
Malam itu, Quinsha melihat begitu indah gaun itu pun mengenakan nya di tubuh nya, Ia seperti seorang putri, ia pun memutar mutar tubuh nya di depan cermin. melihat diri nya begitu cantik dengan gaun indah ini.
"Apa aku pantas mengenakan nya?." Tanya nya pada dirinya sendiri. ia merasa terlalu indah pakaian ini hingga malu untuk ia kenakan pada tubuh nya.
•••
Keesokan hari nya.
Quinsha membersihkan Ruangan Jesen sembari berharap laki laki datang dan bertemu dengan nya, Ia ingin mengucapkan terima kasih pada Jesen untuk gaun yang di berikan. Namun menunggu hingga tugas nya selesai, tidak seperti biasa nya, Jesen tidak juga datang.
Karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesai kan, Quinsha pun segera pergi meninggalkan ruangan Jesen.
Hingga makan siang berakhir laki laki itu pun tidak menampakkan diri nya sama sekali, membuat Quinsha bertanya tanya kemana Jesen. bagaimana dengan acara besok malam, apa ia akan menjemput nya?.
Quinsha tidak berharap Jesen akan menjemput nya, tapi ia sudah terlanjur mengiyakan Jesen akan berangkat bersama nya. Quinsha tidak memiliki nomor ponsel laki laki itu hingga ia sendiri bingung bagaimana.
Saat berjalan memikirkan Jesen, tiba tiba saja Tubuh Quinsha terpental saat ia menabrak seseorang.
"Maaf, Maaf."Ucap Quinsha lansung.
"Apa kau tidak punya mata, kerjaan mu hanya bisa menabrak orang saja?." Balas Aidan yang hanya dengan mendengar suara nya saja Quinsha sudah bisa tahu itu adalah laki laki menyebalkan itu.
"Kerjaan saya banyak Tuan, mana mungkin kerjaan saya menabrak orang, Ken yang berada di sisi Aidan pun tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak terlihat kalau ia sedang tersenyum.
Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang berani menjawab atasan nya seperti itu.
Quinsha yang menyadari kalau ia sudah lancang menjawab Aidan pun mengerutkan kening nya tanpa berani mengangkat kepala nya melihat raut wajah laki laki itu yang pasti sudah sangat marah pada nya.
"Kau--."
"Kak." Jesen datang menghampiri Aidan membuat fokus Aidan Oun teralihkan.
"Ada apa?."
"Ada yang ingin aku bicarakan."
__ADS_1
"Keruangan ku saja."Kata Aidan dan berjalan melewati Quinsha.
kehadiran Jesen rasa nya menyelematkan diri nya dari amukan Aidan saat itu.
sebelum berlalu dari depan Quinsha, Jesen berbisik di telinga Quinsha.
"Besok malam aku akan menjemput mu, bersiap lah. Aku agak sibuk hari ini." Ucap laki laki itu. Quinsha pun tersenyum menganggukkan kepala nya.
Jesen mengelus kepala Quinsha sebelum ia berlalu pergi. Membuat Quinsha terkejut dan memegangi kepala nya yang baru saja pucuk kepala nya di elus Jesen. saat Quinsha mengangkat kepala nya melihat kearah Jesen, Jesen juga sedang menoleh ke arah nya dan mengedipkan mata nya Pada Quinsha.
Quinsha lansung membalikan tubuh nya, menghela nafas sesak sebelum ia melangkah pergi. "Jika dia bersikap terus seperti ini, aku bisa jatuh hati pada nya."Batin Quinsha yang hati nya berharap itu tidak lah terjadi.
•••
Malam yang di tunggu pun tiba. Amel pun datang ke rumah Quinsha untuk berangkat bersama Wanita itu.
Amel yang pandai berdandan, menyukai fashion pun mendandanin Quinsha, yang membuat wanita itu terlihat sangat cantik dan anggun.
"Amel, apa ini aku?." Tanya Quinsha melihat dirinya seperti orang yang berbeda di cermin.
"Mungkin kembaran mu." Saut Amel.
