
"Hi Quin."
"Jesen."
"Kamu siap siap pulang?."Tanya nya.
"Iya."
"Aku antar ya?." Quinsha sejenak diam menatap laki laki yang menawarkan nya tumpangan untuk pulang.
"Kita temen kan?." Tanya Jesen lagi saat melihat keraguan wanita itu untuk mengiyakan.
"Baiklah." Quinsha pun menyetujui untuk pulang dengan Jesen. Amel pun sudah lebih dulu pulang karena ada acara. Jesen pun senang saat tawaran nya di iyakan oleh Quinsha tanpa penolakan.
Di mobil.
"Kamu terus menghampiri ku di kantor, Apa Kamu tidak malu?." Tanya Quinsha, karena sehari ini sudah 3 kali Jesen menghampiri diri nya yang sedang bekerja.
"Kenapa harus malu?, memang nya kenapa kalau aku menghampiri wanita secantik kamu."Ucap Jesen.
"Tuan Aidan bahkan tidak Sudi untuk melihat wajah ku, aku jadi tidak enak karena kamu jadi di bicarakan oleh orang orang di kantor." Tutur Quinsha.
"Kak Aidan mungkin takut jatuh hati pada mu, makanya dia begitu."
"Jangan mencoba menghiburku."
"Tapi itu yang kurasakan sekarang, aku bahkan jatuh hati saat melihat mu."
"Jesen." Quinsha menatap Jesen untuk mengingatkan nya tentang janji kalau Jesen tidak akan menggoda nya.
"Iya iya, Aku tidak mengoda mu, aku mengatakan yang sebenarnya, yang aku rasakan."Balas nya. Quinsha tersenyum mengelengkan kepala nya.
"Oh iya, Kamu harus ikut acara ulang tahun perusahaan Minggu depan." ucap Jesen ketika mengingat acara ulang tahun perusahaan yang di adakan Minggu depan.
Quinsha sendiri sudah mendengar kabar itu, karena sudah menjadi perbincangan di perusahaan oleh staf staf kantor.
"Memang nya orang seperti kami boleh ikut?." Tanya Quinsha.
"Hei, kenapa tidak boleh, kamu kan bekerja di perusahaan itu juga, berarti kamu juga bagian dari perusahaan." Ucap Jesen.
"Aku jemput ya nanti."Ucap Jesen.
"Tapi---."
"Tidak ada tapi tapian. sudah sampai."Ucap Jesen. Mobil Jesen pun berhenti tepat di depan rumah Quinsha.
__ADS_1
Quinsha melihat ia sudah sampai, ia pun akan segera turun dari mobil. "Quinsha." tahan Jesen.
"Iya?."
"Itu rumahmu?." Tanya Jesen.
"Bukan, itu rumah Paman dan Bibi ku, kenapa?." Tanya Quinsha kembali.
"Tidak, aku hanya tanya saja. Hati hati turun nya."Balas Jesen.
"Maaf tidak bisa menawarkan kamu untuk masuk ke dalam."Ucap Quinsha lagi.
"Tidak masalah, lain waktu kamu pasti akan menawarkan nya." Quinsha tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih sudah mengantarku Jesen." Ucap Quinsha sebelum turun dari mobil.
"Sama sama cantik."
Jesen melambaikan tangan nya sebelum menjalankan mobil nya, Quinsha pun membalas hal yang sama. Quinsha melihat mobil itu berlalu pergi dari hadapan nya. Bibi Sonia melihat dari dalam rumah, melihat Quinsha turun dari mobil mewah.
Tatapan sinis pun di terima oleh Quinsha saat ia baru saja memasuki rumah itu.
"Dengan siapa kamu pulang?." Tanya Bibi Sonia dengan ketus.
"Teman atau om-om?, Hei Quinsha, Saya dengan Paman kamu sudah susah susah membesarkan kamu, jangan sampai kelakuan kamu di luar sana merusak nama keluarga kami."ucap Bibi Sonia.
"Iya Bi."
Mendengar ucapan bibi nya, Quinsha sudah bisa menebak kalau suasana hati bibi Sonia sedang tidak baik baik saja. pasti habis bertengkar dengan sang paman, dan Quinsha yang akan menjadi pelampiasan dari mulut pisau bibi nya itu.
Tidak ingin membalas Bibi nya, yang akan berujung pertengkaran, Quinsha memilih diam tanpa mau melakukan pembelaan.
