
Bab 43
Satu Minggu berlalu....
Virza mendatangi tempat tinggal Safira. Dia mengetuk pintu dengan percaya diri.
"Elo!" seru Sasha kaget saat membuka pintu.
"Siapa, Sha?" tanya Safira seraya menuju pintu.
"Bu––"
"Lo!" Safira terkejut saat melihat tamu yang datang.
"Elo! Kenapa kesini?" tanya Safira yang juga kaget sama seperti Sasha.
"Gue? Kesini ya mau jenguk kalian," jawab Virza bingung.
"Mending lo pergi, gue nggak mau ketemu elo!" usir Safira. Melihat sikap Safira Virza menerobos masuk begitu saja menahan Safira.
"Lo kenapa?" tanya Virza bingung.
"Pertanyaan macam apa itu?" tanya balik Safira. "Lo emang suka ya mempermainkan orang?" cibir Safira.
"Bentar. Gue nggak paham sama maksud lo? Gue mempermainkan apa lagi?" tanya Virza bingung.
"Pak, Virza. Anda sudah mengirimkan gugatan cerai. Tapi kenapa masih mencari Safira?" sahut Sasha yang geram.
__ADS_1
"Apa Raka nggk ngasih tahu elo?" tanya Virza.
Safira dan Sasha menggelengkan kepala bersaman.
"Dih, tu anak sengaja. Katanya bersaing sehat. Tapi malah begini," gumam Virza kesal.
"Raka sering kesini?" tanya Virza.
"Enggak, sudah seminggu nggak ada kabar. Entah kemana tu anak," jawab Sasha.
Virzha yang tadinya curiga karena Raka ingin memanfaatkan keadaan kini berubah menjadi khawatir. Sudah beberapa hari terakhir dia tidak saling berdiskusi.
"Apa dia bilang sesuatu?" tanya Virza lebih lanjut.
"Enggak."
"Ya udah, Lo disini aja. Ini ada hp untuk kalian berdua. Gue mau cari tahu tentang Arga dulu," pamit Virza meletakkan dua tas dari toko hp dan beberapa camilan di atas meja.
Sedangkan di lain sisi, Raka sedang berusaha keluar dari kamar sempit dan kotor. Mulut yang di sumpal kain dan tangan yang terikat membuatnya tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Raka tidak tahu persis kenapa dia bisa ada disini. Terkahir dia mengintai sendiri rumah yang ada di perkampungan itu. Dia melihat Broto masuk ke rumah itu dengan anak buahnya.
Tapi setalah itu dia bangun sudah berada di ruangan gelap ini. Dinding bertulisan cat berwarna merah seakan mengancamnya 'jangan ikut campur jika ingin semua keluarga mu baik-baik saja!'.
"Anjing! Sialan! Keluar lo!" umpat Raka. Tapi sepertinya dia berada di rumah kosong.
Tidak ada yang menyahut. Setelah berhasil membuat lepas tali di mulutnya, kini Raka mencari cara agar bisa melepaskan tali di tangannya.
__ADS_1
Melihat pecahan kaca di lantai, Raka lekas memutar tubuhnya dan mengambilnya dengan tangan yang ada di belakang dalam keadaan di ikat itu. Hampir saja berhasil dia melihat ada seseorang mendekat di depan pintu.
"Apa dia sudah bangun?" tanya seseorang di luar ruangan.
"Belum, pak."
Raka lekas berpura-pura pingsan. Seorang pria besar memasuki ruangan itu. Dengan langkahnya yang percaya diri mendekati tubuh raka
Duk!
Pria itu menendang tubuh Raka dengan keras untuk memastikan jika Raka memang pingsan beneran.
"Bakar rumah ini setalah saya pergi. Pastikan dia mati!" suruh Broto kepada anak buahnya.
"Kita harus menyingkirkan semua halangan. Tinggal sedikit akan hancur semua orang-orang yang dulu tidak mau membantuku saat terpuruk," ucap pria itu. "Sebenarnya dia tidak tahu menahu urusan kita. Tapi dia sendiri yang masuk dalam masalah ini," lanjut Broto seraya menepuk pelan pipi Raka.
"Lakukan! Setelah itu pergi ke tempat jauh jangan pernah muncul lagi," ucap Broto seraya memberikan sejumlah uang kepada mereka semua.
Tak lama Virza sampai di depan rumah Raka terlihat sangat sepi. Dia mencoba menghubungi hp Raka tapi tidak aktif.
Virza mengira jika pria itu ada di kampus. Dia memilih datang ke kampus untuk memastikan.
Mencari kesana kemari, di kelas, di perpustakaan dan di taman tidak ada. Semua ruangan tak luput dari pemeriksaannya.
Saat sedang panik, Agnes datang dan memeluk Virza. Dia tidak bisa berbuat kasar atau dia akan kehilangan cara untuk membuktikannya semuanya.
"Vir, kamu cari aku ya?" bisik Agnes.
__ADS_1
"I-iya," jawab gugup Virza terpaksa mengiyakan pertanyaan itu m
"Kalau gitu kita pergi nonton yuk," ajak Agnes. Virza bingung untuk menerima atau menolak ajakan gadis di depannya. Tapi Agnes menggandeng begitu saja pria yang masih terlihat mempertimbangkan ajakannya.