
Bab 45
Safira yang tidak mengetahui rencana Virza dan Raka. Dia Mendatangi rumah Raka begitu saja untuk menanyakan keadaan Raka. Tetapi kedatangannya malah membuat keluarga sahabatnya itu bingung.
"Saya kira dia menginap di rumah itu, karena pikir saya pikir dia mau berkumpul sama teman-temannya, terlebih ini untuk semester terakhir," kata pria yang terlihat tidak terlalu bagus kesehatannya.
"Bisa jadi di teman yang lain, om. Karena Raka juga bilang kalau mau ngerjain skripsi di rumah temannya," ucap Safira. "Tapi Raka ngomong itu udah lama, saya kira udah nggak jadi." lanjut Safira.
"Tapi kenapa dia nggak pulang lama sekali, besok akan saya coba tanyakan orang kantor juga," kata ayah Raka.
Karena Raka tidak ada. Safira lekas berpamitan untuk pulang. Saat bersamaan Virza sudah ada di depan rumah Raka. Membuat gadis itu sedikit kagok.
"Apa Raka ada didalam?" tanya Virza. Safira menggelengkan kepalanya.
Virza lekas menarik tangan Safira masuk ke mobilnya. karena takut ada yang melihatnya. Tingkah Virza semakin membuat Safira bingung. Mau tidak mau membuat Virza menceritakan semua rencananya.
"Terus gue harus gimana?" tanya Safira setelah mendengar semua cerita dari Virza.
"Untuk sementara lo lebih banyak di rumah aja, gue akan mengurus semuanya," jawab Virza. "Satu lagi, untuk perceraian itu lo nggak usah pikirin. Itu hanya salah satu rencana dari kita," imbuhnya.
Safira kini bingung dengan hubungannya dan Virza. tapi dia juga khawatir dengan Raka. Sesampainya mengantar Safira hingga depan rumahnya, Virza memastikan tidak ada yang mengikutinya.
"Lo cepat masuk. Jangan buka pintu kalau ada yang datang selain gue," ucap Virza. Safira mengangguk dengan paham.
__ADS_1
Saat memasuki rumah. Safira lekas menceritakan semua kepada Sasha agar dia juga waspada. Sasha juga sama terkejutnya saat mendengar cerita itu. Bahkan dia menjadi takut untuk tidur sendiri. Sejak malam ini mereka tidur satu kamar.
***
Seorang warga menemukan pria dengan tubuh penuh luka dan terkapar di sebuah persawahan.
"Ini mayat atau orang pingsan?" tanya salah satu dari mereka yang mencoba mengumpulkan niatnya.
"Coba lo cek," suruh salah teman yang lain.
"Nggak ah takut. Bagus kalau mati, kalau bangun kayak zombie gitu gimana? Belum nikah nih gue," sahut pria yang mulai menjauh dari tubuh pria yang tak sadarkan diri itu.
"Elo mah kebanyakan nonton, itu cuma ada di film, mana ada di dunia nyata," laki-laki yang lebih dewasa itu.
"Masih hidup! Masih hidup!" seru mereka tergopoh-gopoh. Mereka berdua lekas membawa pria tak berdaya itu dengan membopongnya.
Mereka membawa ke sebuah Puskesmas tak jauh dari tempat menemukannya.
"Bu dokter... Bu dokter!" panggil dua pria itu dengan keras beruntung tidak ada warga yang terganggu.
"Kenapa mang?" tanya dokter itu dengan ramah.
"Itu ada orang pingsan," tunjuk pria yang masih menggunakan sarung dan kaos oblong itu.
__ADS_1
Dengan tergopoh-gopoh dokter itu segera menuju tempat pria tersebut menunjuk. Terlihat seorang pria tak sadarkan diri itu dengan luka yang serius.
"Cepat bawa masuk!"
"Raka!" dokter itu membaca identitas yang tanpa sengaja keluar dari dompet pria itu.
Ya! Raka ditemukan oleh warga sekitar dalam keadaan sedikit memprihatinkan. Luka pada tangannya cukup serius. Hingga setelah memberikan obat dokter itu menghubungi rumah sakit kota untuk merujuk pria yang bernama Raka itu.
"Mang, boleh saya bicara?" tanya dokter itu.
"Apa Bu dokter?"
"Kalau ada yang tanya menemukan orang atau tidak tolong jawab tidak saja. Karena lukanya tidak terlalu berbahaya. Kemungkinan dia akan tetap selamat."
"Tapi kenapa Bu Dokter, kita tidak boleh ngomong kalau menemukan orang itu?"
"Karena melihat kondisi pria tersebut, saya mengira jika dia sengaja ditinggalkan."
"Ini artinya dia mau di bunuh?"
"Lebih baik kita menunggu orang itu sadar dulu, nanti akan saya bawa ke rumah sakit kota."
Setelah mobil milik dokter itu berjalan meninggalkan puskesmas. Dia melihat tiba-tiba pasiennya mengalami sesak napas hebat. Dokter itu mulai kewalahan.
__ADS_1
"Astaga, kenapa jadi serius seperti ini?" gumam dokter itu bingung. Dia takut jika pria itu kenapa-napa.