Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Pergi ke kantor


__ADS_3

Setiap orang yang menjalin hubungan percintaan selalu memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Banyak cerita suka dan duka dalam menjalin sebuah hubungan. Adanya perasaan bahagia, rindu, cemburu, dan kecewa akan selalu mewarnai perjalanan setiap pasangan.


Hampir setiap pasangan yang membina sebuah keluarga memiliki pengalaman menyakitkan dalam hidupnya. Banyaknya masalah dalam hidup, tak jarang hal tersebut membuat seseorang patah semangat. Namun, berlarut-larut dalam kesedihan bukanlah jalan keluar yang baik


Chiko benar-benar menguji kesabaran dari Humaira. Chiko jadi tidak pulang selama beberapa hari dan justru menghabiskan sisa waktu yang ada dengan Dinda.


Humaira rasanya ingin marah dan bersedih atas sikap keterlaluan yang ditunjukkan Chiko akhir-akhir ini. Namun percuma saja jika Humaira marah dan membanting barang, karena itu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.


Humaira memilih untuk mendatangi Chiko ke kantor nya setelah mengantar anak anak ke sekolah.


Lelah hati menunggu, namun kau tak dapat menutup sendu. Kau begitu dalam membuat luka hatiku, membuatku terus terhanyut dalam kesedihan, membuatku terus meratap apa yang seharusnya aku lupakan.


Humaira sudah sampai di perusahaan milik suaminya, dengan santai dan membalas senyuman dari beberapa karyawan yang menyapanya. Humaira berjalan menaiki lift dan segera menuju ruangan Chiko.


Humaira langsung membuka pintu karena tidak merasa curiga terhadap apapun.


Ya, lagi pula ini adalah kantor. Tidak mungkin seorang bos akan melakukan sesuatu dengan sekretarisnya. Setidaknya itu yang ada di pikiran Humaira.


Namun, Humaira terkejut karena saat memasuki ruangan dia melihat dengan jelas bagaimana Chiko dan Dinda sedang perang mulut, sambil menjamah bagian sensitif.


"Ehem. Muka kamu taruh mana? Nggak malu apa begituan sama lelaki orang."


"Humaira.."


Dinda secara turun dari pangkuan Chiko, membenarkan pakaiannya dan langsung menjaga jarak dari Chiko.


"Haha, bilang aja kalau sebenarnya kamu iri karena suami kamu sekarang lebih tertarik dengan tubuhku yang seksi," ucap Dinda sambil tersenyum smirk.


"Nggak ada kata iri saat melihat kemesraan kalian, soalnya aku tahu si wanitanya itu. Alias kamu, adalah wanita spesialis perebut suami orang."


"Jangan mencemoohku dengan kata-kata yang tidak pantas jika kamu tidak tahu ceritanya," ucap Dinda.


"Apapun cerita sebenarnya, bagaimanapun kondisi maupun perasaanmu. Jangan terlalu berharap akan ada yang bersimpati padamu. Bersikukuh merebut si dia dari pasangannya hanya akan menganugerahimu cap kotor, perebut pasangan orang, dan berbagai julukan mengerikan lainnya."

__ADS_1


"Chiko, lihatlah Bagaimana perlakuan istri kamu terhadap aku," rengek Dinda dengan nada manja.


Humaira benar-benar muak melihat drama yang dilakukan oleh Dinda demi bisa mendapatkan perhatian dari Chiko.


"Humaira, Kenapa kamu datang ke sini dan tidak memberitahu aku?" tanya Chiko.


"Apa seorang istri harus mendapatkan izin untuk datang ke kantor suaminya?" tanya balik Humaira.


"Jelas dong, apa tadi kamu tidak lihat jika kedatanganmu sudah mengganggu momen kebahagiaan antara Aku dan Chiko," ketus Dinda.


"Bahagia tak berarti sampai harus mengambil hak milik orang lain. Percayalah, akan ada orang yang lebih mencintaimu dan menghargai dirimu."


"Wah wah wah, sepertinya ada yang kecewa karena sebentar lagi statusnya sebagai seorang istri akan berganti menjadi seorang janda."


"Hanya akan ada penghinaan dan kau melakukannya untuk orang yang salah. Pasangan yang kau rebut pun tidak akan pernah memandangmu sebagai wanita terhormat. Ia akan menjadikanmu wanita pelarian, karena tak bisa kembali pada pasangannya dulu."


