Pernikahan Dengan MR Aroggant

Pernikahan Dengan MR Aroggant
Bab 6


__ADS_3

Saat jam pulang kantor tiba. Quinsha pun sudah bersiap untuk pulang. saat akan memasuki lif dengan amel, ia di kagetkan saat melihat Aidan dan Ken ada di dalam lif.


Quinsha menatap Aidan begitu hal pun Aidan, membuat kontak mata itu pun terjadi. Ada kemarahan di hati Aidan ketika melihat bola mata Quinsha. Ia mengepalkan tangan nya.


Quinsha sendiri bisa melihat Tatapan dingin Aidan pada nya, Namun apa salah nya, seperti nya Aidan sangat membenci nya.


"Tutup." Kata Aidan.


Ken pun segera menekan tombol untuk menutup pintu lif. Hingga mata yang saling melihat itu pun tersudahi dengan tertutup nya pintu lif.


"Mel, kamu ngerasa gak sih kalau Tuan Aidan seperti nya membenci ku."Ucap Quinsha memastikan pada sahabat nya itu.


"Masa sih, engak deh kayak nya, mungkin cuman perasaan kamu aja Sha. Udah lah gak usah di pikirkan kejadian tadi siang."Balas Amel. Quinsha pun tersenyum dan mengiyakan.


•••


Namun setelah meyakinkan dirinya kalau memang itu hanya perasaan nya saja. Tiba tiba hari itu Quinsha di panggil ke ruangan Aidan.


Sekertaris Ken datang menemui Quinsha yang baru saja menyelesaikan makan siang nya.


"Quinsha."


"Iya Tuan." Quinsha segera berdiri saat melihat sekretaris Ken menghampiri nya.


"Kamu sudah selesai makan?." Tanya Sekertaris Ken. Tidak ada senyuman dari sekertaris atasan nya itu, namun meski begitu raut wajah Tidak terlihat dingin, itu datar saja dan tidak membuat Quinsha merasa takut. Berbeda saat pertama kali mereka bertemu. ia merasa Ken sangat dingin, namun sekarang ia merasa Ken tidak seburuk atasannya.


"Sudah Tuan."


"Tuan Aidan memanggil anda ke ruangan nya."Ucap nya.


"Apa?, ada apa Tuan?, apa saya melakukan kesalahan?, apa saya akan di pecat?." Tanya Quinsha khawatir saat mendengar Aidan yang tidak biasa memanggil nya ke ruangan nya.


"Apa kamu melakukan kesalahan?." Tanya Ken. Quinsha mengelengkan kepala nya.


"Kalau begitu apa yang kamu khawatirkan, Tuan Aidan tidak akan sembarangan memecat orang, jika di rasa kesalahan nya tidak terlalu besar. Ayo ikut aku."Balas nya.


Quinsha pun lebih tenang, memang benar kata Ken, untuk apa ia takut di pecat kalau ia tidak melakukan kesalahan. Ia pun lalu mengikuti Ken yang berjalan di depan nya.


Ken sendiri pun tidak tahu alasan apa yang membuat Aidan memanggil gadis yang selalu ia Hina miskin itu ke ruangan nya.


"Tuan, ini orang nya." ucap Ken.

__ADS_1


Aidan pun melihat Quinsha masuk dengan kepala tertunduk tidak berani menatap tatapan kejam sang atasan.


"Tuan, anda panggil saya?." Ucap Quinsha pelan.


"angkat Wajah mu." perlahan Quinsha mengangkat wajah nya. Sejenak Aidan melihat Wajah Quinsha, namun fokus utama Aidan ada pada bola Mata Quinsha.


Ken merasa heran dan bingung, apa yang sedang di lakukan oleh Aidan. Apa lagi Quinsha.


Ia tidak nyaman saat Aidan melihat nya seperti itu. tatapan Aidan seperti melihat barang yang aneh membuat Quinsha tidak nyaman.


"Ada apa dengan nya. Awas saja kalau dia menyukai ku." Pikiran kepedean Quinsha pun mulai muncul.


"Mulai sekarang, setiap kamu datang menemui ku atau bertemu aku, aku ingin kau menundukkan pandangan mu, jangan berani mengangkat wajah mu di depan ku?." Ucap Aidan.


"Baik Tuan."


