Pernikahan Dengan MR Aroggant

Pernikahan Dengan MR Aroggant
Bab 14


__ADS_3

Keesokan hari di saat matahari mulai menembus Gorden kamar Pengantin baru itu, Quinsha terbangun dan merasa tubuh nya sangat lelah, dan ia pun merasakan sakit pada **** ***** nya.


Berfikir ia bisa segera membersihkan diri nya saat melihat Aidan masih tertidur, Dengan perlahan ia mau turun dari tempat tidur, perlahan agar tidak membangunkan Aidan, namun tangan Aidan menahan nya, menarik wanita itu ke dalam pelukan nya. Quinsha merasakan ada sesuatu yang menegang, menempel pada perut nya, membuat ia menelan Saliva nya.


Tiba tiba saja ia merasa keringat dingin dan gugup.


"Tuan lepaskan, Aku mau membersihkan diriku."Ucap Quinsha.


"Siapa yang mengizinkan kamu melakukan nya?."


"Tapi Tuan--." Belum sempat Quinsha memberikan alasan nya, dengan cepat Aidan mengubah Posisi Quinsha yang tadi berada di atas nya berubah menjadi di bawah laki laki itu.


Tanpa pemanasan apa pun, Aidan kembali mencumbu wanita itu, Rasa sakit itu bahkan belum hilang, Aidan kembali meminta nya melayani nya.


Pagi itu mereka lewati dengan berolahraga pagi di atas tempat tidur. Kalian pun sudah tahu apa yang terjadi pagi itu.


Tubuh Quinsha kini benar benar terasa remuk.


Rasa lapar pun kini menghampiri Quinsha setelah ia membersihkan diri nya, Aidan yang melihat Quinsha keluar dari kamar mandi punemghela nafas. Karena ada dorongan di hati nya untuk melakukan nya lagi. Yah lagi.


"Sial." Aidan tidak mengerti pada diri nya saat itu, ia merasa tubuh Quinsha sangat menarik dirinya untuk menyentuh nya.


"Aku bisa gila jika lama lama disini."Ucap laki laki itu, ia beranjak berdiri dan meninggalkan Quinsha yang menatap Aidan dengan bingung.


"Ada apa dengan nya?." Tanya Quinsha. namun ia tidak peduli, yang ia pikirkan saat ini adalah rasa sakit pada **** ***** nya dan juga rasa lapar yang menghampiri nya.


Saat Quinsha masih bingung karena koper nya sama sekali tidak di bawa masuk oleh mereka pun tidak tahu harus memakai pakaian apa.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu membuat Quinsha menutupi dirinya dengan selimut.


"Masuk."

__ADS_1


Seorang pelayan datang menghampiri Quinsha. "Nona, Sarapan sudah siap."Ucap pelayan itu.


"Baik lah. Tapi dimana koper ku, pakaian ada di dalam semua." Tanya nya.


"Koper anda sudah di taruh di gudang nona, atas perintah Tuan Ken."


"Ha?, Lalu aku pakai apa?."


"Di dalam lemari semua baju yang anda bisa kenakan Nona." Tutur nya.


"Benarkah?." Quinsha segera membuka lemari, tampak begitu banyak pakaian wanita yang begitu indah, sangat banyak membuat Quinsha sampai terdiam beberapa saat.


"Ini semua pakaian ku?." Tanya Quinsha.


"Iya nona."


"Baik lah, terima kasih."Balas Quinsha. Pelayan pun menganggukkan kepala nya lalu pergi meninggalkan Wanita itu.


Setelah selesai memakai pakaian dan merapikan diri, Quinsha pun keluar dari kamar, dimana di sana sudah ada Aidan yang duduk menikmati sarapan.


"Maaf."


"Duduk."


Quinsha pun duduk saat di minta oleh Aidan, Para pelayan pun mendekat ke arah Quinsha dan mulai melayani wanita itu, Quinsha merasa sangat berbeda pagi nya saat berada di rumah bibi nya, Di sana ia melayani, tapi disini ia dilayani oleh para pelayan Aidan.


"Tuan, Apa boleh saya bekerja??" Tanya Quinsha di sela sela makan nya.


