Pernikahan Rahasia Sang Dosen

Pernikahan Rahasia Sang Dosen
Kembar


__ADS_3

Bab 62


Safira tersadar melihat langit-langit ruangan khas rumah sakit. Dia melihat suaminya sedang berbicara dengan dokter.


"Vir!" panggilnya lirih. Virza yang mendengar itu lekas menghampiri istrinya yang menatapnya dengan sayup.


"Saf, akhirnya kamu sadar, sayang" ucap Virza yang nampak sangat lega dan bersikap lebih lembut


"Gue kenapa, Vir?" tanya Safira kebingungan dengan kejadian sebelumnya. Tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba dia ada di rumah sakit.


"Tadi kamu pingsan pas kita mau balik ke hotel," kata Virza.


"Tadi emang sih perut dan badan gue rasanya nggak karuan," ujar Safira.


"Kok nggak bilang?" tanya Virza dengan nada protes karena istrinya tidak mengatakan sejak awal.


"Ya mungkin karena kecapekan lah," jawab Safira datar. Dia merasa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Harusnya apa-apa tuh bilang, untung rumah sakit dekat. Kalau nggak si kembar bakal nggak ketolong," ujar Virza.


Safira nampak bingung dengan ucapan suaminya.


"Si kembar?" ulang Safira bingung.


"Iya, disini ada si kembar," kata Virza dengan mengelus perut Safira.


"Ma-maksud lo... Gue hamil?" tanya Safira tidak percaya.


"Ya, sayang kamu hamil. Aku bakal jadi ayah. Kamu hamil anak kembar, sayang!" seru Virza.


"Gue nggak percaya, cubit gue!" suruh Safira untuk memastikan dia tidak sedang mimpi.

__ADS_1


Cup...


Bukan mencubit, Virza malah mengecup bibir istrinya.


"Hih! Gue suruh lo cubit," protes Safira. Meskipun begitu Safira merasa senang karena ini artinya tidak sedang mimpi.


"Makasih, sayang. Aku janji bakal jaga kami dan anak-anak kita lebih baik lagi," ujar Virza dengan memeluk istrinya penuh kasih sayang.


"Vir, gue masih nggak percaya. Semua seperti mimpi, Vin." ucap Safira dalam pelukan suaminya. Safira terisak menangis haru. Diam-diam Virza juga merasa terharu dengan momen ini. Dia tidak menyangka bisa mendapatkan kabar kehamilan secepat ini.


Setelah konsultasi dengan dokter. Safira dan Virza di perbolehkan pulang. Safira istirahat di hotel untuk satu malam. Tiket yang dia pesan untuk besok pagi.


"Berarti waktu di pesawat kemarin mual karena ini," ucap Virza seraya mengelus perut istrinya.


"Iya, gue udah terbiasa mens lewat tanggal atau sebelumnya. Jadi gue kira ya ini telat. Ternyata udah empat minggu aja," kata Safira senang.


Virza meraih foto USG yang menunjukan dua kantong janin. Mereka sudah tidak sabar membagi kebahagiaan dengan ayah mertuanya. sikap Virza jauh lebih lembut dan memanggil dengan sayang kepada istrinya sejak mengetahui istrinya hamil.


Diam-diam dia membaca banyak artikel mengenai ibu hamil.


"Morning sickness lebih parah?" gumam Virza saat membaca artikel itu.


"Kelahiran prematur?" ucapnya lirih saat membaca poin berikutnya. "Prematur yang lahir sebelum saatnya kan? Berati harus siap siaga dong," imbuhnya. Virza bicara sendiri dalam sunyinya kamar.


Karena kehamilan istrinya Virza mendadak menjadi pembaca buku ibu hamil. Dia ingin merawat Safira dengan baik. Bahkan dia memesan buku secara online tentang ibu hamil.


Keesokan harinya Virza dan Safira sudah tiba di bandara. Virza menarik koper dan tas milik istrinya. Dia benar-benar menjadi sangat protektif kepada istrinya bahkan dia sudah menyiapkan masker doble untuk berjaga-jaga jika hal seperti sebelumnya terjadi.


Selama perjalanan Safira memilih untuk tidur. Saat memasuki pesawat dia sudah mulai mual tapi berusaha semaksimal mungkin untuk menahannya. Sejak bangun tidur dia sudah bolak balik ke kamar mandi.


Dua jam berlalu. Safira terbangun saat suara para penumpang mulai berjalan keluar. Virza sengaja ingin keluar paling akhir agar istrinya tidak berdesak-desakan.

__ADS_1


"Udah sampai?" tanyanya.


"Udah, langsung tunggu di ruang tunggu. Biar aku ambil dulu kopernya," jawab Virza.


Dengan patuh Safira menunggu di ruang tunggu. pak imam, supir pribadi ayahnya sudah datang. Dia lekas berlari menuju Virza yang menarik koper dan tas jinjing milik majikannya.


Perjalanan tidak terlalu ramai, Virza dan Safira sampai di rumah dengan cepat. Sesampainya di rumah Virza memberikan beberapa oleh-oleh yang di pesan secara online oleh Virza di antar ke hotel tempat mereka menginap.


"Ayah buka dulu," kata Safira dengan bahagia.


"Wah, ini pie kesukaan ayah!" seru Benny. Pria itu lekas membuka pie tapi saat hendak melahapnya tangannya terhenti karena ada sesuatu di dalam kardus pie itu.


"Ini USG siapa?" tanya Benny menatap mereka berdua bergantian.


"Ayah tebak dong," ledek Virza.


"Vir....." Benny menatap Virza tajam.


"Iya-iya, yah." Virza mengalah. "Ayah mau punya cucu," ungkap Virza.


"Ha! Kamu nggak lagi ngerjain ayahkan?" tanya Benny tidak percaya. "Safira?" Benny beralih menatap Safira.


"Iya, yah. Beneran."


"Akhirnya... Punya cucu!" seru Benny.


"Tapi kok kantong janinnya kayak dua ya?" Benny menyadari hasil USG itu ada yang berbeda.


"Iya, Yah. Kembar," sahut Safira.


Kegembiraan semakin bertambah ketika mendengar itu.

__ADS_1


"Kalian mau jadi orang tua kalau manggil tuh yang romantis, jangan Lo gue-lo gue lagi," ujar Benny menasehati mereka. Safira merasa tersindir karena sejak mengetahui dirinya hamil Virza sudah berubah lebih romantis dan lembut. Tapi Safira masih tetap sama.


__ADS_2