"Tundukkan pandangan mu." Quinsha lun lansung menundukkan pandangan nya.


Entah apa yang merasuki atasan nya itu. Dia bahkan meminta ku mengangkat wajah ku tadi, sekarang dia meminta ku untuk menundukkan wajah ku, apa dia takut jatuh hati pada ku, atau segitu nya kah dia tidak ingin melihat wajah orang miskin seperti ku" Gumam nya.


"Keluar."


Amel yang mendengar cerita dari Quinsha pun tertawa mendengar permintaan sang atasan pada sahabat nya itu.


"Apa semenjijikan itu orang miskin di mata nya, sampai ia tidak mau melihat wajah ku, kau tahu, dia itu sangat menyebalkan" Celoteh Quinsha.


"Tapi aku dia tidak minta itu Sha, berarti bukan karena kamu miskin, tapi pasti ada alasan lain." tutur Amel.


"Tapi apa alasan nya."


"Mungkin karena kamu cantik."


"Jangan menggodaku."


"Aku serius Sha, Kamu itu cantik, bahkan Tuan Jesen saja menyukai mu."


"Mereka berdua sangat berbeda ya, padahal mereka sepupuan. aku merasa kesal saat aku mengingat muka tuan Aidan, memang ada bagus nya dia meminta ku menundukkan wajah, aku tidak perlu melihat muka menyebalkan nya itu." Ujar Quinsha.


"Hm, siapa yang menyebalkan?." Jesen datang dan mengagetkan kedua wanita itu yang sedang menunggu lif untuk pulang. Quinsha dan Amel saling melihat, tentu kedua nya berharap Jesen tidak mendengar perbincangan mereka yang sedang membicarakan Aidan yang menyebalkan.


"Tuan Jesen, bukan apa apa Tuan."

__ADS_1


"Quinsha, Kamu mau pulang dengan ku?." Tanya Jesen.


"Maaf Tuan, saya pulang dengan Amel."Balas Quinsha. Amel pun mengangguk mengiyakan.


"Amel kamu naik apa?."


"Naik bus Tuan."


"Kalau begitu, aku akan mengantar kalian berdua. Di larang menolak ini perintah."Ucap Jesen.


Amel dan Quinsha saling melihat, kedua nya tidak bisa menolak lagi, karena takut mereka akan dalam masalah.


saat sampai di depan mobil Jesen, Amel membuka pintu mobil untuk masuk ke dalam, namun saat Quinsha akan mengikuti masuk Jesen menahan nya.


"Quinsha, Kamu harus duduk di depan." pinta Jesen.


"Di belakang saja dengan Amel."


"Aku bukan supir kalian. Kamu harus duduk di depan." Balas Jesen.


"Iya Sha, kamu di depan aja."Balas Amel.


Quinsha pun hanya bisa menurut saja perkataan Jesen. Meski ia merasa tidak nyaman duduk bersebelahan dengan Jesen.


Di sepanjang perjalanan Quinsha dan Amel diam dan tidak berani berkata kata. Sesekali Jesen menoleh ke arah Quinsha. Hal itu lah yang membuat Quinsha makin tidak nyaman.


"Apa kita singgah makan dulu?." Tanya Jesen.


"Ti---" Baru saja Quinsha akan mengatakan tidak mau, Tapi sudah lebih dulu di potong oleh Amel yang begitu semangat.


"wah, Boleh tu pak, saya juga kebetulan Laper, Shasha juga pasti laperkan."Ucap Amel dengan semangat. Tentu ia tidak akan melewatkan kesempatan di traktir oleh Tuan Jesen.


Quinsha menoleh ke arah Amel yang duduk di belakang Jesen.


Amel mengedipkan mata nya untuk meminta Quinsha menurut saja di ajak makan oleh Jesen.


"Quinsha, kamu mau kan?." Tanya Jesen dengan lembut. Namun mata nya menatap Quinsha penuh pesona.


"Kalau tidak merepotkan."Balas Quinsha.


"Untuk wanita cantik seperti mu, sama sekali tidak repot."Balas Jesen. Quinsha pun membalas dengan senyuman, walau begitu manis perkataan Jesen. Tapi Itu membuat Quinsha merasa Risih. Quinsha bukan wanita yang suka di rayu.

__ADS_1


__ADS_2