
Quinsha yang sedang menonton di ruang keluarga melihat ke jam dinding, dimana jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Quinsha pun bertanya tanya di dalam hati nya kenapa Aidan sampai sekarang belum juga kembali dari kantor.
Disaat ia sedang memikirkan hal itu, seorang pelayan datang menghampiri Quinsha.
"Nona, Tuan Aidan sudah kembali."Ucap pelayan itu, mendengar kalah Aidan telah kembali, Quinsha pun lekas berdiri dari duduk nya, ia mendehem untuk menghilangkan ke gugupan nya, melebarkan senyuman nya lalu melangkah keluar untuk menyambut Aidan di teras rumah.
Aidan yang masih di dalam mobil melihat Quinsha keluar, saat mobil baru saja berhenti dengan sempurna , Aidan yang masih di dalam mobil tidak lansung turun.
"Ada apa dengan nya?." Tanya Aidan pada sekretaris Ken, saat ia melihat Quinsha berdiri senyum senyum seperti nya sedang menunggu dirinya.
"Mungkin menunggu anda pulang bos."Balas Sekertaris Ken.
"Dia agak aneh kalau seperti itu."Ucap Aidan. Sekertaris Ken yang mendengar hal itu pun tersenyum tipis menahan tawanya melihat bisa nya yang tampak begitu was was saat melihat Quinsha. Namun tidak di pungkiri, Sekretaris Ken sendiri pun merasa heran melihat Senyum Quinsha yang begitu lebar.
"Apa yang ingin ia lakukan."Batin Ken.
__ADS_1
Setelah Aidan turun dari mobil, sekertaris Ken pun kembali menjalankan mobil nya untuk pulang, namun sebelum ia pergi, ia membuka jendela kaca mobil untuk menyapa Quinsha dengan menunggukan kepala. Quinsha melambaikan tangan membalas Ken.
"Kenapa kau disini?, kenapa belum tidur?." Tanya Aidan.
"Tentu saja menunggu suami ku, aku tidak bisa tidur kalau diri mu belum pulang Tuan."Balas Quinsha, menatap Aidan dengan senyuman lebar. Aidan pun mengerutkan kening nya heran.
Aidan mengunakan punggung tangan nya dan menempelkan di kening Quinsha yang membuat kedua mata bola mata Quinsha ikut melihat ke arah tangan Aidan yang menempel di jidatnya.
"Apa kau sakit?." Tanya Aidan. Quinsha mengelengkan kepala. Aidan lalu menyentil kening Quinsha yang membuat wanita itu merasa sakit dan menggosok kening nya yang sakit akibat sentilan tanpa berani marah atau pun protes walau ia merasa kesal.
"Kenapa menyentil kepala ku?."Tanya Quinsha.
"Jangan bertingkah aneh, nanti aku pikir kau kesurupan."Ucap laki laki itu lalu berjalan meninggalkan Quinsha.
"Kesurupan?." Quinsha mengaruk kepala nya bingung dengan perkataan Aidan, sikap nya yang mana yang seperti orang kesurupan.
__ADS_1
Quinsha lalu berjalan menyusul Aidan. "Tuan, Apa kamu lapar??" Tanya Quinsha. Ia berjalan beriringan dengan Aidan, ia bahkan menoleh ke Aidan sembari berjalan untuk bertanya hal itu.
"Tidak."
"Apa mau mandi air hangat?."
"Tidak."
Quinsha pun mengigit bibir nya seperti memikirkan sesuatu. "Lalu Tuan butuh apa, Aku akan menyiapkan nya?." Tanya Quinsha.
Aidan menghentikan langkah nya. Quinsha pun ikut menghentikan langkah nya, Aidan lalu membelokkan tubuh nya dan menatap ke arah Quinsha. Saat Aidan mengangkat tangan nya, Quinsha lansung menutupi kening dengan telapak tangan nya, mengira Aidan akan menyentil nya lagi, Aidan tersenyum tipis lalu memegang dagu Quinsha lalu menghujani bibir Quinsha dengan ciuman hangat, Kedua mata Quinsha membulat besar terkejut dengan apa yang di lakukan Aidan. tanpa sadar ciuman itu seolah berirama, yang membuat Quinsha pun tampak membalas ciuman itu.
Aidan lalu mengendong Quinsha kedalam pelukan nya, kaki wanita itu melingkar di pinggang Aidan, namun kedua nya tidak melepaskan ciuman itu sama sekali. Pemandangan itu tentu di lihat oleh Para pelayan, namun mereka hanya diam dan pura pura tidak melihat agar Tuan mereka tidak sampai Marah.
Aidan lalu mengendong Quinsha masuk ke dalam kamar dan Adegan Papa Mama pun terjadi kembali.
__ADS_1
"Aku hanya membutuhkan mu."Samar samar kata kata itu terdengar di telinga Quinsha. Namun panasnya aktivitas ranjang mereka saat itu tidak membuat Quinsha bertanya kembali.