
Amel dan Jesen datang untuk menemui Quinsha. Quinsha yang di panggil oleh Paman Jons pun keluar dari kamar walau ia masih sangat marah dan kecewa pada Paman Jons.
Jesen yang melihat Quinsha datang menghampiri nya pun lekas berdiri, ia melihat wanita itu mata nya tampak sembab dan tampak muka nya pucat.
"Quin, kamu sakit?."Tanya Jesen dengan khawatir.
"Iya." Balas Quinsha singkat. Quinsha rasa nya tidak memiliki semangat untuk bicara.
Quinsha duduk dan begitu pun Jesen. "Kamu pucat banget Sha, gak ke rumah sakit aja?." Tanya Amel.
"Iya, Ayo ke rumah sakit Quin, aku akan membawamu." Ujar Jesen.
"Engak perlu, Aku tidak apa apa." Balas Wanita itu.
"Aku minta maaf Quinsha karena kemarin meninggalkan mu di kamar, Aku mabuk dan lupa pada diri mu."Ucap Jesen yang merasa bersalah, berfikir sakit Quinsha karena diri nya.
"Kamu yang membawaku ke kamar itu?,, Kenapa?." Tanya Quinsha terkejut.
"Iya, Karena kamu mabuk berat kemarin, Ada apa?." Reaksi Quinsha membuat Jesen pun menanyakan kembali.
"Tidak apa apa, Aku mau istirahat." balas nya.
Jesen dan Amel saling melihat. "Baiklah kalau kamu istirahat, kami akan pulang, kamu memang butuh banyak istirahat."Ucap Jesen.
"Terima kasih." Balas Quinsha masih dengan ekspresi yang datar.
Mendengar kalau Jesen lah yang membawanya kesana membuat Quinsha merasa kecewa dan marah hingga tidak mau lama lama mengobrol dengan Jesen. Karena kalau seandainya Jesen tidak membawa nya kesana, mungkin peristiwa ia dengan Aidan tidak akan terjadi malam itu.
"Kami pulang dulu Sha."Ucap Amel. Quinsha tersenyum tipis pada sahabat nya dan menganggukkan kepala nya.
Amel masih ada yang ingin ia bicarakan dengan Quinsha, namun Quinsha yang mengatakan istirahat pun hanya bisa dengan sedih melihat sahabat nya.
Keesokan hari nya, Quinsha yang masih tidak bersemangat untuk bekerja pun memilih untuk di rumah saja, namun ia terkejut saat Sang bibi datang membawakan sebuah dress untuk nya.
"Ini pakai gaun nya!."seru bibi Sonia.
"Tapi kita mau kemana?." Tanya Quinsha tidak mengerti tiba tiba ia di berikan gaun oleh Bibi nya.
__ADS_1
"Malam ini kamu dan Tuan Bernard akan bertunangan, kamu harus persiapkan diri kamu." Tutur Bibi Sonia.
"Kenapa secepat ini bi?."
"Buat apa lama lama, Tuan Bernard ingin memastikan kamu menjadi milik nya, jadi tidak perlu lama lama lagi."Ucap Bibi Sonia ketus. Quinsha pun hanya bisa diam dan mematuhi perintah sang Bibi.
Kalau bukan memikirkan jasa mereka sudah membesarkan nya, Quinsha tidak akan mau melakukan semua ini, Ia melakukan demi menolong Paman nya yang dalam kesulitan.
•••
Malam hari pun tiba.
Quinsha duduk di luar berbicara dengan Tuan Bernard. Pertunangan yang akan di gelar hanya akan di saksikan Oleh supir dan asisten Tuan Bernard saja serta Keluarga Quinsha.
Wajah Quinsha datar, tanpa senyuman, tentu karena bukan hal yang ia inginkan.
"Mari kita mulai pertunangan nya."Ucap Bibi Sonia yang sudah tidak sabar. Ia mengambil Cincin yang di bawa oleh Tuan Bernard dan ia letakan di atas meja.
Namun Saat Bibi Sonia baru saja berdiri untuk mengambil cincin itu, Semua di kagetkan dengan suara Bel yang berbunyi.
