
Bab 58
Semenjak mereka resmi go public Virza tidak malu lagi untuk bermesraan di depan umum. Bahkan dia terkesan sangat bucin kepada istrinya.
Kuliah mulai aktif dan penerimaan mahasiswa baru. Virza juga mulai aktif mengajar.
Saat ada mahasiswi baru yang melihat Virza seketika banyak yang mengidolakannya. Mereka berebut memberikan hadiah kepadanya.
"Pak, boleh minta akun Ig?"
"Nomor Wa?"
Mereka bergerombol mendekati Virza. Yang berjalan di koridor kampus. tanpa mengeluarkan sepatah katapun Virza menunjukkan jari Manisnya yang sudah di lingkari oleh cincin emas.
Meskipun begitu untuk mahasiswi baru tidak ada yang tahu sosok istri dari Virza. Meksipun mereka mendengar desas-desus sosok istri sang dosen adalah alumni kampus ini juga. Tapi mereka belum melihat secara langsung Virza bersama istrinya.
***
Sedangkan disisi lain, Safira memilih membeli beberapa kebutuhan rumah sendiri. Karena Virza tidak memiliki banyak waktu senggang. Ambil sana... Ambil sini... Tak terasa sudah satu troli penuh. Itu kebutuhan dapur dan ayah mertuanya. Dia tidak mengambil satupun untuk pribadinya.
"Apa butuh bantuan?" tanya seorang pria yang juga sedang berbelanja.
"Tidak, saya bisa sendiri kok." jawab Safira dengan sopan. Safira lekas mendorong trolinya ke lorong lain untuk menghindari pria tersebut. Tapi nyatanya pria itu seakan mengikutinya dengan alasan sedang memilih barang. Karena merasa tidak nyaman Safira memilih menjauhinya lagi.
Pria itu terus mengikuti Safira. Hingga langkahnya di hadang oleh sosok pria yang menatapnya dingin.
__ADS_1
"Jangan berani melangkah ke arahnya satu langkah lagi," ancam Virza dengan nada datar.
"Siapa kamu? Apa urusanmu? Ini tempat belanja, bebas kita mau kemana." pria itu berkilah.
"Jika memang bebas harusnya anda pergi ke arah lain. Kenapa selalu mengikutinya," ucap Virza. Mendengar suara yang tak asing Safira lekas kembali ke lorong sebelumnya.
"Virza!" gumam Safira.
"Siapa kamu mengatur saya?" tanya pria asing itu.
"Dia istriku!" tegas Virza membuat Safira tersenyum. Ada rasa yang tidak bisa di jelaskan. Senang dan gembira begitu saja. akhirnya dia bisa di akui sebagai istri di depan orang lain.
Pria itu lekas pergi meninggalkan mereka berdua. Virza berbalik dan mendapati istrinya sudah berada di belakangnya dengan senyum-senyum malu.
"Gue udah bilang jangan keluar sendiri. Lihat kan mata mereka liar sekali," kata Virza mendekati Safira.
"Tapi lo lupa bawa hp." Virza datang karena menelpon Safira tak kunjung ada jawaban sehingga menelpon rumah dan Mbok Ijah mengatakan dia sedang berbelanja.
"Karena lo udah berani keluar tanpa gue, Lo harus bayar," ujar Virza.
"Bayar?" ulang Safira.
"Iya."
Virza mendekatkan wajahnya. Hingga bibirnya hampir bertemu.
__ADS_1
"Stop! Ada orang." Safira memegang dua pipi Virza dan memaksanya menoleh kearah ujung rak display yang ternyata ada dua pengunjung menatapnya.
"Kita kesana saja," ucap dua pengunjung itu malu karena memergoki mereka berdua.
Safira dan Virza kepalang malu. Tapi untuk menjaga harga dirinya Virza berlagak tidak peduli.
"Biarin, yang gue cium juga istri gue sendiri." tukas Virza.
Sesampainya di rumah, Virza menurunkan beberapa belanjaannya. Virza melarang Safira untuk mengangkat satu kantongpun.
Sikap Virza yang siaga dan bucin membuat hati Safira leleh.
"Lo masih harus tetap bayar," bisik Virza saat mengangkat kantong terakhir.
Mbok Ijah dan Benny yang menatap mereka berdua hanya tersenyum.
Safira ingin mengganti bajunya, tapi suaminya sudah ada di dalam kamar. Membuatnya ragu untuk masuk.
"Vir, kayaknya Lo harus balik ke kampus deh, katanya kan ada kelas hari ini," Safira mencoba mengusir suami ya itu.
"Sudah ada tugas," kata Virza singkat. Seraya menepuk-nepuk kasur yang kosong di sebelahnya.
"Ini.... Masih siang, Vir."
"Lo nggak mau?" tanya Virza datar. "Lo milih sekarang atau nanti malam nggak usah tidur sama sekali," kata Virza yang sedikit mengancam dan berjalan pelan kearah istrinya.
__ADS_1
"Nggak, Vir. Gila Lo!" hardik Safira yang hendak mengambil baju yang lebih santai. Tapi tangan Virza dengan cepat meraih tubuhnya dan memeluknya dari belakang. selangkah demi selangkah mereka sampai di kasur yang luas itu. Kasur yang dua kali lebih luas dari sebelumnya.