
Jesen membawa kedua gadis itu ke restoran Favorit nya, Saat sampai di restoran Amel di buat terkagum saat melihat tempat dimana ia akan makan malam ini. Namun tidak dengan Quinsha. Bagi nya tempat makan restoran biasa saja bagi nya, karena Quinsha juga sering makan di restoran dengan paman dan bibi nya.
Bagaimana pun Quinsha bukan lah orang tidak mampu, hanya saja ia di perlakukan seperti orang yang sangat rendah oleh Bibi nya sendiri.
"Apa kita akan makan disini Tuan?." Tanya Amel.
"Tentu saja, ayo turun!." Ajak Jesen.
Quinsha dan Amel pun turun dari mobil bersamaan. Amel sangat senang hingga ia menyenggol Quinsha untuk menunjukkan kesenangan nya, Quinsha pun tersenyum melihat sahabat nya yang sangat senang saat ini.
"Sha. Berkat kamu aku bisa makan enak."Ucap Amel pelan berbisik di telinga Quinsha. Quinsha mengerutkan kening nya tidak mengerti.
"Yah, karena Tuan Jesen menyukai mu, makanya kita bisa sampai disini. aku sangat senang Sha."Tutur Amel.
Quinsha menghela nafas dan tersenyum, walau ia tidak menyukai nya, namun senyum di wajah Amel dan antusias nya membuat Quinsha merasa senang dan menerima dengan senang hati jamuan ini.
Amel baru pertama kali nya masuk ke restoran membuat mata nya melihat ke setiap sudut restoran ang terjangkau oleh mata nya. sementara Quinsha hanya duduk diam dan sesekali membalas ajakan obrolan Amel.
Melihat Quinsha yang begitu biasa saja saat di bawa ke restoran bintang 5 dan terkenal di kota ini, membuat Jesen semakin penasaran dengan Wanita itu.
"Aku sudah memesankan makanan untuk kalian, kalian harus mencoba nya."Ucap Jesen.
"Tuan." panggil Quinsha. Jesen dan Amel melihat bersama Quinsha.
"Boleh jangan memesan banyak makanan, nanti tidak habis di makan."ujar Quinsha.
"Baiklah, tapi boleh kah kalau di luar kamu memanggil ku Jesen saja?."Balas Jesen.
Quinsha diam tidak menggubrisnya, bagaimana mungkin ia bisa melakukan.
"Bagaimana?."
"Tapi takut itu tidak sopan."
"Tidak selama itu bukan di kantor."
"Baiklah Tuan, em maksud ku Jesen."Balas Quinsha.
__ADS_1
Jesen pun tersenyum. Jesen tidak memesan banyak makanan untuk di hidangkan, namun saat datang, tetap saja terlihat banyak oleh Quinsha dan Amel.
Setelah selesai makan, mereka pun bersiap pulang, Amel yang memang tidak malu bahkan meminta pelayan untuk membungkus sisa makanan yang tidak sanggup untuk mereka habiskan dan di bagikan untuk Quinsha, meski Quinsha sudah pasti menolak, tapi Amel memaksa nya hingga ia menerima nya.
Quinsha bukan wanita yang jual mahal atau pun wanita yang malu malu, tapi ia tahu tujuan Jesen melakukan ini, dan ia tidak ingin membuat laki laki itu berharap lebih, walau Ia tahu Jesen adalah seorang Buaya wanita.
"Tuan, em maksud saya Jesen, terima kasih untuk makanan ini."Ucap Amel saat Jesen menghentikan mobil nya di depan kosT kostan Amel.
"Sama sama."
"Shasha, aku masuk dulu ya."Ucap Amel.
"Baiklah, Bye Mel.."Balas Quinsha.
Jesen sengaja memutar agak jauh untuk mengantar Amel pulang lebih dulu. Setelah Amel turun dari mobil, Jesen pun kembali menjalankan mobil nya untuk mengantar Quinsha pulang ke rumah nya.
"Quinsha, Kamu seperti nya sangat canggung pada ku, ada apa?." Tanya Jesen.
