Pernikahan Rahasia Sang Dosen

Pernikahan Rahasia Sang Dosen
Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Bab 56


Sesampainya di rumah, Safira lekas menuju kamar Benny. Dia melepas rindu dengan mertuanya. Terlihat lebih kurus dari sebelumnya membuat Safira menitihkan air mata.


"Kenapa nangis?" tanya Benny khawatir ketika melihat menantunya menitihkan air mata.


"Ayah jadi kurus," jawab Safira dengan suara bergetar menahan tangisannya agar tidak pecah.


"Ayah susah makannya sejak Lo pergi," sahut Virza yang ingin membuka sifat asli ayahnya selama tidak ada Safira.


"Kenapa, Yah?" tanya Safira pada Benny dinikuti sorot mata tulus dari Safira


"Bohong si Virza. Ayah makan kok. Tepat waktu juga." elak Benny menyangkal ucapan anak semata wayangnya.


"Virza bilang makannya sedikit loh ya. Bukan bilang ayah nggak makan," sahut Virza yang merasa tertuduh dengan kalimat ayahnya.


"Udah-udah," lerai Safira. "Intinya ayah nggak makan dengan baik," kata Safira.


"Iya, ayah akui. Tapi setelah ini nggak perlu khawatir lagi. Karena kamu sudah kembali lagi," ucap Benny.


Safira mengangguk paham. Setengah hari mereka habisnya untuk berbincang. Menemani Benny makan bahkan sampai Safria tertidur dengan posisi duduk.


Sorenya, Safira di bangun kan untuk lekas mandi. Gadis itu memilih mandi di kamar mandi bawah. Dia masih merasa canggung ketika harus berduaan setelah rujuk itu.


****


Malam pertama untuk Safira pindah ke rumah keluarga Zhen setelah rujuk. Meskipun bukan pertama kali tinggal tapi kini suasana berbeda dari sebelumnya.


Setelah memastikan sang ayah tidur setelah minum obat, Safira ikut dengan Virza yang menuju kamarnya. Safira di bawa ke kamarnya sebelumnya. Tapi kini banyak berubah. Banyak keperluan wanita yang berjejer di meja rias. Baju-baju baru bergantung di dalam lemari.

__ADS_1


"Ini semua Lo yang nyiapin?" tanya Safira.


"Iya, siapa lagi?" Tukas Virza sedikit sombong.


"Bisa romantis juga," puji Safira.


Safira berjalan melihat meja rias yang sudah penuh dengan banyak produk ternama yang harganya tidak bisa di gapai oleh Safira. Menatap bayangan di cermin tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan di ikuti sebuah bibir menempel di lekukan lehernya. Bibir lembut berpindah posisi kesana kemari.


"Vir," panggil lirih Safira.


"Kenapa?" tanya Virza. Safira mencoba melepas tangan Virza dari pinggangnya. Tapi bukannya lepas malah melingkar erat hingga bagian perut.


"Kita udah bebas. Kita bisa lakuin apapun kan?"


"Tapi nggak untuk sekarang Vir," tolak Safira.


Safira memaksa badan Virza berbalik dan menatap pintu yang masih terbuka lebar. Tadi Ada dia juga lihat kalau mbok Ijah juga lewat dan tanpa sengaja melihat mereka berdua.


"Astaga...." Virza lekas menutup pintu itu.


"Ya udah lo tidur dulu," ujar Virza.


"Gue tidur sini ya," tunjuk Safira pada sofa yang dulu dia gunakan. Virza tidak menjawab malah mendekati Safira dan menariknya keatas kasur. Hingga posisi mereka sama-sama berbaring di atas kasur dengan posisi berhadap-hadapan.


"Mulai hari ini lo harus tidur di sini, tanpa ada jarak yang memisahkan kita," bisik Virza tepat pada telinganya yang membuat Safira mengidik geli."


"Ya ya.. Lo mending mandi deh," usir Safira.


"Gue mau olahraga malam dulu," goda Virza dengan mencolek pinggang istrinya itu.

__ADS_1


"Aw..." Safira kegelian.


"Gimana?" tanya Virza. Safira berlagak bloon pura-pura tidak paham.


"Apa?"


"Itu....."


"Dih... Mesum juga," cibir Safira.


"Sudah lama 'dia' menunggu," kata Virza yang lekas menyambar bibir di depannya.


****


Keesokan harinya. Safira merasa tubuhnya pegal-pegal. Dia enggan untuk bangun tidur. Berbeda dengan Virza yang sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Tidak memakai baju dan handuk putih yang dia lilitkan di pinggang menutupi sebagian kakinya.


"Gimana?" tanya Virza.


Seakan tahu apa yang di bahas suaminya. Safira tersipu menghindari sorot matanya.


"Sejak kapan lo suka sama gue?" tanya Virza dengan duduk di samping istrinya.


"Kepo loh!" hardik Safira.


"Elo juga sejak kapan suka sama gue?" tanya balik Safira.


"Kepo loh!" Balas Virza. Safira menutupi wajahnya dengan Selimut tebal itu.


Virza yang gemas dengan istrinya menarik kasar selimut itu dan menyantap bibir lembut di depannya.

__ADS_1


__ADS_2