
Chiko langsung mengajak Aisyah dan Almira untuk mencari sesuatu demi membuat kejutan untuk Humaira.
"Besok hari Ibu, bertepatan dengan ulang tahun ibu juga. Bagaimana kalau kita membuat kejutan untuk Ibu?" ucap Chiko dalam perjalanan pulang dari sekolah.
"Mau.." ucap Aisyah dan Almira secara bersama.
Chiko langsung membawa mereka berbelanja hadiah di mall dan membeli pernak-pernik untuk mendukung mereka membuat kejutan.
Humaira yang mendengar suara ketukan, sangat bersemangat turun untuk menyambut kedatangan kedua putrinya.
Ya, setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Humaira. Mengira yang datang adalah Chiko dan anak-anak.
Dengan penuh semangat dan senyuman, Humaira membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, senyuman yang ada di wajah Humaira. Hilang seketika.
"Kejutan yang sangat tidak menyenangkan," ketus Humaira.
Tamu yang datang itu, dengan sangat tidak sopan memaksa masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi yang ada di rumah tamu.
"Rasa bahagia kerap menjadi emosi yang diinginkan oleh setiap orang. Di dunia ini hampir tak ada seorang pun yang tidak menginginkan bahagia. Kebahagiaan merupakan tujuan utama dalam kehidupan manusia. Namun, kebahagian juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya uang, kehidupan sosial, kesehatan, pendidikan, pasangan dan banyak lainnya. Bersama orang-orang terkasih, membuat kita merasa aman, nyaman, dan tenteram."
"Apa kamu datang untuk memberikan ceramah?"
"Tidak, aku datang karena besok aku tidak akan pernah bisa menghabiskan waktu bersama dengan Chiko selama sebulan dan itu gara-gara kamu."
"Wajar saja karena aku adalah istri nya. Sedangkan kamu?"
"Aku diciptakan untuk mencarinya, menunggunya, dan menjadi miliknya selamanya," Dinda mengatakan itu seolah-olah dia merasa bahwa Chiko di takdirkan untuk nya.
"Dunia tidak sesempit itu. Masih banyak orang lain yang lebih berhak mendapatkanmu. Kenapa kau memilih orang yang sudah punya pendamping hidup?"
"Mudah bagimu mengatakan itu, tapi tidakkah kamu mengetahui bahwa sebenarnya jiwa kami sudah terhubung satu sama lain sejak dulu? itulah kenapa saat kami baru pertama bertemu sudah ada getaran cinta yang kami rasakan."
__ADS_1
"Hanya akan ada penghinaan dan kau melakukannya untuk orang yang salah. Pasangan yang kau rebut pun tidak akan pernah memandangmu sebagai wanita terhormat. Ia akan menjadikanmu wanita pelarian, karena tak bisa kembali pada pasangannya dulu."
"Aku tahu, kamu mengatakan itu untuk menutupi rasa takut yang ada di dalam hati kamu karena sebentar lagi Chiko akan menjadi milikku dan akan menghempaskan kamu dari hidupnya."
"Jika kedatangan kamu mau ke sini hanya untuk mengatakan hal bohong, lebih baik silakan kamu pergi dari rumah ini."
"Kenapa? apa kamu takut jika ternyata bendera kekalahan sudah terlihat jelas di depanmu?" ucap Dinda yang membuat Humaira hanya bisa menghela nafas panjang.
Humaira dari tadi masih berdiri di dekat pintu dan hanya melihat Dinda yang duduk di kursi tamu dan terus membuat tentang dirinya.
"Sebagai sesama perempuan, harusnya kamu tahu perasaanku. Mungkin kamu nggak punya perasaan," ucap Dinda sambil membenarkan rambut nya.
"Ha? apa aku tidak salah dengar? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu karena di sini kamulah yang menjadi pelakornya. Kamu yang menjadi duri dalam kehidupanku."
"Maaf, tapi aku tidak menjadi duri dalam kehidupan kamu. Aku jadi cahaya kebahagiaan di dalam hidup Chiko."
Humaira rasanya ingin mencabik-cabit mulut wanita yang ada di hadapannya ini, tapi Humaira sadar bahwa dirinya yang terkena lemah lembut tidak mungkin melakukan hal memalukan seperti itu.