"Cukup, Humaira. Dinda, sebaiknya sekarang kamu kembali ke ruangan kamu dan biarkan aku berbicara dengan Humaira."


Dinda menghentakkan kakinya sebelum berjalan dan sengaja menyenggolkan diri pada Humaira.


"Sadarlah, semua impian dan janji manis itu semua. Segala yang dia tawarkan kepadamu juga pernah diberikan kepada pasangannya saat ini."


"Aku hanya tak habis pikir, kenapa ada orang seperti kamu didunia ini? Lihat saja, kamu tak akan mendapatkan apapun. Dia milikku dan akan selamanya begitu."


Dinda pergi dengan senyum kemenangan meninggalkan ruangan Chiko.


"Cih, memangnya dia pikir dia siapa sehingga akan dengan mudah mendepak aku dari kehidupan Chiko," lirih Dinda.


Sepeninggalan Dinda.


"Humaira, maksud kamu apa ada tanda-tanda langsung memberikan kata-kata yang tidak pantas kepada Dinda?"


"Tidak pantas kata kamu mas? dia bahkan lebih pantas mendapatkan kata-kata yang lebih tajam dari apa yang baru saja aku ucapkan."

__ADS_1


"Aku tahu cara bagaimana bisa lari sejauh mungkin yang aku mau, tapi ada yang paling sulit adalah berpikir untuk meninggalkanmu, jadi tolong jangan membuat semuanya semakin sulit," ucap Chiko.


"Mas, jika memang sulit bagimu untuk meninggalkan aku, kenapa kamu tetap menuntut cerai dari aku? Kenapa tidak kamu tinggalkan saja wanita itu?"


"Dinda sudah menjadi bagian dari kebahagiaanku yang seutuhnya, itulah alasan satu-satunya alasan aku ingin bercerai karena ingin menggapai dan mengikat kebahagiaanku."


"Apa selama ini kamu tidak merasa bahagia?"


"Aku bahagia, hanya saja kebahagiaan yang aku dapatkan saat bersama dengan Dinda berkali-kali lipat dari kebahagiaan yang aku dapatkan saat bersama dengan kamu."


"Hancurkanlah hatiku, hancurkan beribu kali sepuasmu. Memang sejak awal hati ini milikmu untuk sengaja kau buat hancur," lirih Humaira persamaan dengan jatuhnya air mata yang membasahi pipi.


"Jika sebuah batu yang sangat keras bisa dibuat hancur oleh tetesan air. Tak jauh beda dengan hatiku, akan remuk hancur melihat air mata yang mengalir di pipimu. Jangan menangis, Humaira. Aku tidak tahan melihatnya."


"Jika memang kamu tidak tahan melihat aku menangis, Kenapa tidak kamu putuskan saja kebahagiaan yang sifatnya hanya sementara. Ingat mas, tidak akan ada yang berakhir bahagia ketika kamu mencari kebahagiaan yang lebih dari apa yang sudah kamu miliki."


"Rasanya aku sudah lelah dengan perilakumu akhir-akhir ini. Bagaimanapun aku berusaha untuk tetap memercayaimu, namun sayang aku tidak bisa menahan rasa kecewaku padamu," tegas Chiko


"Pergilah dan lakukan semua apa yang kamu inginkan, jika keberadaanku sudah membuatmu tidak nyaman lagi bagimu," imbuhnya.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu karena di sini akulah yang paling merasakan luka atas tindakan yang sudah kamu lakukan," ucap Humaira.


"Humaira, apa kamu pikir aku juga tidak terluka dengan tindakan kamu yang tiba-tiba datang ke kantor dan memaki-maki Dinda dengan kata-kata yang tidak pantas."


"Mas, aku masih istri kamu. Kenapa tidak sedikitpun terpikir di benak kamu untuk menyenangkan hatiku?"


"Pulang saja, Jangan pernah menghubungi aku karena aku tahu kapan aku harus kembali dan menepati janji ku."


Chiko berbalik badan dan berdiri membelakangi Humaira.


Humaira menghapus air matanya kemudian memilih untuk keluar dari ruangan itu dan kembali ke rumah.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


Jika seorang perempuan menangis karena disakiti oleh laki-laki. Maka setiap langkah laki-laki tersebut dikutuk oleh para malaikat. (Ali bin Abi Thalib)


__ADS_2