
"Aku sedang dalam suasana hati yang baik, jadi aku tidak akan bertengkar dengan kamu. Bukankah aku sudah berjanji akan mengikuti semua yang kamu inginkan?" ucap Chiko kemudian.
"Aku hanya ingin menyampaikan, jangan memiliki harapan yang terlalu tinggi untuk pernikahan kita, setelah mendengar nasihat yang disampaikan oleh orang tua ku."
"Aku tahu, awalnya memang berat. Tapi lambat laun mereka pasti akan mengerti."
Chiko memberikan sebuah buku catatan yang sudah usang kepada Humaira.
"Apa ini?" tanya Humaira.
"Dulu aku suka sekali menulis kata kata untuk mengungkapkan perasaan, hanya saja aku tidak berani memberikannya kepada kamu."
Humaira menerima catatan itu, sementara Chiko keluar dari kamar.
Hmm, kamu memberikan catatan ini agar aku bisa memiliki waktu untuk melakukan panggilan video bersama dengan Dinda.
Humaira kemudian memutuskan untuk membuka catatan yang sudah usang itu. Dia memilih diam dan memilih untuk pura-pura tidak tahu tentang apa yang dilakukan oleh Chiko.
Telah datang Pemberi Kabar,
Dari balik dinginnya fajar,
Bahtera cinta mulai berkibar,
Akan datangnya anugerah yang besar…
Kulihat, kutatap, kuamati mukamu,
Berseri indah menyapu haru,
Kujabat salam tangan ayahmu,
Kuutarakan sumpah dan janji suci itu…
Hari itu, tak ada kata berpaling,
Kau bukan lagi wanita asing,
Kini hidup baru telah riba,
Satu atap bersamamu hingga menua…
Kaulah kekasih halalku,
Kekasih hidup dan matiku,
Dari siang hingga malam berlalu,
Temanilah aku wujudkan rindu…
Amanah besar kan ku emban,
Bawamu menuju indah kehidupan,
Merangkai peristiwa penuh kesan,
Dengan kasih tanpa rasa bosan…
Humaira tersenyum karena dia tidak menyangka jika Chiko mampu merangkai kata-kata yang begitu indah. Kata yang membuatnya merasa beruntung memiliki pria seperti nya.
Humaira kemudian membuka lembar berikutnya yang sudah terlihat sobek. Humaira mengambil sebuah isolasi kemudian merekatkan keduanya agar bisa dibaca dengan jelas.
Dimulai semenjak hari itu,
Tekatku bulat asaku menyatu,
Memberi arti dalam hidupmu,
Sebagai teman pelepas rindu….
Wanita terindah anugerah Tuhan,
Bersamamu wujudkan sejuta angan,
Ciptakan momen penuh kesan,
Ceritakan hari hilangkan ratapan….
Untukmu wahai Istriku tersayang,
Tak perlu ragu pun bimbang,
Cinta yang ada takkan hilang,
Sampai ajal pasti kukenang….
Seluruh cinta kupersembahkan,
Darimu ialah semua harapan,
Tak ada jenuh maupun bosan,
Dari hari ini hingga di kemudian….
Temani aku menuju Surga-Nya,
Kubimbing engkau dengan setia,
__ADS_1
Bilamana nyawa lepas dari raga,
Bahagia denganmu sepanjang masa
"Masyallah, sebenarnya aku adalah wanita yang sangat beruntung karena memiliki seorang suami yang sangat romantis. Hanya saja Aku tahu aku tidak tahu di mana letak kesalahanku sehingga suamiku kini berpaling dari aku."
Humaira kemudian melewati beberapa lembar dan berhenti pada lembar di mana pada tanggal itu tertulis di hari saat pernikahannya berusia 5 tahun.
