
Bab 50.
Raka masih dengan keputusannya untuk tetap melamar Safira di wisuda nanti. Toh sebentar lagi putusan pengadilan. Jika sebuah sidang tidak di hadiri sebelah pihak maka akan semakin cepat putusannya.
***
Sementara itu, Virza masih kesana kemari bersama pengacaranya untuk mengurusi masalah Broto yang kini merembet kemana-mana. Bahkan kematian sang ibu terlibat dalam kasus ini.
Sedangkan di kampus kini Safira menjadi gadis yang di takuti untuk menjadi bahan pembicaraan. Sikapnya yang sadis membuat yang lain berfikir ulang saat ingin mencibirnya.
May juga menjadi gadis yang selalu menghindar jika bertemu dengannya. Berbeda saat dirinya mendekati Virza.
"Saf, Lo bener-bener berubah," bisik Sasha.
"Enggak, gue cuma mau meluruskan aja sih sebenarnya," sahut Safira.
"Lo jadi keren gitu loh, saf."
"Apanya yang keren sih? Gue risih aja kalau jadi bahan cibiran mereka."
__ADS_1
"Kenapa lo nggak dari dulu aja ngelawan gini?" tanya Sasha seraya menuju kantin. Sudah tidak ada pelajaran apapun lagi saat ini.
"Semua memang ada porsinya masing-masing. Selagi tidak melewati batas gue nggak akan bertindak atau bahkan menanggapinya. Tapi kalau udah melewati batas, ya... beda ceritanya," jawab Safira.
"Tapi kalau lo nanti mau jadi janda gimana kerjanya?" tanya tiba-tiba Sasha saat terbesit tentang status sahabatnya.
"Gue yakin pasti Tuhan sudah menyiapkan rezeki untuk kita sendiri-sendiri. Nggak perlu takut," jawab Safira dengan tenang. Sahabatnya itu yang sudah berubah 100% bahkan seperti bukan Safira yang dia kenal lagi. Sikapnya benar-benar menjadi acuh tak acuh. Mungkin karena dia sering disakiti terlebih karena hantaman cibiran para penghuni forum kampus yang menyebutkan namanya setiap waktu itu. Sehingga membentuk mental baja si Safira.
***
Sedangkan Raka yang berada di rumahnya merasa jika jauh lebih baik saat ini. Untuk melakukan kontrol pada lukanya dia memanggil seseorang dokter untuk datang ke rumahnya. Memang beda jika anak dari orang kaya. Tidak perlu keluar rumah dokter dan yang lain akan datang sendiri ke rumahnya.
Raka yang mengambil kotak di sebuah lemari kecil dekat ruang tamu tiba-tiba terjatuh begitu saja. Tangannya yang masih terbelut perban tipis membuatnya tidak bisa menggenggam dengan baik kotak tersebut, meskipun hanyalah kotak kecil
"Apa itu?" tanya Ayah Raka saat mendengar sesuatu jatuh tak jauh darinya.
"Nggak apa-apa, yah. Barang Raka," sahut Raka.
Raka membungkuk kesana kemari mencari sesuatu yang hilang setelah barangnya. "Punya siapa itu?" tanya papa Raka. Tapi saat mendengar suaranya ayahnya dan melihat pria itu memegang cincin di tangannya membuat Raka lekas melompat dan mengambil cincin itu.
__ADS_1
"Punya Raka." jawab Raka lirih seraya mengambil cincin itu.
"Kamu mau melamar seseorang?" telisik pria yang bersandar di sofa.
"Iya, pa. Tapi...." Kakak mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kenapa?" tanya pria itu.
"Ada yang ingin Raka katakan," jawab Raka dengan ragu. Raka ingin mengatakan semuanya tentang status Safira saat ini.
"Apa papa tahu gadis yang tinggal di rumah kita?" tanya Raka dan di sambut anggukan oleh papanya.
"Gadis itu yang akan Raka lamar." Belum terlihat ekspresi apapun dari orang tua Raka. "Tapi saat ini dia masih menjadi istri dari Virza," imbuhnya. Kali ini wajah orang tua Raka menjadi tersentak bingung. Bagaimana mereka tidak bingung mendengar anaknya yang menyukai istri orang lain dan hendak melamarnya.
"Apa kamu tidak bisa cari wanita lain dia? udah punya suami." tanya wanita yang duduk di hadapan Raka yang tak lain adalah ibunya. Wajar saja jika sang ibu merasa keberatan saat akan membuat keputusan hendak melamar istri orang lain. Melamar gadis yang single saja harus dilihat bibit dan bobotnya. ini malah masih istri orang.
"Sebentar mah aku jelaskan dulu," kata Raka.
Raka mulai menjelaskan jika Safira hendak bercerai dengan Virza. Pernikahan yang mereka jalani bukan berdasarkan cinta dan saling suka. Maka dari itu Raka memberanikan diri untuk melamar Safira dan menikahinya setelah keputusan pengadilan. Meskipun terlihat mengangguk paham, tapi wajah mereka belum bisa menerima sepenuhnya atas keputusan anaknya tersebut. Raka mengerti memang butuh waktu untuk kedua orangtuanya. Sehingga untuk saat ini Raka tidak ingin berdebat panjang atas keputusannya.
__ADS_1