Namun semua lekas berdiri saat tahu siapa yang menjadi tamu tidak di undang mereka malam ini. Quinsha yang menoleh dan melihat siapa yang datang pun ikut berdiri.
"Tuan Aidan." Kata Paman Jons. Quinsha melihat sangat Paman, tidak menyangka Paman nya pun kenal dengan atasan nya.
Aidan menatap tajam Quinsha, melihat wanita itu mengunakan gaun malam ini dan saat ia melihat Cincin di atas meja, ia pun seperti mengerti sesuatu.
"Seperti nya saya menganggu acara kalian."Ucap Aidan tanpa senyuman dan begitu datar.
"Siapa dia Pa?." Tanya bibi Sonia.
"Putra keluarga Milton."Bisik Paman Jons.
Mendengar Aidan adalah Putra keluarga Milton, tentu lansung seperti melihat uang yang sedang mampir ke rumah nya, Bibi Sonia lekas menyambut nya dengan ramah.
"Silakan masuk Tuan, silakan duduk."Ajak Bibi Sonia.
Aidan pun lalu berjalan mendekat ke arah sofa melewati Quinsha yang hanya diam menatap laki laki itu lewat di depan nya.
__ADS_1
"Apa kabar Tuan." sapa Tuan Bernard. namun di hiraukan oleh Aidan yang tidak menyambut tangan Tuan bernard saat di ajak salaman.
Suasana saat itu menjadi tegang.
"Ada apa tiba tiba Tuan Aidan datang ke kediaman kami?, ada yang bisa saya bantu?." Tanya Paman Jons.
"Saya ingin berinvestasi di perusahaan anda. Tapi seperti nya ini bukan waktu yang tepat."Ucap Aidan menatap Tuan Bernard.
Bibi Sonia dan Paman Jons pun sangat senang mendengar kalimat pertama itu, Namun tahu kalau Tuan Bernard menjadi penghalang nya, Bibi Sonia pun lalu dengan sopan meminta untuk menunda acara malam ini.
"Tuan, saya minta maaf sebelum nya, seperti nya acara malam ini kita tunda dulu."Kata Bibi Sonia.
Kecewa dengan ucapan bibi Sonia, Tuan Bernard pun beranjak berdiri dan meninggal tempat itu tanpa mengatakan sepatah kata pun, Bibi Sonia tidak perduli, karena di depan nya ada Sesuatu yang lebih besar sedang menunggu.
"Ken." Ucap Aidan.
"Tuan Kami bermaksud berinvestasi besar di perusahaan anda, Namun sebagai imbalan nya, Nona Quinsha menikah dengan Tuan Aidan."Ucap Ken menyampaikan maksud tujuan kedatangan mereka.
Bibi Sonia dan Paman Jons saling melihat saat, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Begitu pun dengan Quinsha tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan, bagaimana mungkin seorang
"Apa ini serius Tuan?."Tanya Paman Jons memastikan.
"Saya tidak punya banyak waktu untuk bercanda dengan anda." Saut Aidan.
"Tentu saja boleh Tuan, Kami sangat senang jika anda ingin menikahi Keponakan kami." ucap Bibi Sonia dengan cepat.
"Pernikahan ini bersifat privat, jadi tidak ada yang boleh tahu tentang pernikahan ini. Jika kalian berani membocorkan tentang pernikahan ini, kalian akan tanggung resiko nya." Ucap Aidan dengan angkuh.
"Kenapa seperti itu?." Tanya Paman Jons heran.
"Ah Papa, sudah tidak apa apa."Bibi Sonia menahan suami nya untuk bertanya soal tidak penting apa alasan nya.
"Kami setuju Tuan, Kapan pernikahan nya akan di lakukan??" Tanya Bibi Sonia lagi.
"Besok."
Quinsha semakin terkejut karena ia akan segera menikah besok, secepat ini kah ia akan di persunting menjadi istri orang?. Namun lagi lagi, Mulut Quinsha terkunci, Meski ia enggan menikah dengan Aidan, tapi lebih baik dari pada ia menikah dengan Tuan Bernard yang entah menjadi istri ke berapa dari pria tua itu.
__ADS_1