
Bab 42.
Safira heran tiba-tiba ada surat panggilan untuknya. Safira dengan gemetar ingin membuka surat itu. Raka yang melihatnya lekas merampasnya dengan kasar.
Street...
"Jangan di lihat!" tegas Raka.
"Lo kenapa?" tanya Safira bingung.
"Gue tahu lo akan semakin sedih lihat surat ini," jawab Raka.
Virza sangat terpaksa melakukan itu karena setelah melakukan runding dengan Raka, mereka curiga jika Broto bisa saja mengecek status perceraian mereka ke kantor jaksa. Untuk membuat Broto percaya Virza melakukan itu.
Saat melakukan runding mereka sempat beradu argumen hampir membuat masalah baru. Virza merasa Raka memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Safira lekas bercerai dengannya.
__ADS_1
"Kalau Lo ingin mempertahankan Safira Lo harus bergerak cepat. Kita membantunya sekaligus bersaing dengan sehat," kata Raka.
Akhirnya mereka setuju dengan keputusan itu. Arga meminta beberapa orang suruhannya memata-matai setiap gerakan di rumah Broto. Sedangkan Virza mengendalikan perasaan Agnes agar bisa mengantongi informasi tentang semua Yang dilakukan ayahnya. Tapi sudah beberapa hari berjalan, Virza tidak melihat gelagat Agnes yang mencurigakan. Hingga dia menarik keputusan bahwa Agnes tidak terlibat dalam rencana ayahnya.
Tetapi Raka meminta Virza untuk tidak lengah. Kita tetap harus waspada kepada mereka. Raka juga ingin Virza membalikkan posisinya kepada Agnes. "Jika dia saat ini kita manfaatkan perasaannya, bisa jadi dia juga memanfaatkan Lo balik." itu yang di katakan Arga kepada Virza.
Teman Alex yang memintanya datang waktu itu adalah seorang supir di rumah Broto. Hal itu di ketahui saat sudah beberapa hari melakukan penyelidikan di rumah Broto oleh Virza. Virza tidak tahu pria itu akan memihak siapa jika sampai di tanyai perihal kejadian itu. Virza berulang kali memikirkan tindakan yang harus dia lakukan.
Sedangkan di sisi lain, Safira dan Sasha akan tinggal sementara di rumah milik Raka yang sudah lama tidak di tempati. Tidak cukup sampai di situ. Raka juga menyediakan satu asisten rumah tangga untuk mereka berdua.
Saat malam tiba, Safira melamun menatap gelapnya langit. Dia memikirkan surat panggilan dari pengadilan. Saat ini dia tidak bisa menghubungi Virza, karena hpnya ikut terbakar.
Sasha melihat wajah murung sahabatnya menjadi ikut merasa sedih. Dia tahu jika Safira mulai menyukai Dosennya itu. Tapi kini semua sudah berakhir. Sasha hanya bisa memberikan dukungan mental kepada gadis itu.
Kedua orang tua Sasha langsung pulang ke kampungnya karena sudah memastikan Sasha baik-baik saja. Sasha juga menolak untuk pulang karena kuliah hanya tinggal beberapa bulan lagi. Dia tidak mau putus kuliah begitu saja.
__ADS_1
Beruntung Skripsi Mereka ada cadangan di flashdisk Raka. Jadi mereka tidak terlalu pusing memikirkan Skripsi lagi.
Setiap malam, Virza dan Raka mengumpulkan temuan baru mereka. Hanya melalui telepon mereka mengatakan semuanya. Agar tidak menimbulkan curiga.
"Gue lihat teman Alex sangat penurut dengan Broto. Tadi gue ngikutin dia sampai di sebuah rumah besar di suatu perkampungan. Sangat aneh sih ada rumah besar disana," kata Raka.
"Nah, gue tadi menemukan nomor yang di buang. Gue yakin itu nomor yang di gunakan untuk mengirim pesan kepada Safira." ujar Virza. "Gue lihat di hari pertama. Tapi hampir ketahuan oleh Agnes," imbuhnya.
"Apa lo catat?" tanya Raka.
"Gue bawa. Gue ambil dari sampah depan rumah Agnes."
"Bagus, gue suruh anak buah papa untuk memata-matai rumah itu. Gue agak janggal soalnya," kata Raka dengan wajah sedikit lelah.
Raka menyusun setiap kejadian menjadi sebuah struktur yang tersusun. Dia berulang kali memiringkan kepalanya ke kanan ke kiri untuk mengamati semua kejadian ini. Dia merasa jika tujuan awal bukan pada Safira. Melainkan ada Virza. Safira hanya sebagai batu krikil yang di buang oleh Broto. Tapi sangat tidak mungkin jika alasannya hanya karena Agnes suka sama Virza.
__ADS_1