"Aku bukan orang yang jahat, aku hanya ingin berteman dengan mu saja, Apa aku ada melakukan kesalahan?." Tanya Jesen lagi.
"Maaf kalau kamu merasa seperti itu."Ucap Quinsha.
"Tidak apa apa, tapi apa boleh aku menjadi teman mu dan juga Amel?." Tanya Jesen. Quinsha menoleh menatap laki laki itu yang sedang fokus menyetir. Jesen tersenyum setelah Quinsha benar benar melihat ke arah nya.
"Iya, tapi boleh kah jangan menggodaku, Aku tidak suka."Balas Quinsha. Jesen terkekeh.
"Baik lah, Aku janji."
Jesen tersenyum dan merasa Quinsha benar benar wanita yang berbeda, ada keistimewaan di wanita itu selain wajah polos nya yang cantik.
•••
Keesokan hari nya.
Aidan yang baru saja sampai di perusahaan nya melihat pemandangan dimana Jesen sedang mengobrol dengan mereka para Clean servise, tampak di situ ada Quinsha dan Amel. semua yang melihat kedatangan Aidan lansung saja membubarkan diri. begitu pun Quinsha yang lansung menundukkan wajah nya walau sempat saling menatap dengan laki laki yang begitu jijik dengan wajah nya.
Aidan menoleh ke belakang di saat mereka membubarkan diri.
__ADS_1
"Hei Kak Aidan." Sapa Jesen saat melihat sang kakak lewat. ia pun jalan beriringan dengan Aidan menuju ke lift.
"Apa kau baik baik saja?." tanya Aidan.
Jesen melihat tubuh nya untuk memastikan apa yang sedang di bicarakan oleh kakak nya.
"Memang nya aku kenapa?."
"Seperti nya ini pertama kali nya aku melihat mu mengobrol dengan mereka."
"Oh itu..." Jesen terkekeh.
"Hei, ketika kau ingin mendekati wanita, kau harus masuk ke dalam lingkungan nya, nah begitu lah cara ku."Ucap Jesen dengan percaya diri.
Selain diri nya yang memang mudah bergaul dengan Orang orang, Tidak sulit baginya untuk dekat dengan mereka. semua tentu untuk mendapatkan perhatian Quinsha.
"Sekarang mainan mu sungguh murahan."Ucap Aidan.
"Hei kak, Kau perlu membuka mata mu untuk melihat gadis itu, Dia itu istimewa, dia seperti nya wanita pertama yang tidak begitu mudah untuk ku dapatkan."Ucap Jesen. Aidan tidak menggubris ucapan sepupu nya itu.
"Menurut bagaimana Ken?." tanya Jesen.
"Tidak tahu Tuan." Balas Ken.
"Hais, kau sama saja dengan bos mu, Tidak bisa melihat permata ada di depan mata."
"Jangan berlebihan Jesen, Dia tidak pantas di sebut Berlian, Lebih terlihat seperti sampah." Ucap Aidan menepis. Begitu tidak setuju ia saat Jesen mengatakan kalau Quinsha ada permata.
"Yah, dia memang permata yang terletak di tumpukan sampah, dan aku akan mendapatkan nya, setelah kamu sadar dia adalah permata, jangan coba coba mencuri nya." ucap Jesen, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka Jesen pun berjalan ke ruangan nya.
Aidan yang masih tidak habis pikir sepupu nya begitu menyukai Quinsha pun menghela nafas.
•••
"Sha, kamu lihat Jesen tadi, selama beberapa tahun aku kerja disini, ini adalah pertama kali nya aku melihat nya mengobrol dengan orang orang seperti kita, itu pasti karena mu." Ucap Amel.
"Bukan kah bagus kalau begitu, biar dia tidak songgong seperti kakak nya itu, kau tahu Tuan Aidan sangat lah menyebalkan, dia selalu merendahkan kita orang yang tidak mampu." Jika terbayang tentang Aidan di pikiran nya, rasa Kesal di hati Quinsha pun muncul, karena ia mengingat bagaimana Aidan menghinanya.
__ADS_1