
Bab 46
Dokter bernama Nia itu lekas mengambil ponselnya dan menelpon suaminya yang bekerja sebagai dokter di rumah sakit kota.
"Mas, aku ada pasien. Tapi dalam keadaan darurat. Tunggu aku di depan UGD."
"Ok!"
dokter wanita itu lekas menginjak pedal gas dengan kuat. Raka terdengar merintih kesakitan. Saat sampai di persimpangan, mobil milik dokter itu berpapasan dengan anak buah Broto. Beruntung mereka tidak mengetahuinya.
***
Virza menceritakan semua yang dialaminya kepada ayahnya. Dia tak lagi bisa membendung masalahnys sendiri. Karena jika Raka tidak segera ditemukan maka keputusan pengadilan atas perceraiannya akan segera digelar.
"Kenapa kamu baru ngomong ayah?" tanya Benny.
"Karena kondisi ayah sangat penting bagi Virza," jawab Virza sedih.
"Kondisi ayah memburuk karena ini," tunjuk Benny. Virza bingung lantaran ayahnya menunjukkan sebuah botol obat yang biasa di minum.
__ADS_1
"Itu kan obat yang biasa ayah minum?"
"Bener, Tapi itu sudah ayah tanyakan kepada beberapa teman ayah kalau isinya tidak sesuai dengan apa yang tertera."
"Ha!" Virza terkejut. "Maksud ayah isinya diganti?" tanya Virza lebih lanjut.
"Iya, dokter Andri sendiri juga bilang," ucap Benny dengan serius.
"Bagaimana ayah tahu ini penyebabnya?".
"Banyak kejadian setiap ayah selesai minum obat ini." Benny mulai menceritakan semua kepada Virza "Ayah konsultasi kepada Dokter Andri. Awalnya dia tidak setuju dengan dugaan ayah. Tapi setelah ayah menjelaskan kepadanya. kalau selama ini tidak pernah ada efek samping berlebih setelah minum obat darinya. Membuatnya berfikir lagi. Lalu ayah meminta dokter Andri melihat sendiri obat yang ayah minum. tenyata itu obat malah akan melemahkan jantung. Karena obat ini di larang di konsumsi oleh penderita jantung seperti ayah," jelas Benny.
"Itu keluarga punya penyakit hati semua kayaknya!" hardik Virza mulai kesal yang curiga kepada Agnes.
Seakan mengerti arti pesan itu Virza lekas keluar dari kamar ayahnya dan meninggalkan Benny yang hendak beristirahat.
****
Sedangkan disisi lain. Raka sudah mendapatkan penanganan khusus. Beruntung Dokter Nia sudah menanganinya lebih dulu. Raka yang sudah mulai sadar harus menahan sakit yang hebat. Dia hanya ingat nomor hp ayahnya, jadi agar ayahnya tidak khawatir ia menelpon ayahnya dengan pinjam HP milik suster yang sedang melihat selang infus itu.
__ADS_1
Dengan suara pelan tanpa tenaga, Raka mengatakan nomor hp ayahnya kepada suster yang sedang bertugas.
"Hallo. Selamat malam. Apa benar ini keluarga saudara Raka?" tanya suster itu dengan ramah. Saat bersaman dokter Nia memasuki ruangan Raka bersama suaminya.
"Saya dari rumah sakit Media center. Saudara Raka sedang di rawat. Mohon segera datang," jelas Suster yang masih menempelkan hpnya di telinga.
"Baik, pak. Saya tunggu kedatangannya.". Panggilan itu berakhir.
"Apa itu keluarga pasien?" tanya suami dokter Nia.
"Iya, Dok. Mereka akan segera datang," jawab suster itu dengan tegas.
"Kalau begitu keluar lah dulu," suruh suami dokter Nia dengan pelan.
Lalu dia melakukan komunikasi kecil kepada Raka. dia takut jika Raka seorang buronan atau seorang Sandra yang membutuhkan bantuan.
Dengan pelan Raka menceritakan semuanya. Hingga dokter Nia tahu jika memang ada kebakaran tak lama ini. Tapi tak ada korban jiwa saat di cek. Tapi warga mengatakan jika kebakaran karena lahan sawah yang kosong hanya ada jerami kering bertumpuk .
Raka di minta untuk mengingat semua kejadian. Tapi dia tidak bisa mengingat wajah mereka. Hanya saja dia berhasil merekam percakapan para pelaku dalam hpnya yang mati.
__ADS_1
Suami dokter Nia membantu melihatnya dan akan mencoba membenahinya. Sementara itu dokter Nia menemani Raka sampai keluarganya datang.
Tak lama Virza dan Safira datang terlebih dahulu. Karena saat menerima telepon Safira ada di rumah Raka. Kondisi ayah Raka menjadi lemah. Hal itu membuat Safira memilih untuk pergi ke rumah sakit lebih dulu. Tak lupa dia juga mengirimkan pesan kepada Virza agar dia juga ikut datang ke rumah sakit.