Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Yang Terjadi (POV Dinda)


__ADS_3

"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Chiko saat aku datang ke kantor nya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah wajah jika aku yang masih berstatus menjadi istri kamu datang ke sini?"


"Dinda, aku rasa hubungan di antara kita sudah berakhir saat kamu memilih untuk pergi bersama dengan pria itu."


"Chiko, kamu tidak bisa menyalahkan aku atas apa yang terjadi. Seharusnya kamu menyalahkan Humaira. Karena Humaira sudah membuat perusahaan kamu bangkrut sehingga aku terpaksa mengaku mencintai pria lain daripada kamu."


"Pergilah, Dinda. Kehadiran kamu semakin membuat pikiranku terasa jenuh."


"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kamu menganggap bahwa kita masih memiliki hubungan."


"Terserah kamu saja."


Aku merasa sangat kecewa dengan sikapku yang tidak menerima aku, aku keluar dari kantor Chiko dan mulai memikirkan cara untuk mendapatkan kembali hatinya.


Aku boleh mencari tahu tentang keluarga dari Chiko dan aku mengetahui jika mama dari Chiko mempunyai riwayat sakit jantung.


Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk membuat Chiko mendapatkan kembali seluruh perusahaannya dengan bantuanku, tapi untuk itu aku harus mengumpulkan uang agar aku bisa menyewa seseorang yang akan membantuku melancarkan aksinya.


Ya, karena tidak ada pekerjaan yang bisa mendapatkan uang dengan cepat, Aku akhirnya menjadi wanita pemuas pria hidung belang di luar sana.


Aku harus bersyukur karena telah orang yang memakai jasaku adalah orang-orang yang mempunyai kantong tebal, jadi ya aku selalu mendapatkan-tips lebih banyak karena aku mencuri sebagian uang yang ada di dompet mereka.


Hari ini, aku yang sudah tahu kelemahan para pria yang sudah beristri dan berumur. Memberanikan diri datang ke rumah Chiko melalui pintu belakang dan menggunakan pakaian seperti yang digunakan para pelayan.


Aku sengaja membuat Mama Chiko pergi ke ruang kerja suaminya, dengan mengatakan bahwa laki-laki itu hanya ingin menerima minuman yang dibuat oleh istrinya.


Sungguh sebuah keberuntungan, saat aku masuk ke dalam ruang kerja Papa Chiko, Dia pernah sibuk memilih berkas dan posisinya berdiri membelakangiku, aku segera membuka semua pakaianku dan memeluknya tepat saat pintu terbuka di mana mama Ciko datang untuk mengantarkan minuman.


Pyar !!


Aku tersenyum saat melihat nampan yang dipegang oleh Mama Chiko terjatuh karena terkejut melihat aku yang sudah dalam keadaan telanjang memeluk Papa Chiko dan berusaha untuk melepaskan pakaiannya.


Papa Chiko langsung mendorongku dan itu benar-benar membuatku terjatuh ke lantai, tapi itu tidak apa-apa. Rasa sakit yang aku rasakan terbayar saat aku mendengar kabar kematian dari mama Chiko.


Yang harus aku lakukan kemudian hanyalah membuat Papa Chiko semakin sekarat dengan menukar obat yang seharusnya beliau minum dengan obat lain yang justru memperparah kondisinya saat berada di rumah sakit.


Langkah terakhir adalah Chiko, sungguh ternyata memanipulasi pikiran Chiko itu lebih mudah dari perkiraan ku.


Aku kembali menjadi nyonya Chiko, tidak, yang lebih penting aku kembali menjadi wanita yang memiliki pria dengan kekayaan melimpah. Dan yang paling membahagiakan adalah aku tidak perlu lagi bekerja untuk memenuhi segala kebutuhanku dan juga aku bisa berhenti untuk menjual tubuhku.


Beberapa hari menjadi tuan rumah dalam pesta yang di gelar di rumah Chiko, membuat aku melupakan tentang pak tua itu.

__ADS_1


Sekarang, aku harus mencari keberadaan Pak Tua itu sebelum Chiko menyadari bahwa ayahnya sudah tidak ada lagi di dalam pengawasan itu.


Untuk pertama kalinya aku juga merasa ketakutan terhadap ancaman dari seseorang, jika Biasanya aku tidak pernah takut dengan orang yang datang dan mengancamku. Kali ini, Humaira berhasil membuatku takut dengan ancaman yang dibuat.


