
Bab 63
Awalnya sedikit canggung bagi Safira untuk memanggil kata sayang untuk Virza tapi lama kelamaan mereka terbiasa.
***
Kehamilan Safira semakin membesar. Dia sangat gampang kelelahan. Tidak ada ngidam aneh-aneh selama kehamilan. Hanya saja dia tidak suka mencium aroma parfum.
Saat kehamilannya sudah menginjak umur tiga bulan, Safira kesal saat melihat Virza. Bahkan dia tidak bisa tidur jika ada Virza di sampingnya.
"Pasti ini cuma alasankan?" tuduh Virza dengan wajah merajuk. "Masak iya nggak bisa tidur bareng sama suami sendiri, tapi alasan anaknya yang di perut," imbuh Virza yang sangat bingung dengan tingkah aneh Safira.
"Ya nggak tahu, kamu lihat sendiri semalam aku nggak tidur sama sekali," jawab Safira yang terlihat tidak tahu menahu dengan apa yang dia rasakan.
Virza masih enggan beranjak dari tempat kasurnya.
"Sayang, aku ngantuk. Kamu bisa nggak sih agak jauhan?" protes Safira.
"Ini juga jauh, Sayang. Heran deh anak siapa sih itu?" gumam kesal Virza bangkit dari tidurnya dan kembali ke sofa.
"Anak kamu lah, kamu kira ini anak siapa? Kalau ngomong nggak ada filternya tu mulut," ucap Safira kesal.
"Mana ada anak yang nggak mau tidur sama bapaknya sendiri," gumam kesal Virza.
"Ya nggak tahu. Tanya nih bayi. Kalau nggak mau ngakuin, anggap aja ini anak ku sendiri," tukas Safira lekas membuang muka dari Virza.
"Eh, jangan dong. Anakku itu. Tidur sayang tidur," Virza mengalah meskipun dia masih kesal karena sudah tidak bisa tidur dengan istrinya akhir-akhir ini.
__ADS_1
Virza sering mengeluh kepada ayahnya. Tapi sang ayah tidak ada tanda-tanda untuk membelanya. Perhatian penuh tercurahkan kepada Safira. Bahkan Raka , Sasha dan Rafa juga sering menjenguk Safira sejak hamil.
****
Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan berlalu. Acara syukuran diadakan untuk tujuh bulanan kehamilan Safira. Beberapa keluarga banyak yang berkumpul sedangkan Safira kembali ke kamar lebih dulu.
Tiba-tiba.....
"Sayang!"
"Virza!!" teriakan terdengar jelas di lantai satu. Virza yang masih menemui tamu lekas naik ke lantai dua. Dia melihat istrinya sudah berada di kasur dengan wajah yang merah padam menahan sakit.
"Sayang... Sayang...., perutku sakit."
"Kenapa? Gimana rasanya? Yang mana yang sakit?" Virza gugup mengusap-usap perut istrinya yang terasa sangat kencang.
"Sebentar," Virza membuka laci dan mengambil buku ibu hamil dengan kasar dia membolak-balikkan halaman buku itu.
"Cari apa sih, Sayang?" tanya Safira kesal.
"Bentar sayang. Aku kemarin baca cara mengatasi perut ibu hamil yang kencang kayak gitu," jawab Virza dengan mata tetap mencari.
"VIRZA ZHEN! BAWA AKU KE RUMAH SAKIT! ITU CARANYA! emmmppph" pekik Safira juga menahan sakit. Saking gugupnya Virza bingung untuk melakukan apa.
Semua orang panik ketika melihat keadaan Safira sudah pucat dan lemas.
Virza teringat, dia pernah membaca artikel yang mengatakan jika ibu hamil kembar pontensi lahiran prematur.
__ADS_1
Dia meminta mbok Ijah menaruh beberapa kebutuhan Safira di dalam satu tas. Sepanjang perjalanan tangan Safira tidak henti-hentinya mengeluh dan meremas tangan suaminya.
Benar saja sesampainya di rumah sakit Safira langsung diminta operasi. karena kondisinya sangat lemah.
Harap-harap cemas. Itu yang di rasakan Benny dan Virza. Mbok Ijah dan pak Imam juga ikut menunggu di depan ruang operasi.
Satu jam berlalu, akhirnya dokter keluar dengan wajah berseri-seri.
"Selamat, pak. Putra dan putri serta istri anda berhasil melewati perjuangan mereka," kata doktor itu.
"Apa saya boleh melihatnya?" tanya Virza dengan nada bergetar haru.
"Tunggu sampai di pindahkan di ruang rawat," jawab dokter itu dengan ramah.
***
Satu Minggu berlalu. Safira dan kedua bayinya suda di perbolehkan untuk pulang. Banyak kerabat yang datang. Sasha, Rafa dan Raka juga datang, untuk Sasha dia datang kesekian kalinya setelah tahu Safira melahirkan.
Kebahagiaan tidak hanya di rasakan oleh Virza dan Safira. Tapi Benny, para kerabat dan juga sahabat.
"Saf, siapa namanya?" tanya Raka yang baru melihat dua bayi mungil itu.
"Kakaknya, Ghani putra Zhen." jawab Safira. "Adiknya Ghina putri Zhen," imbuh Safira.
Mereka menatap gemas bayi Ghina dan Ghani.
Kini rumah kediaman keluarga Zhen terasa ramai dengan suara tangis dan rengek si kembar. Membaut suasana rumah menjadi sangat hidup dan terasa bahagia....
__ADS_1
Tamat.