Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Rahasiakan ini


__ADS_3

Wanita, sekuat apa pun, selalu memiliki kelemahannya sendiri, terutama dalam cinta. Mereka dapat memaafkan kesalahan seorang pria yang telah menyakiti mereka, tetapi sangat sulit  bagi mereka untuk melupakan rasa sakit dari seorang pria yang telah menyakiti mereka secara psikologis dan fisik.


Sementara pria yang kuat tidak menggunakan ototnya untuk menyakiti wanita, tetapi justru akan melindunginya. Hal tersebut karena wanita harus dilindungi dan tidak boleh disakiti.


Malam ini, Humaira memberanikan diri untuk berbicara dengan Chiko, bagaimanapun juga tidak ada seorang wanita yang ingin rumah tangganya berakhir.


"Aku bisa mengabaikan banyak lelaki untukmu. Tapi kenapa kamu tak bisa mengabaikan satu wanita untukku."


Chiko yang sedang termenung memikirkan pesan yang dikirimkan oleh Dinda, terkejut saat mendengar suara dari Humaira.


"Humaira."


Humaira tersenyum dan duduk di dekat Chiko. Chiko meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celana setelah mengaktifkan mode senyap.


"Jika kau tidak bahagia denganku, maka setidaknya berbahagialah tanpa diriku," ucap Chiko yang membuat Humaira terkejut.


"Mas.."


"Humaira, aku sudah memenuhi persyaratan yang kamu inginkan. Aku harap kamu tidak akan membuat aku mengurungkan niatku untuk menikahi Dinda."


"Sejujurnya, aku merasa sangat bodoh karena mempertahankan sesuatu yang terus menerus menyakitiku," imbuh Chiko.


"Apa kamu merasa bahwa mempertahankan pernikahan ini adalah suatu kebodohan?" tanya Humaira.


"Perpisahan merupakan hal wajar yang dialami dalam setiap pertemuan. Menyedihkan memang, namun jangan dibiarkan berlarut-larut dalam duka,"


Humaira Magelang nafas panjang dan mulai mengambil kesimpulan dari pembicaraan singkat yang terjadi.


"Memang lebih sulit rasanya bila ditinggalkan daripada menjadi yang meninggalkan. Jangan khawatir, aku akan tetap menjadi ayah bagi Aisyah dan Humairah serta akan bertanggung jawab sampai mereka lulus universitas."


"Yang pergi akan tetap pergi, walaupun kau telah menjaganya dengan begitu kuat. Yang datang akan datang, walaupun kau tidak menginginkan kedatangannya."


"Ya, sepertinya memang sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan untuk mempertahankan rumah tangga ini," lirih Humaira.


"Humaira, Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan kepadamu bahwa niat aku untuk menjalani bahtera rumah tangga bersama dengan Dinda sudah mantap."


"Selamat tinggal bila kau ingin pergi. Tak mungkin lagi ku memaksamu di sini. Lupakan aku bila tak cinta lagi. Doakan saja ku mendapatkan pengganti lebih darimu." Humaira kemudian memilih untuk pergi meninggalkan Chiko dan masuk ke dalam kamar.


Chiko memejamkan mata dan memilih untuk menonaktifkan ponselnya sebelum dia bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Humaira.

__ADS_1


"Humaira?"


Chiko segera masuk ke dalam kamar dan memeluk Humaira.


"Maafkan aku, tidak seharusnya aku berkata seperti itu pada hari dimana Aku sudah berjanji akan melakukan apa yang menjadi permintaan kamu."


Humaira terdiam, dia sama sekali tidak melakukan apapun hingga Chiko memutar tubuhnya dan kini mereka saling berhadapan.


"Mungkin kita harus mencoba membuat kenangan sebanyak-banyaknya karena kita tahu, suatu hari nanti, kita tidak akan bisa lagi bersama."


Marah percuma, dia gak lihat ekspresimu. Menangis sia-sia, dia gak bisa menghapus air matamu. Jadi bukankah lebih baik aku mengikuti skenario yang ada sebelum ini berakhir.


...----------------...


Satu bulan sudah berlalu, Humaira dan Chiko benar-benar menikmati waktu yang ada untuk membuat momen bahagia bersama dengan kedua buah hatinya.