TIDAK !!


Aku tidak boleh takut karena aku yakin aku pasti satu langkah di depan Humaira. Yang harus aku lakukan adalah menemukan Pak Tua itu dan mendapatkan hatinya kembali, sesuai dengan yang aku rencanakan.


...----------------...


"Dinda, aku akan menarik surat wasiat yang pernah aku berikan kepada kamu."


"Apa?" aku tentu saja terkejut saat pengacara yang juga masih menjadi satu-satunya orang yang menggauliku, datang dan mengatakan bahwa dia tidak ingin lagi meneruskan sandiwara yang sudah berjalan.


"Seseorang datang dan mengatakan bahwa dia akan membuat hidupku jauh lebih buruk dari kehidupanku yang sekarang jika aku tidak menarik surat wasiat palsu itu."


"Tidak, tidak. Roger, kamu harus tetap tenang dan jangan pernah khawatir karena aku akan menjamin bahwa hidupmu tidak akan pernah berantakan. Aku tahu dalang dibalik semua ini, Aku akan segera membereskan nya."


"Tidak, Dinda. Seseorang itu sudah membuatku dipecat dari pekerjaanku sebagai pengacara. Aku tidak lagi bisa menjadi pengacara setelah seseorang itu menunjukkan bukti bahwa aku sudah menyalahgunakan jabatanku untuk memanipulasi surat wasiat."


Aku semakin terkejut saat Roger mengembalikan semua uang yang pernah aku berikan kepadanya sebagai bentuk kerjasama agar dia mau merubah isi wasiat dari keluarga Chiko.


Humaira, kamu benar-benar membuat kesabaran ku habis. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada kamu.


...


"Di rumah sakit."


"Rumah sakit mana?"


"Di...."


Sial, Kenapa di saat seperti ini Chiko terus menanyakan tentang keberadaan ayahnya.


"Dinda!"


"Chiko, sudah malam. Bagaimana jika kita istirahat. Besok setelah sarapan, aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit."


"Baiklah..."


"Akhirnya..." lirih ku.


Aku bener bener tidak tahu lagi harus apa, kemalaman Aku tidak bisa tidur karena tidak satupun dari orang suruhanku menemukan keberadaan pria itu.

__ADS_1


Pagi harinya..


"Dinda, kamu kenapa?" tanya Chiko saat dia melihatku masih terbaring dengan berselimut di atas tempat tidur.


"Tiba tiba aku merasa tidak enak badan,"


Aku mendengar Chiko menghela nafas panjang sebelum aku mendengarnya menutup pintu.


Setelah memastikan mobil Chiko pergi dari rumah, aku bergegas mandi dan pergi dari rumah untuk mencari keberadaan pria tua itu.


"Rumah sakit. Ya, jika Humaira menemukan pria tua itu di gudang dia pasti membawanya ke rumah sakit."


Di rumah sakit, aku segera menuju mencari seksama untuk menanyakan nama dari pria tua itu.


"Cari siapa?"


Deg !!


Aku menoleh dan siapa yang menduga jika Humaira kini ada di hadapan ku.


"Bukan urusanmu," jawap ku dengan ketus.


"Hmmm, Aku jadi penasaran apa yang akan dilakukan jika saat dia tahu bahwa kapan telah hilang dari pengawasan istri tercintanya."


"Ja-lang, aku tahu maksud dibalik tingkah laku kamu yang seperti ini, karena kamu juga menginginkan harta keluarga Chiko."


"Oh ya? jika memang aku menginginkannya aku pasti sudah mendapatkan di hari pertama aku mengetahui bahwa kamulah yang berada di balik semua peristiwa yang terjadi."


"Kau! argh..."


Sial, kenapa tiba-tiba perutku terasa sakit.


"Hu, Kenapa? apa kamu boleh merasakan sakit karena kamu sering berganti pasangan untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan?" tanya Humaira.


"Pergilah..."


"Tentu saja, lagi pula siapa yang akan menemani kamu yang kesakitan seperti itu. Selamat menikmati rasa sakitnya ya, dan jika kamu berharap aku akan membiarkan kamu menemukan keberadaan papa Chiko. Maaf, kamu salah."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2