
Bab 44
Api mulai berkobar. Raka mengalami sesak napas hebat saat asap mulai menusuk hidungnya. Tidak hanya itu. Api mengenai tangan dan kaki Raka membuat pria itu meringis kesakitan.
Virza tidak bisa menolak ajakan Agnes. Mekipun gadis di sebelahnya sangat menikmati film. Tidak dengan Virza.
"Nes, kita udahan yuk nontonnya, gue mau ada urusan mendadak." Virza mencoba mengajak Agnes pulang.
"Ya ampun. Masih juga sore." Agnes merasa keberatan dengan ajakan Virza. Dia ingin pergi makan dan menghabiskan waktu dengan Virza lebih lama. Meski mengundang perdebatan panjang. Akhirnya Agnes mengalah untuk pulang setelah menonton film.
Saat Broto dalam perjalanan pulang. Dia melihat ada gadis yang sangat mirip dengan Safira turun dari bis. Dia lekas mengehentikan mobilnya yang sudah melewati gadis itu beberapa meter. Saat menyusulnya gadis itu sudah tidak ada. Tapi Broto yakin jika dia melihat Safira tengah turun dari bis dan menyebrang ke arah kampus.
Broto memang ada di balik ini semua. Tapi tidak ada yang tahu alasan pria itu hingga dengan kejam menghalalkan segala cara.
"Ke kampung bebek." Broto meminta sopirnya menuju kosan Sasha yang lama. Dia mengepalkan tangannya geram. Padhal semua informasi sudah dia dapat jika gadis itu tidak selamat. Bahkan Virza juga mengatakan kalau Safira sudah tidak pernah dia temui lagi.
Setelah sampai di tempat yang sudah porak poranda itu. Broto menanyakan kepada orang sekitar.
__ADS_1
"Permisi," Broto turun sendiri untuk menanyakan kepada warga." apa kebakaran ini memakan korban jiwa?" tanya Broto.
"Iya, dua."
Deg!
Broto terkejut. "Lalu tadi siapa?" tanyanya dalam hati.
Safira memang ke kampus setelah dari rumah sakit. Ingin menemui Virza untuk menanyakan keberadaan Arga. Karena hp yang di berikan oleh Virza baru. Membuatnya tidak bisa menghubungi Virza. Mau tidak mau dia harus datang ke kampus.
Begitu pula dengan Broto. karena mendapatkan informasi yang cukup memuaskan dia langsung pulang begitu saja. meskipun masih memikirkan sosok wanita yang sangat persis dengan Safira. Demi memastikan dugaannya benar, Broto ingin menanyakan kepada Virza secara langsung.
Benar saja tak lama Virza datang mengantarkan Agnes.
"Vir!" panggil Broto. Virza yang awalnya ingin langsung pergi kini harus menghadap kepada Broto.
"Vir, ada yang harus saya tanyakan," kata Broto ketika semua susah duduk di rumah tamu dengan wajahnya yang serius. "Apa kalian akan segera menikah?" tanya Broto.
__ADS_1
Deg!
"Kenapa nih? Kok jadi gini? Apa dia sudah tahu semuanya?" batin Virza.
"Menunggu keputusan saja, kebetulan Safira tidak datang sidang, jadi akan lebih cepat prosesnya," jawab Virza.
"Apa gadis itu tidak pernah datang ke rumah lagi?
"Tidak, bahkan saat ayah menghubunginya. Nomornya tidak aktif. Waktu itu ayah sempat drop, sampai sekarang sih. Kadang suka nanyain Safira," jelas Virza.
Kini Broto yakin bahwa dia hanya salah lihat saja. Semua orang tidak ada yang mengetahui Safira. Jadi ini artinya Safira sudah menjadi jasad.
Setelah pulang dari rumah Broto. Virza kembali datang ke rumah Raka. Tapi saat di tengah perjalanan dia merasa sendang di ikuti oleh seseorang. Dengan cepat dia memutar stir bundarnya dan berhenti di toko buah. Virza sengaja membeli buah untuk mengelabuhi mereka.
Alex yang ada di dalam jeruji besi juga mengalami intimidasi dari anak buah Broto agar tidak membuka suara sedikitpun. Alex tidak punya pilihan lain selain diam dan mengiyakan semua yang mereka katakan. Tapi Alex sudah di bekali alat rekam yang di berikan oleh Virza. Setiap ada yang berkunjung, Alex selalu merekam percakapannya. Terlebih saat anak buah Broto yang datang .
Bukti sudah cukup banyak. Kini Virza harus menemukan Raka untuk memberikan sentuhan akhir dalam rencananya. Tapi kini keberadaan Raka menjadi misterius.Virza mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada orang tuanya. dia tidak ingin membuat orang tua Raka menjadi khawatir.
__ADS_1