
Bab 39
"Kenapa lo kesini?" tanya Raka saat melihat Virza memasuki ruangan safira.
"Elo yang kenapa disini? Lo lihat semenjak Safira dekat sama lo dia sering celaka," ucap Virza dengan kesal dan menarik kerah Raka begitu saja.
"Lo ngaca! Ini semua pasti ada sangkut pautnya sama lo!" elak Raka melepas tangan Virza dari kerahnya dan balik menyalahkan Virza.
"Jangan asal tuduh Lo!"
Suara mereka membangunkan Safira. Dengan mata yang sayup Safira memaksa matanya lekas terbuka. Dia melihat dua pria tengah beradu argumen.
Saat bersamaan ponsel Raka menyala tanpa suara di atas meja. Dia melihat nomor asing tertera di layar hpnya. Raka meraih hp itu dan keluar dari ruangan tempat Safira di rawat.
"Saudara Raka. Apa saudari Safira bisa di mintai keterangan?" tanya pihak polisi.
"Sepertinya jangan dulu ," larang Raka. "Apa ada perkembangan?" tanya Raka.
__ADS_1
"Ya! Kami mencurigai seseorang. Tapi kami harus pastikan dahulu siapa orang tersebut. Mengenal korban atau tidak." polisi itu menjelaskan kepada Raka.
Polisi juga tidak bisa mengatakan terduga pelaku kepada Raka sebelum meminta keterangan kepada korban. Sejauh ini hanya Sasha yang bisa di mintai keterangan. Sasha berada di ruang rawat bersama Rafa. Kedua orang tua Sasha juga baru saja sampai. Sedangkan orang tua Raka masih ada di luar kota. Raka sendiri meminta mereka untuk tidak pulang. Karena kesehatan ayahnya juga tidak stabil.
Raka memberikan waktu kepada Virza. Meskipun begitu Raka tidak mau beranjak dari ruang tunggu yang ada di depan kamar Safira.
Setelah beberapa saat Virza keluar. Dia dengan wajah menahan marah melewati Raka begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Raka lekas masuk dan melihat keadaan Safira yang ternyata seperti habis menangis.
"Saf, Lo kenapa?" tanya Raka mendekat kepada Safira.
"Lo diapain lagi sama dia? Biar gue kasih pelajaran dia." ucap Raka hendak menyusul Virza.
"Jangan!" cegah Safira dengan meraih tangan Raka.
Safira tidak ingin terjadi perkelahian lagi antara mereka berdua. Terpaksa dia menceritakan semua yang dia katakan kepada Virza barusan.
Safira meminta Virza untuk menjauhinya. Karena dia mendapatkan ancaman dari seseorang yang tidak dia kenal. Sebelum kejadian Safira mendapatkan sebuah bingkisan yang berisi boneka rusak, sesaat pulang dari rumah Virza. Awalnya Safira tidak peduli dengan kiriman itu. Tetapi tengah malam Safira mendapatkan pesan dari nomor tidak di kenal yang berisi ancaman untuknya jika dia terus mendekati Virza. Akan tetapi Safira sudah tidur. Mungkin orang tersebut mengira jika Safira mengabaikannya. Padahal Safira mengetahui pesan itu saat api sudah mulai berkobar di depan kosnya, banyak orang sudah berkumpul dan berteriak di depan kos Saat hendak meminta bantuan Safira baru melihat pesan tersebut.
__ADS_1
Ancaman tersebut sangat ketara jika berasal dari Agnes. Siapa lagi yang menjadi rival Safira dalam masalah Virza. Maka dari itu Safira meminta Virza untuk menjauhinya. Karena ancaman itu bukan hanya sekedar gertakan.
Itulah penyebabnya Virza keluar dari kamar Safira dengan keadaan marah. Setelah mendengar cerita dari Safira, Raka meminta Safira untuk memberikan keterangan kepada pihak kepolisian. karena penyelidikan sudah mulai dilakukan dan menemukan terduga pelaku.
"Tapi gue nggak mau menyebut nama Agnes," kata Safira kepada Raka yang selalu menggenggam tangannya.
"Lo nggak perlu menyebut nama seseorang karena memang lo tidak memiliki bukti. Tapi lo bisa menceritakan apa yang lo alami sebelum kejadian," saran Raka.
Setelah kesepakatan mereka berdua polisi datang untuk meminta keterangan kepada Safira. Tetapi pernyataan dari polisi membuat Safira sedikit tercengang. Karena hasil dari penyelidikan mengatakan jika pelaku adalah seorang laki-laki. hal itu diusir dari nomor polisi yang terekam di CCTV salah satu toko ujung gang.
"Bima!" ucap Safira bingung. Dia sama sekali tidak memiliki teman atau kenalan yang bernama Bima.
"Bisa jadi itu orang suruhan dari pelaku aslinya," sahut Raka.
"Sesuai data dia pemilik dari mobil tersebut. pantauan hari ini mobil tersebut masih berada di kediaman Bima." jelas polisi. "Tim kami juga sedang memantau kediaman terduga pelaku," imbuhnya.
Kini Safira merasa bersalah karena sepertinya dugaannya salah. Mungkin ada orang lain yang ingin Safira pergi dari hidup Virza.
__ADS_1