•••
"Pesta perusahaan?."
"memang nya kamu cocok ke acara begituan, dari pada kamu kesana capek capek, mending kamu istirahat di rumah."
Malam itu.
Quinsha duduk makan malam seperti biasa dengan paman dan bibi nya, melihat suasana yang baik malam itu, Quinsha pun meminta izin pada Paman dan bibi nya untuk pergi ke acara perusahaan yang akan di adakan dalam beberapa hari.
Bagaimana pun Quinsha perlu izin dari paman dan bibi nya untuk bisa ikut acara itu. namun seperti biasa Mulut pedas sang bibi pasti harus di dengar oleh Quinsha lebih dulu.
Mengingat Amel mengajak nya untuk pergi, membangkitkan semangat Quinsha untuk meminta izin pada Paman dan bibi nya.
__ADS_1
"Biarkan saja Ma kalau dia mau pergi, toh juga tidak sering sering. dengan siapa kamu pergi Quinsha?." Ucap Paman nya. Ada rasa senang yang rasanya ia ingin ekspresikan saat itu juga saat mendapatkan izin dan pembelaan dari paman nya. Meski mata sinis bibi nya yang kesal namun memilih untuk menuruti perkataan suami terlihat.
"Dengan Amel Paman."
"Ya sudah pergi lah, apa kamu punya baju??" Tanya Paman lagi.
"Ada Paman." Entah ia punya baju yang layak untuk ia pakai ke pesta atau tidak, tapi yang terpenting saat itu, diri nya mendapatkan izin dari paman nya lebih dulu.
Malam itu. Quinsha dilema memeriksa pakaian apa yang harus ia kenakan ke acara perusahaan, bagaimana pun ia harus terlihat rapi.
Quinsha pun memeriksa lemari nya, mencari pakaian yang cocok untuk nya. Membuat nya merasa sedih karena ternyata ia tidak memiliki dress yang akan di pakai di acara malam nanti.
Sejak ia tinggal di keluarga ini, Ia sama sekali tidak pernah di belikan Dress, bahkan uang yang terkadang di berikan oleh Paman nya sengaja ia simpan untuk kebutuhan nya hari hari. Jika pun ia membeli pakaian Baru, sang bibi akan marah dan membuat bibi merasa paman memanjakan Quinsha. Dan akhirnya pasangan suami istri itu akan bertengkar.
Keesokan harinya.
ia pun menceritakan hal itu pada sahabat nya. bagaimana ia tidak memiliki pakaian yang bagus untuk di pakai.
"Besok kan kita gajian, kita beli dress saja habis pulang kantor, acara nya masih lusa kan." Ujar Amel.
Sejenak berfikir. Quinsha pun mengiyakan, bagaimana ini adalah gaji pertama nya, rasa nya tidak begitu buruk jika gaji pertama nya ia belikan Dress untuk ia kenakan.
Namun saat Malam Quinsha akan pulang bekerja, ia membuka loker nya dan menemukan sebuah kotak terletak di di dalam nya. Quinsha tampak bingung dan mengira ia salah loker. Namun saat ia mengecek kembali, ini memang loker nya.
"Udah Sha?." Tanya Amel.
"Mel, ada yang memberikan kotak ini, siapa ya?."
"Coba buka."
Quinsha pun membuka tampak sebuah dress putih indah ada di dalam nya, tentu hal itu membuat kedua mata wanita itu berbinar melihat keindahan gaun itu saat di uraikan. Sebuah kertas terjatuh dan segera di ambil oleh Amel yang bertulisan pesan untuk Quinsha. "Pakai dress ini nanti."
"Astaga cantik sha, Ini pasti cocok kamu kenakan."Ucap Amel.
"Tapi dari siapa?."
"Sha, ini pasti dari Jesen, kau tahu dia menganggumi mu kan."Ucap Amel.
Quinsha pun menghela nafas berat, ia pun sudah bisa menebak, Jesen selalu punya cara untuk membuat nya senang.
"Gaji mu bulan ini aman, jangan lupa di pakai."
"Tapi---."
"Udah, rejeki jangan di tolak, gak baik. Yuk pulang." Ajak Amel. Quinsha pun tersenyum dan menganggukkan kepala nya. Membawa pulang kotak berisikan gaun itu bersama nya.
__ADS_1