
Demi menjadi istri yang baik untuk Aidan layak nya seperti istri orang orang di luar sana, Quinsha menawarkan beberapa hal yang mungkin di inginkan suami nya. Namun hal itu malah membuat Quinsha merasa bingung, karena ia terlalu gugup dan canggung melakukan nya.
"Tuan, Apa kamu lapar??" Tanya Quinsha. Ia berjalan beriringan dengan Aidan, ia bahkan menoleh ke Aidan sembari berjalan untuk bertanya hal itu.
"Tidak."
"Apa mau mandi air hangat?."
"Tidak."
Quinsha pun mengigit bibir nya seperti memikirkan sesuatu. "Lalu Tuan butuh apa, Aku akan menyiapkan nya?." Tanya Quinsha.
Aidan menghentikan langkah nya. Quinsha pun ikut menghentikan langkah nya, Aidan lalu membelokkan tubuh nya dan menatap ke arah Quinsha. Saat Aidan mengangkat tangan nya, Quinsha lansung menutupi kening dengan telapak tangan nya, mengira Aidan akan menyentil nya lagi, Aidan tersenyum tipis lalu memegang dagu Quinsha lalu menghujani bibir Quinsha dengan ciuman hangat, Kedua mata Quinsha membulat besar terkejut dengan apa yang di lakukan Aidan. tanpa sadar ciuman itu seolah berirama, yang membuat Quinsha pun tampak membalas ciuman itu.
Aidan lalu mengendong Quinsha kedalam pelukan nya, kaki wanita itu melingkar di pinggang Aidan, namun kedua nya tidak melepaskan ciuman itu sama sekali. Pemandangan itu tentu di lihat oleh Para pelayan, namun mereka hanya diam dan pura pura tidak melihat agar Tuan mereka tidak sampai Marah.
__ADS_1
Aidan lalu mengendong Quinsha masuk ke dalam kamar dan Adegan Papa Mama pun terjadi kembali.
"Aku hanya membutuhkan mu."Samar samar kata kata itu terdengar di telinga Quinsha. Namun panasnya aktivitas ranjang mereka saat itu tidak membuat Quinsha bertanya kembali.
•••
Quinsha dan Aidan berbaring setelah melakukan olahraga malam, Aidan tampak memeluk Quinsha dari belakang, kedua nya menutup mata karena rasa lelah. Tiba tiba ponsel Aidan berbunyi yang seketika membangunkan laki aku itu. Dengan perlahan ia melepaskan pelukan Quinsha, lalu duduk di tepi tempat tidur untuk mengangkat telefon dari Ibu nya.
Quinsha pun ikut terbangun dan menoleh melihat Aidan duduk di tepi tempat tidur membelakangi nya. ia pun kembali ke posisi nya mendengar siapa yang menghubungi suami nya.
"Iya Ma."
"Mama menelepon ku untuk apa?." Tanya Aidan.
"Kamu belum menjawab pertanyaan Mama."Saut Bu Hanna.
__ADS_1
"Aku hanya sibuk ma di kantor, jadi aku pulang ke rumah ku, jadi lebih dekat."jawab Aidan.
"Oh begitu, kamu harus jaga kesehatan kamu ya, jangan sampai kamu kelelahan, jangan terlalu sibuk dengan urusan kantor Aidan."Balas Bu Hanna.
"Iya Ma."
"Terus bagaimana hubungan kamu dengan Sofia, Kamu kamu rencana untuk menikahi nya, jangan lama lama lagi Aidan, ingat kamu sudah tidak lagi mudah, Papa dan Mama juga mau cucu dari kamu dan Sofia." Tanya Bu Hanna begitu panjang, membuat Aidan menghela nafas pelan.
"Aku belum tahu kapan akan menikahi Sofia Ma, tapi kami sudah membicarakan hal ini dalam waktu dekat."Balas Aidan.
Quinsha yang sudah tidak bisa tidur, karena memang sengaja untuk mendengar percakapan Aidan dengan ibu nya pun meremas jemari nya.
Harus ia akui kalau hati nya sakit saat mendengar kata pernikahan Aidan dan Sofia. Ia merasa ada rasa sakit yang tidak bisa ia gambarkan di dalam hati nya. Namun ia hanya bisa diam tanpa berani melawan, meski ia tidak ingin di madu, meski ia bukan istri yang di harapkan atau di impikan Aidan.
Setelah mengakhiri sambungan telefon dengan ibu nya, Aidan pun beranjak berdiri dari duduk nya. Dengan segera Quinsha memejamkan mata nya dan kembali pura pura tidur.. Aidan menoleh melihat Quinsha dan mengira wanita itu masih tidur, ia pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.
__ADS_1
Quinsha pun kembali membuka mata nya memastikan Aidan sudah tidak ada di belakangnya.
"Apa dia akan menikah lagi?, kenapa dengan aku?, kenapa aku merasa seperti tidak rela Aidan akan memaduku. "Batin Quinsha.