
Chiko terkejut saat melihat Arfan ada di perusahaannya.
"Tuan Arfan, sungguh kejutan yang menyenangkan. Anda datang ke perusahaan saya?" tanya Chiko.
"Ya, sebenarnya kamu tidak perlu mengatakan itu karena kedatanganku ke sini justru ingin menyampaikan kabar buruk perihal aku yang bersedia untuk menginvestasikan sebagian milikku pada perusahaan kamu."
"Apa maksud anda, Tuan Arfan?"
"Tuan Chiko, kita tidak mungkin akan membicarakan perihal bisnis di sini kan?"
Chiko melihat sekitar, dia kemudian sadar bahwa dirinya dan Arfan masih berada di ruang tamu perusahaan.
Chiko kemudian mengajak Arfan untuk menuju ruangan nya. Disana Arfan di temani sekretaris nya menyampaikan tujuannya datang ke perusahaan Chiko.
"Tunggu. Bukankah baru kemarin anda menyetujui untuk membantu perusahaan saya?" tanya Chiko yang terkejut saat sekretaris dari Arfan menyampaikan bahwa kedatangannya ke sini untuk membatalkan apa yang sudah menjadi kesepakatan mereka hari kemarin.
"Ya, itu sebelum saya mengetahui fakta bahwa perusahaan anda terlibat kecurangan jumlah dana sehingga membuat para investor menarik investasinya pada perusahaan anda."
Deg !!
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Chiko.
"Maaf, tuan Chiko. Saya masih banyak urusan yang harus saya selesaikan hari ini juga. Jadi Saya harap anda memaafkan karena saya tidak jadi membantu perusahaan anda yang sekarang sedang mengalami penurunan."
"Tuan Arfan, Bukankah anda sudah bersedia untuk membantu teman Anda Dinda? perusahaan ini juga miliknya karena Dinda adalah istri saya sekarang."
"Jika memang anda sangat menginginkan saya untuk membantu perusahaan. Saya bersedia asalkan anda bersedia merelakan Dinda untuk saya."
Brak !!
Chiko refleks memukul meja. Sementara Arfan tersenyum seolah-olah dia sedang mengejek Chiko.
"Kenapa kamu masih mempertahankan wanita yang jelas-jelas mengkhianati kamu dan membohongi kamu?"
"Apa maksud kamu?"
"Apa maksud saya? Bukankah sama tidak menarik jika aku memberitahukan kamu tentang apa maksud dari ucapan saya? lebih baik kamu mencari tahu sendiri apa maksud dari ucapan saya."
Arfan dan sekretaris nya kemudian memilih untuk pergi dari ruangan Chiko.
"Aku benar-benar tidak mengerti sekaligus penasaran kenapa orang yang baru bertemu dengan aku langsung berkata seperti itu?" lirih Chiko.
__ADS_1
Sementara itu, Dinda segera memutuskan untuk menemui Arfan begitu Chiko mengatakan jika Arfan baru saja datang dan membatalkan tentang niatnya untuk membantu perusahaan.
Sayangnya, Arfan yang baru saja harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Tidak sempat bertemu dengan Dinda. Hal itu tentu saja membuat Dinda merasa kesal.
Di rumah...
Chiko benar-benar tidak bisa beristirahat dengan tenang, karena dia memikirkan tentang nasib perusahaannya yang akan benar-benar bangkrut dalam satu minggu kedepan jika dia tidak segera menemukan investor.
Di sisi lain Chiko yang melihat Dinda tertidur, tiba-tiba kembali teringat dengan perkataan Arfan saat dia berada di kantornya.
"Apa mungkin Dinda mengkhianati aku dan berbohong perihal kehamilannya?"
Chiko kemudian teringat dengan tanda merah yang sempat dia temukan di leher bagian belakang Dinda, juga sifat agresif Dinda yang sepertinya sangat ingin melakukan hubungan suami istri dengannya.
"Apa mungkin dua hal itu berkaitan dengan apa yang dikatakan oleh Arfan. Sebaiknya aku segera mencari tahu kebenarannya. Tapi sebelum itu sepertinya tidak ada pilihan lain bagi aku untuk kembali membicarakan hal ini dengan ayahku."
