
Amel datang menghampiri Quinsha yang sedang membuatkan minuman hangat untuk para Staf.
"Hm. Nyebelin banget sih Tuan Aidan." Amel mengendus kesal. Quinsha pun menoleh ke arah Amel yang tampak kesal.
"Kenapa?, itu minuman Tuan Aidan kan, kenapa dibawa balik lagi?." Tanya Quinsha heran.
"Padahal aku udah buat minuman ini dua kali, dan menurut Tuan Aidan minuman buatan ku berbeda dan tidak enak, padahal takaran nya sama seperti biasa."Gerutu Amel.
Ia merasa kesal Karena Aidan bukan hanya meminta nya Menganti minuman itu, tapi juga memarahi nya.
"Jadi?".
"Dia meminta mu yang membuatkan nya untuk nya."jawab Amel.
"Ya udah sabar, dia kan memang laki laki yang Arogan dan menyebalkan, kita harus panjang sabar."Ucap Quinsha. Amel menghela nafas duduk menyandarkan tubuh nya di kursi.
Tidak ingin membuat Aidan menunggu, Quinsha pun segera membuatkan kopi untuk Aidan.
"Aku antar dulu ya. Kamu tolong lanjutin."Ucap Quinsha. Amel pun dengan senyum singkat nya mengiyakan diikuti anggukan.
Saat memasuki Ruangan Aidan, Quinsha terkejut saat melihat Sofia sedang duduk di samping Aidan sembari merangkul laki laki yang sudah menjadi suami nya.
"Dia lagi." Sofia menghela nafas malas saat melihat Quinsha yang datang mengantarkan minuman.
"Permisi Tuan, saya mengantarkan minuman anda." Ucap Quinsha menundukkan kepalanya lalu berjalan mendekati meja Aidan dan menaruh minuman nya.
Pandangan Aidan terus tertuju pada Quinsha sejak wanita itu menginjakan kaki nya di ruangan nya, hal itu membuat Sofia merasa cemburu walau pun tatapan Aidan adalah tatapan yang dingin pada Quinsha.
"Sayang, Aku pingin minum jus jeruk."Ucap Sofia dengan manja sembari. Namun Aidan tidak menggubris ucapan Sofia. Sofia melingkarkan dengan manja tangan nya pada leher pria itu, Quinsha yang melihat Suami nya di goda wanita lain tidak beraksi apa pun, karena ia tidak merasa cemburu saat Aidan dengan wanita lain. Ia merasa kedua nya begitu tidak punya rasa malu bermesraan di depan orang lain.
"Saya akan buatkan minuman anda nona." Quinsha yang mendengar pun lekas menjawab.
__ADS_1
"Hm." Ketus Sofia.
Namun detik berikutnya kedua wanita itu di buat terkejut saat Aidan melempar berkas di atas meja dengan keras.
"Sayang, ada apa?." Tanya Sofia.
"Sofia, sebaiknya kamu pulang, aku dengan sibuk hari ini."Ucap Aidan, namun pandangan tajam nya tidak lepas memandangi Quinsha yang masih berdiri di sana.
Melihat Tatapan Aidan terus pada wanita itu, Sofia pun merasa sangat kesal.
"Sedang apa kamu masih disini, cepat keluar!." Bentak Sofia pada Quinsha yang terkejut dan segera mengangguk lalu berjalan keluar.
"Dasar nenek lampir, Aku kan disana buat tahu kepastian kau akan pulang atau masih disini, nanti sia sia saja aku membuatkan jus jeruk mu."celoteh Quinsha di dalam hati, kalau tidak memikirkan Sofia adalah kekasih Aidan, Quinsha pasti sudah menjawab nya.
"Quinsha." Saat baru saja keluar dari ponti ruangan Aidan, sebuah suara memanggil wanita itu dari samping. Jesen datang menghampiri Quinsha.
"Bagaimana keadaan mu?."Tanya Jesen. Kedatangan Jesen menghampiri Quinsha di lihat Oleh Aidan saat pintu ruangan nya belum tertutup dengan sempurna saat Quinsha keluar.
"Kalau aku boleh tahu, kamu sakit apa?." Tanya Jesen.