Istriku,
Amanah taklah kecil bagimu,
Yang Tuhan Titipkan kepadamu,
Di sepenggalan sisa usiaku…
Dia hadirkan engkau untukku,
Yang haus akan kasih sayangmu,
Secercah cinta terbit dimatamu,
Meski segumpah gundah jua menjamu…
Kaulah istriku,
Penghibur sedih dan laraku,
Pelarai cemas dan gelisahku,
Pengusir gundah dan dukaku…
Wahai istriku tercinta,
Kubimbing engkau menuju Surga-Nya,
Begitu besar harapan tercurah,
Disetiap kali kedua tangan mengadah…
Hai istriku tersayang,
Kehadiranmu membuatku tenang,
Semula haru berubah girang,
Untuk jalani hidup yang panjang…
Ibu dari Anak-Anakku
Kala wajah letihmu kutatap,
Terlihat penuh asa dan harap,
Namun tak pernah lelah mendekap…
Untukmu wahai sang istriku,
Untukmu ibu dari anak-anakku,
Terima kasih yang besar kuutarakan selalu,
Atas kasih sayang dan cintamu…
Tiada kata letih dalam menjaga,
Mendekap erat segenap jiwa raga,
Meski kadang terluka oleh kata,
Ikhlas dan tabah selalu kau jaga…
Tetaplah jadi ibu dari anak-anakku,
Tetaplah jadi satu istriku,
Tiada rasa bosan pun jemu,
Aku mencintai dirimu selalu…
Ketulusan Cintamu
Telah datang kabar gembira,
Dari Sang Maha Pencipta,
Atas terjawabnya sebuah do’a,
Terwujudnya sebuah asa…
Hadirmu, memberi warna baru,
Memberi cahaya di dalam kalbu,
Di bawah awan dan langit biru,
Kaulah hadir yang selalu ku tunggu…
__ADS_1
Ketulusan cintamu tak pernah ku ragu,
Kelembutan kasihmu kuharap selalu,
Semoga kita tetap bersatu,
Hingga terpisahkan oleh waktu…
Kau lebur semua gundah di dada,
Kau sirami panasnya hati membawa,
Lewat ikhlas cinta yang kau bawa,
Membuat namamu selalu terselip dalam do’a…
Terima kasih Tuhan atas Anugerah-Mu,
Kau titipkan seorang wanita pemalu,
Malu jika mengingkari-Mu,
Malu saat matanya menatapku
❤️❤️❤️❤️
Humaira segera mengambil ponselnya untuk mengambil setiap gambar yang berada di dalam buku catatan yang sudah usang itu.
Humaira berniat menjalin semua kata-kata yang ada di sana dan akan meletakkannya di album foto catatan yang sedang dia kerjakan.
"Jika memang kamu masih jodohku dan yang sedang terjadi pada kita merupakan salah satu ujian dalam rumah tangga. Aku akan berusaha keras untuk mempertahankan dirimu dan rumah tangga kita. Tapi jika memang takdirku menemanimu hanya sampai disini saja, aku tidak akan menyesal karena kamu sudah memberikan aku banyak sekali kebahagiaan."
Humaira kemudian berjalan untuk melihat apakah suaminya masih belum selesai menelpon kekasihnya.
Benar saja, Humaira menemukan Chiko sedang berada di belakang rumah mereka.
Mungkin beginilah adanya
Usaha yang sudah tak berdaya
Terkadang aku bertanya…
Kapan giliranku bahagia?
Hati kecil berkata
Sabar dan ikhlas adalah kuncinya
Harapan adalah pintunya
Namun, apakah ada yang bisa jelaskan, bagaimana cara membukanya?
Terdengar jelas sekali Chiko mengatakan bahwa dia sangat merindukan Dinda dan sedikit berbohong kepada Dinda, jika Chiko tidak menyentuh Humaira.
Humaira memilih untuk masuk ke dalam dan melihat kedua putrinya yang sudah tertidur.
Ada rasa sesak saat melihat kedua putrinya tidur dengan sangat pulas.
Sabar adalah kunci kesuksesan
Tapi usaha adalah jalan utamanya
Semesta, tolonglah anak kecil ini
Untuk sampai pada titik yang di nanti
Bukannya tak bisa
Bukannya tak ingin usaha
Sedari dulu, batin ini sudah tersiksa
Yang pada akhirnya, hanya menyisakan luka di dada
Bukankah sabar ada batasnya?
Namun dimana batasku?
Sampai titik ini, aku masih di sapa
Oleh keganasan nestapa.
Setelah mencium Aisyah dan Almira secara bergantian, Humaira memilih untuk kembali ke kamar dan dia melihat jika sudah ada di sana. Chiko tersenyum dan berjalan menghampiri Humaira dan langsung memeluknya.
"Aku mencintaimu, terima kasih karena sudah menjadi wanita luar biasa yang menemani aku, dari awal karir hingga sekarang aku menjadi seperti ini."
Hmm, sepertinya kamu sangat bahagia setelah mendengar suara dari kekasihmu itu.
"Aku jadi penasaran bagaimana reaksi dari ulat bulu itu, jika mengetahui bahwa aku dan suamiku melakukan bulan madu yang halal," lirih Humaira.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1