"Ya, aku yakin tidak akan ada orang tua yang mau melihat anaknya hidup sengsara. Walaupun Papa tidak akan memberikan pulsanya kepadaku, setidaknya Papa tidak perlu memerintahkan orang-orang yang berinvestasi pada perusahaanku juga untuk mundur."
Pagi harinya...
"Chiko, kamu mau pergi kemana? sampai kapan kamu akan terus meninggalkan aku untuk urusan pekerjaan?"
"Dinda, Bukankah sudah aku katakan kepada kamu bahwa kita harus membuktikan kepada kedua orang tuaku. Jika kita bisa membuat perusahaan menjadi lebih baik lagi."
"Hmm, sepertinya memang sudah tidak ada pilihan lain selain kembali meminta bantuan dari orang tuaku."
"Apa kamu yakin mereka akan membantu kamu untuk memulihkan kondisi perusahaan?" tanya Dinda.
"Apa salahnya mencoba, lagi pula kedua orang tuaku juga sudah tua. Tidak ada lagi yang bisa mereka harapkan untuk memimpin perusahaan selain. Ini hanya masalah waktu."
Dinda menghela nafas panjang kemudian mengantarkan Chiko sampai ke depan rumah.
Chiko berkendara dengan kecepatan sedang sambil terus memikirkan bagaimana cara dia mengetahui bahwa Dinda mengkhianatinya.
Chiko terus berpikir hingga dia tidak sadar bahwa dirinya sudah sampai di rumah.
"Ada apa?" ketus mama saat mengetahui kedatangan Chiko.
"Chiko, ingin bertemu dengan papa."
"Mama pikir kamu datang untuk bertemu dengan Aisyah dan Almira."
__ADS_1
"Mama..."
"Apa kamu akan membujuk Papa untuk membantu perusahaan kami yang sekarang sudah diambang kehancuran?"
"Ma, apa Mama juga mendoakan bahwa aku akan hidup menderita dan kembali tidak mempunyai apa apa seperti dulu?" tanya Chiko.
"Chiko, kenapa sekarang kamu seolah-olah takut jatuh miskin? Bukankah dulu saat kamu pertama kali menikah, Kamu sendiri yang menginginkan untuk memulai segala sesuatunya sendiri dan benar-benar dari nol tanpa bantuan dari kami?" ucap mama yang seolah-olah mengingatkan Chiko tentang masa lalu, dimana Chiko memilih untuk mengawali kehidupan rumah tangganya benar-benar dari nol.
"Dulu dan sekarang beda ma. Humaira dan Dinda tidak bisa di samakan."
"Kenapa? apa kamu takut tidak bisa membuat istri kamu yang muda itu bahagia karena ternyata sebentar lagi kamu tidak akan lagi memiliki kekayaan dunia?"
"Tolong, ma. Chiko datang ke sini bukan untuk berdebat dengan Mama."
"Papa tidak ada di rumah. Dia sedang pergi mengajak Aisyah dan Almira jalan-jalan."
"Kemana?"
"Mama tidak akan memberitahu kamu karena Mama tahu jika kamu pasti akan mengacaukan kesenangan Aisyah dan Almira."
"Kalau begitu bisa kasih kau meminta bantuan Mama untuk berbicara kepada Papa agar..."
"Mengembalikan apa yang sudah menjadi hak kamu?" ucap mama yang langsung memotong pembicaraan dari Chiko.
"Tidak, aku tahu Mama dan Papa sangat marah sehingga Papa memutuskan untuk tidak akan memberikan perusahaan keluarga kepada aku. Juga menarik semua bantuan yang Papa berikan terhadap perusahaan aku."
"Aku tidak akan meminta Papa untuk mengembalikan itu semua, Aku hanya ingin Mama berbicara kepada Papa agar Papa tidak perlu juga menghasut para investor agar menarik investasinya pada perusahaanku, yang mengakibatkan perusahaan di ujung tanduk jika aku tidak segera mendapatkan investor lagi."
"Chiko, Kenapa kamu berpikir bahwa papa akan melakukan perbuatan seperti itu? Bukankah menarik semua bantuan yang diberikan Papa terhadap perusahaan kamu, sudah cukup untuk membuat perusahaan kamu tidak normal?"
"Tunggu, apa papa tidak menghasut semua investor itu?"
"Tidak."
"Lalu siapa?" tanya Chiko.
"Aku..."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...