Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Sedikit Licik.


__ADS_3

Satu Minggu setelah kepergian Mama, kesehatan Papa tiba-tiba saja menurun.


Chiko terkejut saat melihat dokumen surat wasiat yang mengatakan bahwa semua aset kekayaan yang di miliki akan diberikan kepada Aisyah dan Almira.


"Kenapa papa tidak memberikannya kepada aku?" tanya Chiko pada ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit.


"Sampai papa mati juga, Papa tidak akan rela memberikan perusahaan kepada orang yang terlena dengan kesenangan sesaat."


"Pa, Aku adalah anak Papa. Seharusnya Papa memberikan perusahaan dan seluruh aset kekayaan itu kepada aku yang merupakan anak dari keluarga ini. Bukan kepada cucu."


"Terserah papa." ucapnya dengan lemah.


Chiko mendengus kesal, tiba tiba ada sedikit kelicikan di dalam otaknya untuk mengubah surat wasiat.


Setelah memastikan ayahnya istirahat, Chiko segera keluar dari ruangan sang ayah dan terkejut saat mendapati Dinda ada di sana.


"Dinda? Kenapa kamu ada di rumah sakit ini?"


"Lo, bukannya wajah jika seorang menantu ada di rumah sakit ini untuk menjenguk mertuanya yang sedang sakit. Lagipula aku juga hadis saat ibu mertua aku meninggal dunia dan dikebumikan. Apa kamu lupa? akulah orang yang membantu mengurus para tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa?" ucap Dinda.


Chiko hanya menghela nafas panjang Karena dia benar-benar tidak ingin menjawab Dinda.


"Apa itu?" tanya Dinda yang langsung merampas dokumen dari tangan Chiko.


"Ckckck, sungguh sangat buruk sekali nasib kamu Ciko. Bahkan dalam keadaan sekarat pun Papa tidak memberikan semua harta kekayaannya sepeserpun kepada kamu." Ucap Dinda setelah dia selesai membaca isi dari dokumen yang merupakan surat wasiat itu.


"Kembalikan, ini bukan urusan kamu dan jangan ikut campur urusanku." ketus Chiko.


"Hei, ingat. Kamu bahkan belum menceraikan aku, jadi apapun yang menjadi urusanmu juga menjadi urusanku."


"Terserah. Jika kamu ingin aku talak sekarang maka...."


"Hei, jangan sembarang mengucapkan kata itu. Aku bisa membantu mu. Salah seorang dari pelanggan ku seorang pengacara. Aku bisa membantu kamu."


"Apa maksud kamu?"


"Aku tahu, kamu pasti ingin mengubah isi dari surat wasiat itu kan?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Enak saja."


"Sudah, berikan padaku." Dinda menarik berkasnya dan menghubungi seseorang.


"Kembalikan berkas itu." Ketus Chiko sambil berusaha menarik berkas yang kini ada ditangan Dinda.


"Tidak, tunggu saja di sini. Beberapa saat lagi akan ada orang yang bisa membantu merombak isi dari berkas ini."


Dinda tersenyum smirk kemudian berjalan meninggalkan Chiko menuju kantin rumah sakit, Chiko tidak ada pilihan lain selain mengikuti langkah kaki Dinda. Karena sekarang Dinda sedang membawa berkas yang sangat penting.


Setengah jam mereka saling diam di kantin rumah sakit, tiba-tiba ada seorang pria mendatangi Chiko dan Dinda.


Percakapan singkat terjadi, Chiko sedikit geli karena nada bicara Dinda pada pria itu benar-benar menggoda.


Beberapa hari setelahnya...


Chiko merasa bahagia Karena sekarang isi dari surat wasiat itu adalah seluruh harta kekayaan dan nasehat keluarga jatuh ke tangan Chiko dengan syarat Chiko dan Dinda sudah meresmikan pernikahan mereka.


"Kau memang licik, Dinda." ketus Chiko setelah dia selesai membaca berkas itu.


