Pernikahan Rahasia Sang Dosen

Pernikahan Rahasia Sang Dosen
Mual


__ADS_3

Bab 61


Karena Safira bangun kesorean sehingga tidak bisa ke pantai. Sebagai gantinya Safira mengunjungi beberapa cafe, resto dan live musik. Banyak tempat malam yang bisa mereka kunjungi dengan suguhan live musik atau para wanita seksi.


Saat berada di cafe, Safira berpamitan ke toilet. Virza menunggu di mejanya dan menikmati musik yang sedang di suguhkan. Anggukan kepala menandakan dia menikmati musik itu.


Seorang gadis tidak di kenal dengan pakaian seksi mencoba mendekati Virza.


"Mau minum denganku," tanyanya.


"Tidak," tolak Virza dengan cepat.


"Oh, kalau begitu sebagai perkenalan boleh ku tuang minuman segelas untukmu?" gadis itu menuangkan bir ke gelas Virza yang kosong dari botol yang mereka bawa.


Agar gadis itu segara pergi Virza meminumnya begitu saja.


"Terima kasih, aku––" baru mengulurkan tangan ingin bersalaman.


"Aku sudah meminumnya, bisa kalian pergi?" usir Virza.


Gadis itu dengan kesal pergi begitu saja. Tak lama Safira datang. Beruntung tidak menimbulkan masalah.


Tapi sesaat kemudian Virza mengalami keringat dingin. Matanya terlihat tidak fokus.


"Lo kebanyakan minum lagi ya?" tanya Safira.

__ADS_1


"Nggak," jawab Virza.


Safira melihat botol itu juga masih setengah. Tidak mungkin Virza yang terbiasa minum bisa teler dengan minum setengah botol saja.


"Kita ke hotel aja," ajak Safira dia membantu suaminya berjalan keluar cafe malam itu. Bukan Bar karena tidak ada DJ khas club malam. tapi musik band biasa. mereka menyebutnya Cafe malam karena menyuguhkan minuman beralkohol juga. Berbeda dengan cafe yang lain.


Virza menahan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan kepada istrinya. Dia hanya bisa mencengkram tubuh istrinya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman itu.


Sesampainya di hotel. Safira melepas baju suaminya yang sudah basah dengan keringat. Karena memapah Virza, Safira juga ikut berkeringat. Tapi sayangnya dia tidak menemukan baju tidurnya saat ingin mengganti pakaiannya.


"Hah! Apa ini?" gumam Safira saat menemukan lingerie hitam itu.


"Saf...." Panggil Virza. Tidak ada pilihan lain, Safira memakainya. Karena dia tidak bisa menggunakan celana panjang saat tidur.


"Lo kenapa sih, Vir?" tanya Safira bingung melihat keadaan Virza.


Virza malah membuang selimut yang menutupi tubuh istrinya.


"Saf, maafkan gue." bisik Virza.


Dengan bringas menikmati setiap lekuk tubuh Istrinya.


Minuman yang di berikan oleh gadis itu sudah di campur dengan obat kuat. Karena sejak pertama melihat Virza memasuki cafe mereka sudah mengincarnya. Meksipun bersama Safira mereka masih mencoba mendapatkannya. Tapi tidak berhasil. sehingga saat obat itu bereaksi, Safira yang harus menanggung akibat obat kuat itu.


****

__ADS_1


Keesokan harinya Virza terbangun dengan seluruh badan terasa pegal luar biasa. Virza melihat tangan istrinya ada bekas merah cengkraman. Seketika Virza terbelalak melihat beberapa bekas luka kecil di beberapa bagian tubuh istrinya.


"Vir? Lo udah bangun?" tanya Safira.


"Saf, maaf," ucap Virza dengan mencium luka-luka pada tangan istrinya.


"Yang penting itu buat lo lebih baik," kata Safira.


Virza memeluk tubuh istrinya dengan erat penuh rasa bersalah. Memang dia ingin malam yang bergairah, tapi semalam sangat over gairah hingga membuat lingerie baru itu sobek dan meninggalkan bekas luka pada istrinya.


Mereka bersiap untuk menghadiri pernikahan dari teman Benny. Beberapa kali Safira merasa nyeri pada bagian paha dan perutnya. Tapi dia mengabaikannya. Dia mengira jika karena semalam.


"Lo kenapa cantik banget sih?" bisik Virza yang berdiri di belakang istrinya yang tengah berdandan. Dengan balutan kebaya khas bali berwarna navi dan rok batik membuat Safira sangat anggun.


"Lo mau bawa istri spek gembel?" tanya Safira dengan menyisir rambutnya terurai.


"Ya nggak gitu, gue takut Lo di lirik orang," jawab Virza.


"Lebay banget. Kan gue sama lo terus," hardik Safira.


Dengan menggunakan mobil dari hotel Virza dan Safira di antar ke sebuah gedung tak jauh dari tempat mereka menginap.


"Duh, kenapa tambah sakit ya perutku," batin Safiram tapi dia tidak ingin mengatakan pada suaminya. Karena sudah di dalam acara.


Acara tengah berlangsung. Banyak taman dari Virza yang menyapa. Sehingga memaksa Safira tetap tersenyum ketika berada di dihadapan mereka. Virza juga tidak menyadari jika Safira beberapa kali memegang perutnya. Sakit datang sesaat lalu hilang begitu berulang kali. Bahkan Safira menolak untuk minum dan makan sesuatu. Dia menahan mual yang sangat hebat, sakit perut yang melilit. Keringat dingin sudah membasah wajah Safira. Badan juga terasa meriang.

__ADS_1


__ADS_2