebelum Humaira pergi.


Flashback on..


"Humaira, Apa maksud kamu dengan mengatakan bahwa aku mengurung papaku sendiri? Aku tahu aku memang melakukan sedikit kelicikan untuk membuat aku mendapatkan apa yang memang sudah seharusnya menjadi hakku."


"Ckckck, berpisah dari ku bukan membuat kamu menjadi semakin bijak dan juga pintar. Justru membuat kamu semakin terjerumus ke dalam lembah kebodohan. Chiko, Jika kamu masih tetap seperti ini maka kamu tidak akan selamat ada di dunia ini. Karma akal segera datang kepadamu dan Penyesalan akan selalu mengikutimu seumur hidup."


"Humaira, Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Jujur, walaupun aku sudah merubah sedikit surat wasiat dari papa tapi aku tidak sedikitpun mengurung papa dan tetap memperlakukannya dengan baik."


"Oh really? lalu siapa orang yang kamu percaya untuk mengurus papa?"


"Dinda."


"Sudah aku duga. Aku beri kamu waktu untuk mencari kebenarannya tentang Dinda, sebelum aku yang akan membawa karma pertama untukmu."


Flashback off...


Apa Humaira mencoba ingin mengatakan kepadaku bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan papaku dan itu karena ulah dari Dinda??


Chiko juga teringat dengan Humaira yang mengatakan bahwa dia harus mencari tahu kebusukan yang sebenarnya tersimpan di balik wajah cantik Dinda.


"Chiko, kamu kenapa?"


"Tidak ada, begini saja, karena kita sudah tidak akan lagi mengadakan pesta untuk memeriahkan kemenangan kita. Aku ingin kamu membuat Papa dirawat di kamar seperti biasa."


"Kenapa? Apa kamu tidak suka jika rumah itu hanya ditempati oleh kita berdua?"

__ADS_1


"Dinda, Bukankah Papa sudah tidak bisa berjalan lagi, sekalipun papa akan berada di kamarnya. Beliau tidak akan bisa pergi kemanapun tanpa bantuan dari perawat, kan?"


"Hmm, baiklah. Aku akan mengurusnya."


"Aku ingin bertemu dengan papa hari ini dan aku ingin makan siang bersama dengan beliau."


Deg !!


Dinda tiba-tiba terlihat pucat, dan itu membuat Chiko merasa memang ada sesuatu yang berkaitan dengan papanya.


"Dinda? Apa kamu mendengar apa yang baru saja aku katakan?"


"Tentu, aku akan menghubungi perawat itu dan membuat papa kamu berada di sini."


"Tidak, aku akan makan siang di rumah bersama dengan papa."


"Ba-baiklah." Dinda terlihat gugup sambil memainkan ponselnya.


Chiko lebih dulu keluar dari ruangannya sementara Dinda segera menelpon orang yang dia tugaskan untuk menjaga Papa.


Betapa syok nya Dinda saat orang yang dia perintahkan untuk menjaga Papa Chiko mengatakan bahwa Papa Chiko tidak ada di gudang belakang rumah.


"Mati aku.."


Dinda segera menyusul Chiko dan mencari berbagai alasan agar Chiko tidak pulang ke rumah hari ini karena Dinda harus menyelidiki tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Tidak, tadi aku hanya mendapatkan kabar dari perawat yang sedang merawat papa, perawat itu mengatakan bahwa sekarang Papa harus menjalani terapi di rumah sakit."


"Kalau begitu kenapa kita tidak datang langsung ke rumah sakit saja?"


"Chiko, jam makan siang kamu hanya satu jam dan setelah itu kamu harus kembali melakukan pekerjaan yang memang harus kamu lakukan karena selama beberapa hari ini kamu meninggalkan pekerjaan karena pesta di rumah. Apa kamu ingat?"


"Baiklah."


Dinda akhirnya bisa bernafas lega saat itu berbalik arah dan kembali ke ruangannya untuk melakukan makan siang bersama dengannya.


Setelah selesai makan siang Dinda segera pulang ke rumah untuk mencari tahu kebenaran atas berita yang dia terima, mengenai Papa Chiko yang sudah tidak ada lagi di gudang belakang rumah.


"Cari siapa?" suara familia tiba-tiba mengejutkan Dinda saat Dinda sedang memporak-porandakan gudang penyimpanan itu untuk mencari keberadaan papa.


"Humaira?" Dinda semakin terkejut saat dia berbalik arah dan mendapati Humaira ada disana.


"kenapa kamu melihat kedatanganku?"


"Ti-tidak. Siapa juga yang terkejut melihat kedatangan kamu," ucap Dinda dengan nada gugup.

__ADS_1


Humaira berjalan memutari Dinda, dan itu membuat Dinda merasakan sedikit ketakutan.


"Kenapa? apa kamu takut jika aku mengadukan perbuatan kamu ke polisi?"


"Perbuatan apa maksud kamu?" tanya Dinda yang berusaha menetralisir rasa gugupnya.


"Cih, apa Kamu pikir aku akan diam saja saat aku mengetahui bahwa kamulah dalam dibalik terkurungnya Papa Chiko?"


Deg !!


"Jangan sembarang kamu."


"Oh ya? aku juga tahu jika kamu bekerja sama dengan salah satu pengacara untuk mengubah isi surat wasiat dari papa Chiko. Dan yang paling parah adalah kamulah yang membuat mama Chiko terkena serangan jantung sehingga meninggal dunia."


"Jangan asal menuduh jika kamu tidak mempunyai bukti nya." Ancam Dinda.


"Jika kamu merasa bahwa aku tidak memiliki bukti atas kejahatan yang kamu lakukan, Kenapa kamu tidak masuk ke dalam dan melihat di kamar utama tempat kamu janjiku menghabiskan malam bersama," ucap Humaira sambil tersenyum smirk.


Dinda segera berlari masuk ke dalam rumah, tidak, bukan hanya masuk ke dalam rumah tapi Dinda segera menuju kamar.


Disana Dinda terkejut karena banyak sekali foto-foto dan juga video yang menampilkan kejahatan Dinda.


"Bagaimana? apa kamu merasa bahwa aku masih belum mempunyai cukup bukti untuk membawa kamu ke sel tahanan?" tanya Humaira yang kini berada di depan pintu kamar Dinda.


Humaira yang memikirkan bagaimana cara untuk mengetahui siapa orang yang sudah membuat Mama Chiko tak kena serangan jantung, teringat dengan perkataan mama yang mengatakan bahwa mama sengaja memasang CCTV tersembunyi di setiap guci yang ada di rumah itu.


Siapa sangka, salah satu CCTV merekam kejadian saat Dinda dengan sengaja membuat Mama terkena serangan jantung.


"Aku memberimu pilihan, pergi dari sini dan menghilanglah dari dunia. Atau aku yang akan memberikan karma nyata."


"Cih, memangnya apa yang bisa kamu lakukan? aku tidak pernah takut pada siapapun." tantang Dinda.


"Baiklah, permainan pertama akan segera datang."


Tak lama setelah Humaira pergi, pengacara yang bekerjasama dengan Dinda datang dan mengatakan bahwa dia akan menarik berkas mengenai surat wasiat yang sudah dirubah sebelumnya.


"Dinda, seseorang sudah membuat aku dipecat dari jabatan sementara dan mengambil semua yang aku miliki. Itu karena aku sudah membantu kamu dalam rencana licik."


Humaira, jadi seperti ini cara kamu untuk mendapatkan semua harta kekayaan milik keluarga Chiko? lihat saja aku tidak akan membiarkan kamu memilikinya.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2