"Aku tidak peduli, selagi kamu ingat perjanjian yang sudah kamu tanda tangani." Jawab Aidan datar.


Quinsha melihat sikap Aidan yang sangat menyebalkan dan tidak berubah pun hanya bisa berlapang dada saja.


Aidan meletakan garpu dan juga sendok di atas piring menandakan dirinya sudah menyelesaikan sarapan nya saat itu, ia mengangkat pengelangan tangan nya dan melihat jam yang melingkar di tangan nya, terlihat sudah pukul 7.30. Berpapasan dengan Sekertaris Ken yang datang menghampiri nya.


"Pagi Tuan, Nona."Ken menyapa Aidan dan Quinsha. Quinsha pun membalas anggukan tersebut.


Aidan lalu beranjak berdiri dari duduk nya. Lalu melangkah keluar, Ken pun menundukkan kepala memberi hormat pada Quinsha sebelum ia berlalu pergi mengikuti langkah Aidan.

__ADS_1


"Ken." Aidan menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi, menatap keluar jendela.


"Iya Tuan."


"Menurut mu, apa keputusan ku ini benar menikahi gadis itu?." Tanya Aidan.


"Anda melakukan hal yang tepat Tuan, Anda mempertanggung jawabkan apa yang anda sudah lakukan."Jawab Ken.


Menikahi Quinsha adalah sebuah bentuk pertanggung jawaban Aidan pada wanita yang pertama kali ia tiduri, mengingat kalau Quinsha adalah seorang wanita perawan yang ia renggut begitu saja membuat Ada perasaan bersalah Aidan saat itu.


Namun kini ia mulai ragu dengan pernikahan ini, karena bagaimana pun pernikahan ini tidak di ketahui oleh kedua orang tua nya, dan Aidan sendiri telah memiliki kekasih yaitu Sofia. Sofia adalah wanita yang di jodohkan oleh orang tua nya kepada nya, sikap Sofia yang manis membuat Aidan menerima nya dan menyukai wanita itu.


Aidan turun dari mobil saat mobil nya sampai di sebuah rumah mewah yang sangat besar bak istana, itu kediaman keluarga Milton.


"Papa, Mama." Sapa Aidan ke meja makan dimana orang tua nya berada. Sang ibu pun berdiri menyambut kedatangan putra nya.


"Akhirnya kamu pulang, Mama dan Papa menunggu kamu sejak semalam, kamu dari mana saja?." Tanya Nyonya Hanna.


"Maaf Ma, Banyak pekerjaan di kantor." Aidan terpaksa berbohong, tidak mungkin ia memberi tahu Sang ibu kalau ia menghabiskan malam nya dengan wanita yang kini sudah menjadi istri nya tanpa mereka ketahui.


"Ayo duduk sarapan." Ajak Tuan Albert.


"Aku sudah sarapan Pa."


"Jangan bekerja terlalu lelah sayang, jaga kesehatan mu, dan pikirkan kapan kamu akan menikahi Sofia dan memberikan kami cucu." Nyonya Hanna terkekeh setelah menyelesaikan kalimat nya.


Keinginan mereka segera memiliki cucu dari putra mereka adalah impian sejak lama yang belum juga di kabulkan oleh Aidan.


Aidan pun hanya diam saja tanpa menjawab ucapan ibu nya. Seperti biasa ia tidak pernah mau memberi harapan soal ini dan memilih diam saja.


"Kapan Kalian akan berangkat?." Tanya Aidan.


"pesawat siang sayang,kita masih punya waktu untuk mengobrol."Balas Bu Hanna. Aidan pun menganggukkan kepala nya.


Nyonya Hanna dan Tuan Albert bermaksud untuk menetap di luar negri untuk sementara waktu, untuk menikmati masa Tua mereka berdua.


Sementara Quinsha yang duduk di kamar menatap keluar jendela kamar, menopang dagu dengan kedua tangan nya, tatapan menatap halaman yang begitu asri, ia menatap penuh kebosanan, karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan seharian di rumah ini. Ia tidak memiliki keberanian untuk keluar sekedar jalan jalan di rumah milik Aidan.

__ADS_1


__ADS_2