Quinsha pun mengaruk kepala nya yang tidak gatal, karena tidak mungkin ia memberitahu Jesen kalau ia sakit pada Area sensitif nya karena keganasan Aidan pada nya.
"Em, aku harus buat minuman Nona Sofia. nanti dia akan marah kalau kelamaan."Ucap Quinsha. Ia pun segera berlalu dari hadapan Jesen.
Jesen yang padahal masih ingin bicara dengan Quinsha pun hanya bisa melihat wanita itu pergi. Jesen menyunggingkan senyuman nya, mengelengkan kepala nya karena ia begitu penasaran dengan sosok Quinsha yang seperti nya begitu sulit untuk ia dekati. Karena biasanya wanita yang akan datang pada nya untuk di kencani, tapi Quinsha begitu sulit untuk ia dapatkan.
Saat Quinsha kembali ke ruangan Aidan, dugaan Quinsha sejak tadi pun benar. Sofia sudah tidak ada di ruangan suami nya.
"Minuman nya sudah aku buatkan."Ucap Quinsha.
"Apa kamu tidak lihat orang nya sudah pergi."Ucap Aidan.
__ADS_1
"Iya Aku tahu."Balas Quinsha.
"Letakan minuman nya!." Ucap Aidan. Quinsha pun menuruti perkataan Aidan. Berfikir laki laki itu mau meminum nya.
Quinsha berdiri di samping Aidan untuk meletakan minuman itu dengan hati hati. Namun Saat minuman itu ia letakan, Aidan menarik tubuh Quinsha hingga tubuh wanita jatuh di pangkuan Aidan, yang membuat kedua nya saling melihat.
Kedua mata itu saling melihat, kedua manik mata Aidan menelusuri wajah Quinsha yang tampak masih terkejut. Rasanya Aidan ingin sekali menertawakan kepolosan wajah Quinsha yang begitu gugup dan tegang saat itu.
"Aku akan berdiri." suara Quinsha gemetar takut, ia mengalihkan pandangan nya ke bawah saat Aidan terus menatap wajah nya, membuat ia mulai salah tingkah.
Namun tangan Aidan menahan nya, membuat wanita itu mengerti kalau ia tidak bisa pergi. tangan Aidan memegangi dagu wanita itu dan mengarahkan nya untuk melihat dirinya.
Entah apa maksud Aidan pikir Quinsha, terkadang ia meminta nya untuk tidak menatap nya, namun sekarang ia meminta untuk melihat nya.
Mata Aidan masih menelusuri wajah wanita itu hingga tatapan nya terhenti pada bibir merah Quinsha yang polos tanpa lipstik, entah kenapa begitu menggoda walau tidak di beri warna yang mencolok seperti milik Sofia.
Aidan mengarahkan Tangan Quinsha untuk merangkul nya, melingkarkan kedua tangan itu di leher nya.
Aidan lalu menghujani Quinsha dengan ciuman yang lembut. Quinsha terkejut namun permainan bibir Aidan membuat ia membalas nya. tangan Aidan mulai mengelus elus tubuh wanita itu itu, hingga sampai pada kedua bendak kenyal yang sering ia mainkan saat bersama Quinsha. permainan Aidan kali ini sangat lembut tidak kasar seperti kemarin membuat Quinsha menikmati setiap sentuhan.
Saat kedua gunungnya di pegang oleh Aidan, Quinsha lansung menahan Tangan Aidan. Membuat ciuman kedua nya berhenti, Aidan menatap Quinsha heran.
"Tuan, apa kita akan melakukan nya lagi??" tanya Quinsha.
"Kenapa??"
"Ini kan kantor, bagaimana kalau orang kantor melihat nya."
"Mereka bisa apa, aku suami mu, dimana pun aku menginginkan nya, kamu harus melayani ku."Ucap Aidan lalu kembali mencium Quinsha.
"Bukan kah kamu sendiri yang tidak ingin orang lain tahu."Batin Quinsha. Namun Tentu Bukan itu yang Quinsha takutkan, ia takut kalau saat mereka sedang melakukan nya ada yang masuk ke dalam ruangan ini dan melihat mereka. Namun Aidan seolah tidak perduli dan membuat Quinsha hanya bisa pasrah ketika Aidan melanjutkan menggauli nya.
__ADS_1