
Bab 54
Raka di panggil lebih dulu. Dia menunggu Safira di luar gedung aula untuk melakukan sesi foto bersama. Saat tengah menunggu, Virza sudah memantau dari kejauhan.
Saat sasha dan Safira keluar dari aula langkahnya terhenti ketika melihat Raka berdiri menunggunya.
"Lo udah selesai Saf?" tanya Raka.
"U-udah," jawab Safira gugup.
"Lo kenapa?" tanya Raka khawatir melihat Safira yang gugup.
"Nggak, gue nggak apa-apa," jawab Safira.
"Oh ini ya yang jadi gosip kampus katanya jadi janda setelah wisuda," cibir seorang ibu yang menatap Safira sinis. Anaknya yang berada di sampingnya lekas menarik tangan sang ibu untuk menjauh sebelum terkena masalah.
"Tunggu!" Safira menghentikan langkah mereka.
"Saf, sorry. Ibu gue nggak sengaja itu tadi. Maaf ya," kata gadis yang merasa bersalah kepada Safira.
"Pasti ibu Lo tahu juga dari mulut elo kan?" tanya Safira tegas.
"Iya, tapi gue akan jelasin ke dia kok," kata gadis yang masih memakai pakaian khas wisuda dan Toga di tangannya.
"Kenapa emang? Kalau benar mah nggk perlu marah, anak saya cerita juga buat pengalaman dia biar nggak kayak kamu," sahut sang ibu.
"Astaga, Bu. Udah. Jangan ngomong lagi," bisik sang anak.
__ADS_1
"Kenapa sih, kamu kok takut sama dia?" tanya sang ibu. "Kalau dia berani mukul biar saya laporkan polisi," imbuhnya.
"Ibu..." Sang anak merasa geram dengan tingkah sang ibu.
"Bagaimana orang tuamu mendidik. kok jadi kayak gini," cibirnya. Seketika wajah Safira terangkat. Matanya menatap tajam ke arah ibu itu.
"Apa tante merasa bisa mendidik anak Tante ini?" tanya Safira.
"Tentu, nyatanya dia bisa di titik ini, dan masa depan yang cerah." jawabnya percaya diri.
"Oh iya? Kalau anda berhasil setidaknya dia tidak pernah ikut campur urusan orang lain. Tidak ikut menjadi biang gosip." tukas Safira sinis.
"Itu bukan gosip, tap––"
"Oh, saya lupa. Ada pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," potong Safira.. "ini contohnya," imbuhnya dengan menunjuk wanit di depannya.
"Kamu!" wanita itu nampak geram dan mengayunkan tangannya. Beruntung Virza menghalanginya dengan berdiri tepat di depan Safira dan Raka menahan tangan itu.
"Ini area kampus. Jangan buat keributan," ucap datar Virza yang menatap tajam wanita di depannya. Hingga membuat sang anak ketakutan dan lekas menarik tangan ibunya.
"Huh!" ibu-ibu itu menghempaskan tangannya. Lalu di bawa pergi oleh sang anak.
Tidak hanya itu. Dia masih terus mengoceh dan mengancam mereka semua akan di laporkan ke kantor polisi. Tapi dia lupa jika dia yang memulai.
"Saf, Lo nggak apa-apa?" tanya Virza dan Raka bersamaan.
Safira menatap mereka berdua dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Ikut gue," ajak Raka menuju tempat foto.
Demi menghibur suasana hati Safira, Raka mengajaknya bersua foto ria untuk mengabadikan momen mereka. Mereka berempat nampak sangat bahagia. Virza mengambil buket bunga yang telah dia siapkan.
"Saf!" panggil Virza. Safira menoleh dan melihat pria yang memanggilnya tengah membawa bunga. Dengan langkah percaya diri Virzha mendekati Safira. Seketika semua berhenti pose.
"Ini buat lo," kata Virza. Di tengah buket bunga banyak foto kenangan yang di ambil diam-diam oleh Virza. Hal itu membuat Safira terkejut. Dia tidak menyangka jika suaminya juga diam-diam memperhatikannya. Dengan senyum bahagia Safira mengambil bunga itu.
Raka yang cemburu lihat mereka berdua lekas menarik tangan Safira.
"Saf ikut gue," ajak Raka.
"Gue belum selesai," sahut Virza yang menghentikan Raka. Tangannya juga menarik lengan Safira.
"Ada yang mau gue omongin," tukas Raka.
"Gue juga," kekeh Virza.
"STOP!!" lerai Safira.
"Mumpung gue disini, Lo mau ngomong apa?" tanya Safira pada Virza.
"Lo mau gue ngomong disini?" tanya Virza.
"Iya, semua orang udah tahu tentang kita, jadi nggak perlu sembunyi lagi," jawab Safira.
"Oke," kaya Virza seraya mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya dan di berikan kepada Safira. Lalu gadis itu lekas membuka dan membacanya.
__ADS_1
Matanya membulat besar menatap kertas dan Virza bergantian.
"I-ini? Maksudnya apa?" tanya Safira. "Lo narik perceraian ini?" imbuhnya terkejut. Juga membuat ketiga sahabatnya terperanjat. Mereka merebut kertas dari tangan Safira dan membacanya sendiri. Raka menatap tajam kearah Rivalnya. Tangannya menggenggam erat cincin yang ada di sakunya.