
Keesokan hari nya.
Saat Quinsha terbangun ia sedang dalam posisi memeluk Aidan, pelukan di tubuh badan yang kekar membuat Quinsha yang terkejut. meski sudah beberapa kali Aidan memeluk nya setelah bermain, Tapi Quinsha masih merasa sangat gugup.
Ia pun mencoba untuk lepas kan diri dari pelukan Aidan, dengan perlahan ia mencoba memindahkan Tangan laki laki itu, dengan sangat hati hati agar tidak membangunkan nya.
"Jangan banyak tingkah, baring dan diam saja, Atau kamu akan menerima hukuman karena berani memindahkan tangan ku."Ucap Aidan dengan mata yang masih tertutup, namun menandakan laki laki itu sadar membuat Quinsha ikut terkejut.
"Tuan anda sudah bangun?."Tanya Quinsha menengadahkan kepala nya melihat Aidan.
"Apa kamu bisa diam saja tanpa menganggu ku."
"Aku mau mandi dan bekerja."Balas Quinsha.
"Kamu tidak boleh bekerja."
"Ha?, tapi kenapa?."
Namun Aidan hanya diam dan tidak membalas nya lagi. Quinsha pun cemberut karena lagi lagi ia kembali tidak bekerja.
"Padahal aku lebih nyaman bekerja dari pada di rumah?." Ucap Quinsha pelan agak kecewa.
"Apa?."
"Bukan apa apa Tuan." balas Quinsha dengan cepat.
"Em." Aidan kembali menutup mata nya dan kembali tidur.
Quinsha yang sudah bangun pun tidak bisa tidur lagi apa lagi dalam dekapan laki laki itu. Meski ia merasakan kehangatan dalam pelukan nya, namun ketika ia mengingat bagaimana laki laki itu memperlakukan nya, Quinsha rasa nya sangat tidak menyukai nya. Entah sampai kapan ia akan terus berad di dekapan Suami yang sombong dan menyebalkan ini.
Jam menunjukan pukul 10 pagi, Perut Quinsha pun terasa lapar, hingga berbunyi, beberapa saat Aidan pun turun dari tempat tidur meninggalkan Quinsha tanpa mengatakan apa pun.
"Apa dia mendengar suara perut ku?."Gumam Quinsha di dalam hati nya.
Namun itu tidak penting bagi Quinsha yang terpenting ia sudah bebas dari dekapan laki laki itu.
Quinsha pun duduk di sofa menunggu giliran nya untuk mandi, Beberapa saat kemudian Aidan keluar tanpa mengunakan baju dengan hanya berbalut handuk di pinggang nya.
Dada kekar itu terlihat sangat memukau mata Quinsha saat itu, Bagian Dada yang begitu berotot dan kulit putih itu membuat Quinsha kehilangan fokus nya, ia bahkan menelan Saliva nya melihat pemandangan indah di depan nya.
Entah sudah berapa kali tubuh kekar itu mendekap nya, tapi untuk pertama kali nya Quinsha benar benar melihat nya dengan jelas.
"Apa yang kamu lihat?." Tanya Aidan sembari membuka lemari untuk mengambil pakaian nya. Quinsha pun lekas menurunkan pandangan nya dengan gugup.
__ADS_1
"Dia tahu aku melihat nya?."Batin Quinsha.
"Apa yang kamu tunggu, kamu menunggu aku memandikan mu?." Tanya Suara berat laki laki itu.
"Tidak Perlu."Ucap Quinsha dengan segera beranjak dari duduk nya dan berjalan cepat ke kamar mandi.
Ekor mata laki laki itu melihat wanita itu masuk begitu buru buru untuk menghindari ia memandikan nya. Aidan mengelengkan kepala nya dan kembali melanjutkan mengambil pakaian nya dan mengenakan nya.
Seperti biasa saat Quinsha selesai mandi, Aidan sudah tidak ada di kamar, laki laki itu sudah lebih dulu menuju ke meja makan.
Quinsha menghampiri dan duduk di samping Aidan yang tengah menikmati sarapan nya.
"Pagi." Sapa Quinsha.
"Hm."Balas Aidan.
Berfikir ia tidak akan mendapatkan balasan dari Aidan, namun ia ternyata ia salah. laki laki itu membalas nya. Quinsha pun duduk dan mulai menikmati makanan nya.
