Pernikahan Rahasia Sang Dosen

Pernikahan Rahasia Sang Dosen
Ke Bali


__ADS_3

Bab 59.


Dengan napas terengah-engah Safira dan Virza berhenti di depan rumah. Mereka habis melakukan joging sore mengelilingi taman. Virza mengelap keringat istrinya yang membasahi paras cantiknya. Mereka sebisa mungkin menghabiskan waktu untuk bersama. Karena Safira menolak untuk pergi bulan madu. karena sang ayah belum pulih sepenuhnya. Dia juga tidak bisa meninggalkannya.


"Nih, Minum." Virza memberikan sebotol air mineral kepada istrinya.


"Thanks."


"Kenapa sih nggak mau liburan?" tanya Virza dengan memainkan rambut istrinya.


"Kondisi ayah tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh, Vir," kata Safira.


"Tapi kita belum honeymoon," kata Virza.


"Dih, jangan kayak pengantin baru ya," hardik Safira. "Orang nggak honeymoon aja Lo main nempel mulu, apa lagi honeymoon pulang-pulang jompo kaki gue," imbuh Safira.


"Mana ada?" Virza berkilah. gelak tawa terjadi.


Sepasang mata melihat mereka berdua merasa senang. Benny konsultasi dengan Andri untuk kesehatannya jika dia ingin liburan. Andri mengatakan jika itu tidak apa-apa.


Tapi Benny mempunyai rencana lain. Agar anaknya bisa berangkat liburan.


Saat malam malam tiba,


"Safira, kalian harus menghadiri undangan dari teman ayah," kata Benny.


"Oh, undangan apa yah?" tanya Safira dengan santai.


"Pernikahan, ada di Bali sana."


"Ha! Jauh sekali." Safira terkejut mendengar alamat undangan itu. "Ya nggak mungkin lah Yah kita kesana," imbuhnya.

__ADS_1


"Nggak mungkin juga kalau tidak ada yang menghadiri pernikahan itu," sahut Benny. Virza hanya diam. dia tahu jika ini hanyalah alasan ayahnya.


"Virza aja yang datang," tukas Safira.


"Uhukk!" Virza tersedak karena suara Safira barusan.


"Kalau gue yang datang ya harus sama elo," sahut Virza.


"Mana ada. Undangan juga tidak harus bawa pasangan," kaya Safira.


"Ya udah nggak usah datang, kesehatan ayah memang tidak bisa pergi jauh. Ayah pikir kalian bisa mewakili ayah," sahut Benny yang terlihat kecewa. Safira merasa tidak enak melihat raut wajah Benny.


"Emang kapan yah undangannya?" tanya Safira lirih.


"Minggu depan," jawab singkat Benny.


"Ya udah, Safira mau." Safira terpaksa mengiyakan.


"Lo kenapa senyum-senyum?" tanya Safira ketus saat melihat suaminya cengingisan.


"Mana orang senyum? Nih gue makan," jawab Virza yang lekas merubah wajahnya agar terlihat serius.


"Kamu beneran mau?" tanya Benny yang mengalihkan pandangan menantunya.


"Iya, Yah. Tapi Ayah janji harus melaporkan apapun yang ayah lakukan selama Safira nggak ada," jawab Safira. Benny mengangguk setuju.


"Undangannya berapa hari Yah?" tanya Virza basa-basi.


"Dua hari," jawab singkat Benny.


Setidaknya Virza bisa bulan madu berkedok undangan dengan Safira. Jika terlalu lama juga akan membuat istrinya curiga.

__ADS_1


Makan malam selesai. Semua kembali ke kamar masing-masing. Tidak hanya Virza yang sedang bahagia. Benny juga. Dia menari kecil di kamarnya untuk mengekspresikan kesenangannya.


Setelah berhasil membuat menantunya pergi bulan madu yang tertunda. Benny mencari alasan untuknya jika sampai di Bali tidak ada acara pernikahan.


Benny tentu saja akan menyetujui ide Virza ini. Karena dia ingin segera mendapatkan cucu.


Virza melihat wajah murung istrinya membuatnya ingin menghiburnya. Tapi dia bingung menghibur istrinya dengan cara apa.


"Saf, sini!" suruh Virza yang duduk di sofa.


"Bentar," sahut Safira yang masih menatap cermin dengan wajah sendunya.


"Kalau Lo nggak mau, harusnya Lo nggak usah terima lah tadi," kata Virza.


"Itu teman Ayah. Gimana mungkin nggak datang. Tapi yang jadi masalah ayah sendiri di rumah," jelas Safira.


"Ada mbok Ijah ada mbak-mbak yang lain juga," tukas Virza.


"Udahlah jangan sedih-sedih. Ayah nggak apa-apa," kata Virza seraya memeluk tubuh istrinya.


Safira merasa ada yang tidak beres dengan tingkah Virza dengan cepat dia berbalik dan mengacungkan jari telunjuknya.


"Stop berkeliaran tangannya!" tegas Safira. "Lo tadi udah janji nggak ada jatah malam kan? Lo udah minta tadi siang," imbuh Safira.


"Itu becanda, hawanya mendukung loh, Sayang." rengek Virza.


"Tadi siang hukuman, sekarang jatah tetap," kata Virza yang meraih tubuh istrinya.


"Nggak, Lo tadi nggak bilang gitu." Safira mendorong pelan tubuh suaminya.


"Oke-oke, malam ini Lo lolos," kata Virza mengalah. "Tapi tidak untuk besok." imbuh Virza.

__ADS_1


"Lo harus senyum dulu, kalau nggak...." Dengan cepat Safira tersenyum terpaksa sebelum keadaan akan menjadi penuh keringat.


__ADS_2