"Kenapa kamu masih tidak sadar? Kau tak akan mendapatkan apapun ketika merebutnya dari orang lain," ucap Humaira.
"Kamu bisa bersembunyi dari kesalahanmu, tapi nggak dari penyesalanmu. Kamu bisa saja bermain dengan dramamu, tapi nggak dengan karmamu."
"Haha? jaman sekarang masih saja percaya pada karma," kekeh Dinda.
Dinda berdiri dan menghampiri Humaira.
"Jangan pernah memaki jika tidak tahu cerita yang sebenarnya."
"Apapun cerita sebenarnya, bagaimana pun kondisi maupun perasaanmu. Jangan terlalu berharap akan ada yang bersimpati padamu. Bersikukuh merebut si dia dari pasangannya hanya akan menganugerahimu cap kotor, perebut pasangan orang, dan berbagai julukan mengerikan lainnya."
"Aku hanya tak habis pikir, kenapa ada orang seperti kamu didunia ini? Lihat saja, kamu tak akan mendapatkan apapun. Dia milikku dan akan selamanya begitu," ketus Dinda.
"Wajar saja, karena aku adalah orang yang menemaninya dari nol hingga menjadi sukses seperti ini. Kamu hanya wanita yang datang setelah kesuksesan nya. Kamu mana tahu perjuangan yang harus dia lalui untuk mencapai kesuksesan sampai sebesar ini."
__ADS_1
"Wah, ternyata istri ini begitu menyayangkan jika harus berpisah dengan suaminya yang sudah kaya raya. Jangan khawatir, bukankah Chiko sudah berjanji akan menanggung biaya hidup kedua putrimu sampai mereka lulus universitas? jadi kamu tidak perlu susah payah bekerja untuk menyekolahkan mereka. Kamu hanya perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu sendiri yang tidak akan lagi menjadi tanggung jawab Chiko."
"Jangan terlalu banyak berharap untuk orang yang bukan milikmu. Karena sekarang aku sudah tahu, aku akan membuka mata pasanganku. Ia akan minta maaf dan kembali padaku. Meninggalkanmu seorang diri yang dipenuhi rasa malu."
Dinda meninggalkan rumah Humaira tanpa berbicara sepatah kata pun.
Tak lama setelah kepergian Dinda. Chiko dan anak anak datang.
"Mas, kamu harus memberikan pengertian kepada wanita kamu agar bersikap sopan saat dia menjadi tamu di rumah ini," ucap Humaira setelah dia selesai menidurkan anak anak.
"Apa maksud kamu?"
"Apa kamu tidak tahu jika dia baru saja datang ke sini dan bertingkah sangat tidak sopan."
"Biarkan saja, dia memang seperti itu suka berbuat semaunya."
"Mas?"
"Apa? sudah lah Humaira. Lagipula dia datang mungkin hanya berkata sesuatu yang berkaitan tentang pernikahan kami setelah aku bercerai dengan kamu."
"Jika takdir wanita hanya menemani dari awal hingga pria capai kesuksesan kemudian ditinggalkan, maka kemungkinan wanita akan melihat pria hancur dengan pasangan barunya."
"Lagi lagi kamu mengatakan itu, Apa kamu sedang mendoakan agar aku mengalami kebangkrutan setelah bercerai dengan kamu?"
"Mas, Aku Hanya mengingatkan kamu jika wanita yang datang setelah pria itu memiliki kesuksesan yang menjulang tinggi. Bukanlah wanita yang pantas untuk kamu ajak hidup dalam bahtera rumah tangga."
"Apa kamu sedang mencoba untuk mengatakan bahwa wanita yang pantas untuk aku ajak hidup bersama dalam bahtera rumah tangga adalah kamu?" ucap Chiko yang membuat Humaira sedikit terkejut.
"Humaira, Jangan hanya karena kamu yang menemani aku dari nol hingga aku mencapai kesuksesan seperti sekarang, kamu berhak mengatur hidup aku."
"Tidak Humaira. Ini adalah hidupku. Keputusanku sudah bulat untuk menikahi Dinda dan bercerai dengan kamu."
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...