Namun ada hal yang membuat Quinsha terkejut, saat Aidan mengambilkan sayuran ke piring nya.
"Aku--- Aku Bisa sendiri Tuan." Ucap Quinsha.
"ini bagus untuk rahim mu, agar kamu segera memberiku anak." Kalimat itu seketika membuat Quinsha yang tadi nya agak terkejut bercampur senang dengan perlakuan Aidan seketika kembali cemberut.
"Apa yang kamu lihat, cepat habiskan." Ucap Aidan agak sedikit membentak membuat Quinsha terkejut dan lekas menyantap makanan yang sudah tersedia di piring nya.
•••
Seharian Quinsha berada di rumah saja dan ia pun merasakan bosan, sementara Aidan sudah ke kantor sejak mereka menyelesaikan sarapan.
Quinsha yang bosan keluar dari kamar dan berjalan ke dapur dimana beberapa pelayan sedang mengobrol. Namun kedatangan Quinsha membuat mereka semua diam ketakutan ketahuan mengobrol.
"Kalian sedang apa?." Tanya Quinsha.
"Baru selesai makan Nona, Nona butuh sesuatu?." Tanya Pelayan.
"Apa kita punya bahan kue?." Tanya Quinsha.
"Ada Nona." Salah satu pelayan mengajak Quinsha melihat lemari yang berisikan bahan bahan kue. Bahan bahan kue yang begitu banyak dan lengkap menambah antusiasme wanita itu.
"Nona mau di Bikinkan kue?, tapi chef yang bertugas untuk membuat kue sedang cuti Nona?."
"Chef??."
__ADS_1
"Iya Nona."
"Oh tidak tidak, aku tidak mau di buatkan, kalau boleh aku ingin membuat nya sendiri." Tutur Quinsha.
Pelayan pun saling melihat sebelum akhir nya mengiyakan.
"Silakan Nona, kami akan membantu nona."Balas nya.
"Tidak apa apa, kalian duduk saja disini temani aku, nanti kalian harus mencicipi nya." Quinsha adalah Nyonya di rumah ini, perintah nya pun adalah sesuatu yang harus di taati, Mereka pun menemani Quinsha membuat kue.
"Tapi Nona yakin bisa sendiri?."
"Iya, tenang saja."
Perlahan obrolan yang tadi begitu kaku karena pelayan sungkan bicara dengan Quinsha pun mencair, Quinsha pun seketika mulai akrab dengan mereka.
Rasa bosan yang tadi di rasakan Quinsha pun hilang karena bisa melakukan sesuatu di rumah ini. Ia bahkan duduk di meja makan dengan para pelayan menikmati kue yang ia buat sembari mengobrol.
Hingga Sore tiba Aidan pulang dari kantor, Quinsha pun keluar dari kamar nya untuk memberikan kue buatan nya pada Suami nya.
"Tuan, Saya Tadi---." Ucap Quinsha penuh antusias memberikan pada Aidan, namun aidan melewatkan wanita itu begitu saja, wajah nya dingin dan sorotan matanya tajam membuat Quinsha pun mengurungkan niat nya untuk memberikan kue yang ada di tangan nya.
Entah kenapa aku begitu kecewa saat dia melewatkan ku, padahal dia pasti tahu aku sedang ingin berikan nya kue.
Ken yang baru saja masuk pun membuat senyum Quinsha kembali mekar.
"Sekertaris Ken."
"Iya Nona."
"Coba rasakan kue buatan ku."
"Terima kasih nona." Tolak Ken dengan sopan.
"Sudah, ambil 1 dak cicipi, aku membuat banyak, kalau kau tidak makan, nantinya tidak habis."Quinsha memberikan 1 kue ke tangan Ken, Ken pun dengan Enggan mengambil dan mencicipi nya.
Untuk pertama kali Quinsha melihat senyuman Ken dengan jelas walau tipis.
"Enak Nona."
"Aku ingin Dia mencicipi nya juga, tapi dia seperti itu." Ucap Quinsha.
Mata Ken pun melihat ke arah kamar Dimana Aidan berada, dan sudah tahu orang yang di maksud oleh Quinsha adalah Aidan.
__ADS_1
"Taruh saja di meja kerja nya Nona, Tuan pasti akan mencicipi nya."Balas Ken.