"Iya, sangat cantik, kamu memang sudah cantik Sha, hanya sedikit polesan tipis membuat aura semakin terlihat.
bel rumah berbunyi.
Quinsha dan Amel saling melihat, kedua nya menebak kalau itu adalah Jesen. Quinsha dan Amel pun lekas keluar dan tampak Jesen sedang duduk bersama Paman Quinsha.
"Itu dia datang."Ucap Paman Jons.
Jesen menoleh dan terkejut saat melihat Quinsha yang tampak sangat cantik, ia sampai reflek berdiri tak percaya melihat pemandangan yang ada di depan nya.
Bibi Sonia yang saat itu melihat Quinsha terlihat cantik pun menatap sinis, namun ia harus menjaga muka nya di depan Jesen yang ia tahu adalah dari keluarga Milton.
"Paman, Bibi, Aku pergi dulu ya."Pamit Quinsha. Jesen pun terbangun dari lamunan dan juga lekas pamit pada Paman dan Bibi Quinsha.
__ADS_1
Ia membukakan pintu untuk wanita spesial malam ini untuk nya.
"Kamu cantik sekali Quin."
"Terima kasih, Amel yang mendandani Ku."
"Kamu sangat keren Amel, harusnya kau buka usaha merias." Ucap Jesen. Amel mengangkat kedua jempol nya tersenyum mengiyakan.
Saat sampai di gedung dimana acara itu di gelar, tentu kedatangan Quinsha dengan Jesen menjadi pusat perhatian saat memasuki pintu utama, Semua terkejut saat melihat Quinsha yang seorang office Girl sangat cantik malam ini.
Aidan yang sedang mengobrol dengan klain nya pun ikut melihat kearah Wanita itu. Aidan tidak bisa menjelaskan tentang diri nya, tapi mata nya tidak bisa berhenti melihat Quinsha, Quinsha memang cantik malam ini, tapi ada sesuatu yang membuat Aidan melihat wanita itu.
"Kalian Nikmati dulu makanan nya ya, Aku harus menemani mereka mengobrol."Ucap Jesen. Quinsha dan Amel pun mengiyakan.
Quinsha yang merasa pun mencari kue kue yang bisa ia cicipi bersama Amel. Sementara Tampak dari jauh Jesen di hampiri beberapa wanita. Namun itu pemandangan yang sudah biasa dan tidak aneh lagi bagi Quinsha.
"Kamu cemburu gak lihat Jesen dekat dengan wanita wanita itu??" Tanya Amel.
Namun hal itu membuat Quinsha lansung tersedak kue yang ia makan, Amel lalu mengambil minuman berwarna yang ada di atas meja untuk diminum oleh sahabat nya.
Rasa nya sedikit aneh, namun minuman itu manis di mulut.
"Minuman nya aneh rasa nya." Ucap Quinsha.
"Benarkah?." Amel mengambil dan meminum nya.
"Iya, Rasa nya ada pahit sedikit, tapi manis, enak."Ucap Amel.
Baru meneguk sekali, ponsel Amel berbunyi, ia pun mendapatkan telefon dan di minta pulang oleh keluarga nya.
"Ada apa?." Tanya Quinsha.
"Papa dan Mama mu datang dari kampung, aku seperti nya harus pulang sha, kamu gak apa apa kan, kamu tinggal sendiri?, aku gak tahu mereka mendadak datang nya." Jelas Amel.
"Gak apa apa kok, pergi lah, atau aku temani ya."Balas Quinsha dengan segera. Karena ia tahu sahabat nya sangat merindukan kedua orang, dan Quinsha tidak ingin menahan sahabat nya untuk tetap disini.
__ADS_1
"Jangan, disini saja, tidak enak dengan Jesen."Balas Amel. Quinsha pun mengiyakan.
Amel pun pergi meninggalkan wanita itu sendiri, sementara Quinsha yang tidak tahu apa yang harus ia lakukan pun mencoba menikmati acara itu dengan melihat mereka yang tampak asik bernyanyi.