Dinda yang selalu ada di mana Chiko pergi, tidak bisa melakukan apapun. Karena Chiko berpura pura tidak mengetahui keberadaan Dinda. Hal itu membuat Dinda merasa sangat kecewa.


Dinda juga tidak bisa menghubungi Chiko karena memang Chiko tidak mengaktifkan nomo pribadi melainkan hanya mengaktifkan nomor yang tersambung dengan urusan pekerjaan.


"Sabar Dinda, hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi sebelum kamu dan juga bisa kembali bersama."


Dinda kemudian memilih untuk pergi dan menyiapkan pesta pernikahan impian yang menjadi keinginan nya.


"Humaira, Aku harap besok saat aku kembali dalam perjalanan bisnis ke luar kota. Kamu sudah menandatangani surat persetujuan bahwa kita akan bicara."


"Insyallah." Humaira menatap sekilas ke arah Ciko sebelum akhirnya dia kembali sibuk mengemasi pakaian yang akan dibawa Chiko.


"Humaira, aku mohon rahasiakan perihal perceraian kita terlebih dahulu kepada kedua orang tuaku."


"Kenapa? Apa kamu mau setelah ini aku akan berpura-pura tetap menjadi istri kamu setelah kita resmi bercerai?"


"Tidak, Aku harap kamu mau merahasiakan ini sampai perusahaan Papa sudah sepenuhnya beralih menjadi tanggung jawabku."


"Apa kamu takut jika ternyata kedua orang tua kamu mengetahui jika sebenarnya kita telah bercerai, maka papa akan membatalkan niatnya untuk memberikan perusahaan kepada mas?" tanya Chiko.


"Ya."


"Kenapa? Bukankah sangat bagus Jika ternyata perusahaan Papa tidak jadi milik mas?"

__ADS_1


"Humaira, apa kamu benar-benar menginginkan aku dan Dinda hidup sengsara setelah kami menikah?"


"Bukankah seharusnya awal pernikahan adalah untuk menguji seberapa besar pasangan yang kita inginkan? Aku tidak yakin wanita seperti Dinda akan bisa menjalani kehidupan dari nol."


"Humaira, aku sudah memenuhi permintaan kamu dan selama satu bulan ini aku menjalani peranku sebagai seorang suami dan ayah. Aku bahkan sudah mengganti waktu di mana aku tidak bisa menemanimu. Jadi Aku harap kamu bisa memenuhi keinginan terakhir ku."


"Insyallah."


Chiko memalingkan wajah saat Humaira menatap nya. Ini adalah malam terakhir mereka akan bersama.


Setelah Humaira selesai memasukkan beberapa pakaian Chiko, Chiko mendekati Humaira yang mulai terlihat kurus lama beberapa minggu terakhir. Pipi chabi yang biasanya menjadi kegemaran Chiko, perlahan mulai hilang dan menjadi sangat tirus.


Penampilan seperti itu tentu saja tidak cocok untuk Humaira, Humaira Jadi terlihat jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.


"Humaira, kenapa aku merasa bahwa akhir-akhir ini berat badan kamu berkurang?" tanya Chiko saat dia menggendong Humaira menuju kamar.


"Tidak, aku tidak semakin kurus. Karena mas sudah terbiasa menggendong aku menuju kamar. Jadi mas terbiasa dengan berat badan ku." Humaira tersenyum sambil mengalungkan tangannya ke leher Chiko.


Humaira dan Chiko saling berpandangan, Chiko merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Humaira.


Mata cerah dan ceria yang biasanya terpancar dari wajah Humaira, kini perlahan seolah-olah kehilangan cahayanya.


"Humaira, apa kamu baik-baik saja?" tanya Chiko.


"Tentu saja, aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya merasa sedikit kecewa karena ternyata pernikahan ini tidak akan pernah bisa dipertahankan."


"Maafkan aku."


Cup


Chiko mencium kening Humaira, kemudian meletakkan Humaira dengan hati-hati dan memakaikan selimut.


"Istirahatlah, Terima kasih karena sudah memberikan warna di kehidupanku, dan mengingatkan aku untuk menjadi sosok Ayah yang bertanggung jawab dan menyayangi kedua putriku. Aku berjanji walaupun setelah ini kita berpisah, aku akan tetap menjadi Ayah yang bertanggung jawab dan menyayangi Aisyah serta Almira."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


Nanti up lagi yaa, mau bocan dulu 🤣🤣🤣


__ADS_2