"Haha, bukannya dari awal rencana licik itu sudah ada di dalam otak kamu? aku hanya membantumu karena statusku masih menjadi istri kamu. Jadi sekarang terserah kamu, Jika kamu ingin segera memiliki kembali semua perusahaan. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan." Dinda dengan sengaja meninggalkan Chiko untuk berpikir apa yang akan dia lakukan setelah mengetahui bahwa isi dari surat wasiat itu telah berubah namun ada syarat khusus.


"Jadi kapan kita akan menikah dengan sah di mata negara?" tanya Dinda dengan senyuman.


"Sekarang."


...----------------...


"Humaira, kamu kenapa?" tanya Holik yang melihat Humaira akhir akhir ini menjadi sangat pendiam.


"Humaira sendiri tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Humaira."


Holik kemudian memilih untuk duduk di kursi yang ada di sebelah Humaira, tepatnya di ruang belakang dekat taman.


"Apa ada sesuatu yang menjanggal dipikiran kamu?"


"Ya, beberapa hari ini tiba-tiba aku memikirkan tentang nenek dan kakek Aisyah. Tiga hari lalu aku juga bermimpi didatangi oleh Mama dan mengatakan bahwa beliau meminta aku untuk menemui papa."

__ADS_1


"Apa itu yang membuat kamu menjadi pendiam?" tanya Holik yang dibalas anggukan kepala oleh Humaira.


"Ya sudah, minggu depan kamu akan pergi bersama dengan Bowo. Apa kamu keberatan?" tanya Holik.


"Ayah, bukan ayah sendiri yang mengatakan bahwa Bowo sudah menjadi pengawal Ayah sejak dulu? bahkan Bowo sudah Ayah anggap sebagai anak ayah sendiri?" tanya Humaira.


Holik tersenyum kemudian menganggukan kepala.


Bowo akan mengurus salah satu cabang perusahaan yang bermasalah di negara itu, jadi kamu bisa ikut agar kamu bisa menemui kedua orang tua kamu itu. Setelah itu berjanjilah bahwa kamu akan kembali menjadi Humaira yang sebelumnya.


Humaira tersenyum dan memeluk Holik, tidak lupa juga dia mengucapkan terima kasih karena Holik selalu bisa mengerti dirinya.


Hari yang ditunggu tiba, Humaira berpamitan kepada Aisyah dan Almira karena memang mereka berdua menolak untuk diajak mengunjungi nenek dan kakeknya dengan alasan mereka harus kembali belajar di sekolah yang menjadi favorit keduanya.


Humaira memilih untuk mendatangi rumah lamanya, Humaira sungguh terkejut saat melihat rumah itu sekarang sudah berganti kepemilikan.


"Aku tidak menyangka jika Chiko akan menjual rumah ini. Bukankah dia sudah berjanji tidak akan menjual rumah ini karena rumah ini akan menjadi milik Aisyah dan juga Almira?"


Humaira kemudian memilih untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah kedua orang tua Chiko.


Lagi-lagi, Humaira merasa terkejut karena melihat Ciko tinggal di sana bersama dengan Dinda. Di rumah itu juga terlihat banyak sekali orang seperti sedang ada pesta.


Humaira yang rasa penasaran kemudian menemukan ide dan meminta Bowo membawa Humaira ke toko baju yang akan membuatnya menjadi terlihat seperti pelayan yang sedang ada di rumah itu.


Humaira kemudian masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang, agar semua orang mengetahui bahwa Humaira adalah pelayan.


Humaira kemudian mengetahui bahwa pesta itu adalah pesta yang dilakukan untuk merayakan kesuksesan kembali yang diraih oleh Chiko.


Humaira semakin curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres saat dia tidak menemukan orang tua Chiko, Humaira masih harus berbaur dengan pelayan lainnya agar saat dia mencari tahu sesuatu yang menjangkau tidak akan ada yang menyadarinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? tidak mungkin mama dan papa akan memberikan perusahaan secara cuma-cuma kepada Chiko."


Saat Humaira sedang mengisi nampan dengan makanan, seorang pelayan lainnya menepuk bahu Humaira.


"Hei, kamu tolong ya kasih makan orang yang ada di gudang sebelah kanan. Kasihan, sepertinya Pak tua itu sudah lama terkunci di sana."


Deg !!

__ADS_1


"Pak Tua?"Humaira


__ADS_2