
Bab 36
Safira mengetuk pintu kamar Virza dengan kasar. Hingga membuat pria itu terbangun dari tidurnya.
"Safira, Lo akhirnya pulang juga!" seru Virza yang membuatnya terbangun seratus persen.
"Stop!" Safira menghentikan tubuh Virza yang hendak memeluknya. "Gue ke sini untuk menyelesaikan masalah kita," ucapnya datar.
"Masalah apa lagi?" tanya Virza jengah.
"Antara lo, gue dan Agnes. Jadi lo nggak perlu menyeret Raka dalam masalah ini," jelas Safira dengan nada yang ketus.
"Gue tidak pernah menyeret dia masuk dalam masalah kita, dia sendiri yang masuk dalam masalah ini." elak Virza.
"Pertama. Gue tidak pernah menghalangi lo untuk menikah sama Agnes. Tapi kenapa setiap ada masalah antara lo dan Agnes selalu gue yang jadi sasaran." ucap Safira dengan mata yang marah. "Kedua lo nggak perlu marah atau cemburu saat lo lihat gue sama Raka. Gue juga bebas bersama siapapun," imbuh Safira.
"Lo bilang, kalau lo jadi sasaran. emangnya lagi ngapain lagi sama Agnes?" tanya Virza.
__ADS_1
"Calon istri lo ngedatengin gue katanya lo lagi sama gue!"
"Lo kenapa nggak bilang ke gue? Lo kesini juga karena belain si Raka?"
"Untuk apa gue ngomong sama lo, kalau masalah Raka memang dia pantas untuk dibela. Jadi lain kali jangan sampai lo lukai dia lagi," ancam Safira.
"Apa lo nggak lihat gue juga luka? Apa lo udah nggak ada rasa lagi sama gue? Atau hati lo emang sudah tertutup untuk gue?"
"Gue lihat lo luka makanya gue yakin lo memang melibatkan Raka dalam masalah ini." Safira melipat kedua tangannya di depan menjadi bersedikap. "Untuk masalah hati gue bergerak atau tidak sepertinya bukan urusan lo lagi. dan memang hatiku udah tertutup untuk lo," imbuhnya.
"Safira!" panggil Benny. Mendengar suara itu Safira lekas menoleh dan melihat ayah mertuanya sudah berada di depan kamar. dengan terburu-buru dia menuruni anak tangga dan menghampiri ayah mertuanya.
Dengan cepat Benny memeluk tubuh gadis itu. Rasa rindu terlihat dalam air mata yang tiba-tiba menetes pada pipi pria itu.
"Apa setelah kamu pisah dengan Virza kamu tidak akan datang lagi ke sini?" tanya Benny dengan melepaskan pelukannya.
"Akan selalu Safira usahakan untuk tetap ke sini, tapi untuk akhir-akhir ini Safira tidak bisa, ayah. Tapi tenang saja. ayah selalu bisa menelpon Safira kapan saja," jawab Safira.
__ADS_1
Mendengar itu Benny merasa tenang. Dia merasa rindu semenjak kepergian Safira. Tidak ada yang menanyainya tentang apa yang ingin dia makan dan tentang apa yang dia ingin lakukan. Meskipun kadang dia mengutarakan keinginannya kepada art nya, tapi hal itu tak seperti saat dia sedang disuapi oleh Safira. Atau bahkan saat diajak jalan-jalan oleh Safira meskipun hanya di taman depan rumah.
Awalnya Safira ingin pulang dengan cepat. Tetapi dengan permintaan ayah mertuanya untuk tetap tinggal sebentar membuatnya terpaksa mengabulkan permintaan itu.
Pukul 21:00 Safira pulang dengan di antar supir pribadi Benny. Sopir itu di utus untuk mengantar Safira dan memastikan selamat sampai tujuan.
Virza yang mengetahui Safira diantar oleh sopir pribadi ayahnya seketika tersenyum tipis penuh arti. Dengan diantarkannya Safira oleh sopir pribadi ayahnya, maka Virza bisa mengorek informasi tentang tempat tinggal Safira saat ini.
Kedatangan Safira ke rumah Virza ternyata diketahui oleh Agnes yang hendak memeriksa Benny. Agnes juga mengikuti mobil yang mengantar Safira pulang.
Setelah mengetahui tempat tinggal Safira, Agnes pergi begitu saja tanpa berhenti atau melakukan sesuatu. Tetapi terlihat jelas dia tersenyum sembari menatap tempat tinggal Safira.
"Terima kasih ya, pak." ucap Safira pada sopir itu.
"Sama-sama, Non."
Kedatangan Safira disambut oleh Sasha. Tapi Sasha lebih fokus pada mobil yang sudah berlalu berwarna merah. Nampak tidak asing bagi Sasha tapi dia lupa pemilik mobil itu atau tempat saat melihat mobil itu.
__ADS_1