
Bab 23
Sepertinya persaingan telah terjadi. Virza telah mengungkapkan perasaannya. Dia juga mengetahui Raka memiliki perasaan terhadap Safira. Hal itu terlihat dari tingkah dan perlakuan Raka terhadap Safira.
Memang sikap dan perlakuan Raka sangat ketara. Untuk orang yang tidak mengenal mereka sepenuhnya akan mengira jika mereka adalah pasangan kekasih.
Sesampainya di kediaman Benny Zhen, Safira lekas menata beberapa barang pribadinya. Tapi tangannya berhenti menata ketika melihat Virza membersihkan tempat tidurnya.
"Gue tidur di sofa aja. Lo nggak perlu nyiapin itu," kata Safira kepada Virza yang tengah menata bantal.
Virza menatap lekat istrinya dan mulai mendekatinya. "Apa Lo berfikir kita akan tidur satu kasur lagi?" tanya Virza mendekat.
"Terus itu untuk siapa?"
"Gue lah!"
"Oh!"
Safira menanggapi dengan datar seperti Baisa. Tapi bukannya marah, hal itu malah membuat Virza merasa gemas.
"Lo bisa nggak hilangin kata 'Oh' dari kamus bicara lo?" tanya Virza sedikit menjurus kearah protes.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Gue gemes kalau lihat lo bilang itu. Pengen gue...."
"Apa?"
Cup!
Sebuah kecupan bibir mendarat tepat di bibir lembut Safira. Membuat gadis itu terbelalak.
Plak!
Safira memukul lengan Virza dengan kasar. Seraya mengusap bibirnya.
"Lo bener-bener, ya!" geram Safira.
Kemudian Virza pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang mematung.
jiwanya terbang melayang merasakan bunga seakan berterbangan di atas kepalanya. Seakan dia tengah menari di tengah taman bunga yang bermekaran.
"Orang itu elo, Virza Zhen!" gumam Safira. Sayangnya Virza sudah tidak ada di kamar sehingga tidak mendengarkan suara pengakuannya.
***
Keesokan harinya Virza dan Safira telah sampai di rumah sakit. Sehari sebelum operasi di lakukan. terlihat jelas jika Benny jauh lebih baik dari sebelumnya. Meskipun terkadang terlihat meringis kesakitan saat bergerak terlalu keras.
__ADS_1
"Kalian nanti malam pulang dulu saja. Ayah operasi masih besok," ucap Benny.
"Nggak, Yah. Nanti kita bermalam disini. Besok ayah operasi pagi. Butuh waktu empat sampai enam jam," jelas Safira dengan sabar dan lembut.
"Kalau tidak kalian tidur di hotel dekat rumah sakit aja," usul Benny karena dia tidak ingin melihat menantunya tidur di rumah sakit.
"Buang-buang uang dan waktu, yah. Sudahlah kita disini aja," kekeh Safira.
Safira tetap dengan pendiriannya untuk menunggu di rumah sakit. Sebelum berangkat Virza sudah menawarkan hal yang sama kepada istrinya. Tetapi seperti yang dikatakan kepada ayahnya jika itu akan membuang uang dan waktu saja mereka harus menginap di hotel.
Sebenarnya Safira memiliki alasan khusus dengan pendiriannya tersebut. Saat ayahnya sakit dia sendirian mengurus kesana kemari tentang pendaftaran pasien yang, pembayaran dan penebusan obat. Saat dia kembali ke kamar ayahnya ternyata ayahnya terjatuh di kamar mandi dan membuatnya tak sadarkan diri. Karena Safira tidak memiliki saudara kandung yang bisa membantun untuk menjaga ayahnya. Dia tidak ingin hal tersebut terjadi kepada ayah mertuanya. Maka dari itu dia rela mengambil keputusan besar keluar dari pekerjaan dan kuliah secara daring.
Seharian penuh Safira merawat ayah mertuanya dengan telaten. Menyuapinya, memberikan obat dan bahkan memberikan hiburan kepada ayahnya agar tidak merasa bosan. Virza melihat itu mengulas senyum bangga terhadap istrinya. Hingga malam pun tiba mereka masih berada di rumah sakit.
"Selamat malam..." sapa seorang wanita yang memasuki tempat Benny di rawat. dokter muda dengan jas putihnya memberikan senyum ramah kepada pasien selayaknya yang biasa mereka lakukan.
"Malam Dok," sahut Safira. Virza dan Benny terlihat terperangah menatap dokter wanita itu. Terlebih Virza yang yang tidak berkedip sama sekali.
"Dokter mau periksa ya?" tanya Safira menyadarkan semua orang yang terlihat termangu sejenak.
"Iya." jawab dokter dengan singkat. "Dokter Andri sedang berhalangan. Namun tenang saja, besok beliau tetap akan melakukan operasi," jelas dokter yang terlihat sangat cantik dan anggun. Bahkan Safira pun terkagum-kagum menatapnya.
Dokter itu dengan lihai melakukan cek tensi dan detak jantung.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, Pak. Anda terlihat sedikit gugup. Untuk yang lain sudah normal," kata dokter itu. Benny tersenyum tipis menanggapi dokter itu. Kemudian dokter itu pergi begitu saja meninggalkan bangsal tempat Benny di rawat.